Beberapa hari lalu saya dilanda kepanikan. Saya sedang duduk di lantai, melipat lutut sambil memandangang tanaman hias yang baru saja saya beli dan letakkan di balkon apartement. Ada cemara, ekor tupai, beringin kupu-kupu, sri rejeki. Di dekat saya ada segelas kopi panas yang membuat pagi terasa baik-baik saja. Sedang menikmati hari dengan tenang, tiba-tiba perasaan berganti kepanikan saat saya melihat selembar daun gugur.

Mata saya langsung melotot melihat daun berwarna hijau kekuningan itu. Saya mengingat-ingat apa yang saya lakukan beberapa hari belakangan ini, apakah saya sudah menyiram tanaman sesuai waktunya, apakah saya sudah memasang media tanam yang benar, apakah saya sudah meletakkan tanaman di posisi yang tepat.

Saya kemudian menelepon teman saya, mengabarkan berita menegangkan ini serta bertanya apa yang harus saya lakukan dengan pepohonan ini. Saya merasa bersalah melihat daun gugur. Ia hanya terkekeh-kekeh, menjawab kepanikan saya: “Sudah, tidak perlu stress!” katanya.

Bagi saya, ini pertama kali merawat tanaman. Tidak pernah terpikirakan untuk merawat tanaman karena merawat diri sendiri saja sudah susah (hehe). Pengalaman selama pandemi, juga pengalaman membeli properti pertama di tengah krisis, mengantar pada keputusan besar untuk merawat kehidupan. “Beli tanaman sana, biar lo nggak merasa sendirian. Kalau lo gak suka, potnya bisa untuk ganjal pintu,” saran teman saya itu.

Keputusan membeli tananaman tentu menjadi terobosan. Beberapa orang tertawa melihat saya membeli sri rejeki dan kawan-kawan. Bahkan, ada yang berkomentar: “Awas, jangan sampai mati!” HAHAHA. Sama seperti dia, saya juga sanksi dengan keandalan dalam merawat.

Seorang kawan sudah mengingatkan sejak jauh-jauh hari: “Tidak perlu merasa kacau kalau ada tanaman yang mati. Setiap rumah memiliki kondisi cahaya dan udara yang berbeda. Cara merawat tanaman juga berbeda, jadi tidak perlu terlalu risau,” katanya.

Terkadang, memang kita menanamkan beban pada diri sendiri yang sangat menyiksa. Keputusan merawat tanaman diiringi dengan target bahwa semua tanaman harus tumbuh subur menjadi ganjalan pikiran. Padahal, tidak semua percobaan pertama berbuah keberhasilan. Bisa jadi apa yang kita rawat suatu hari retak, rusak, bahkan menemui ajalnya. Yasudah… mau diapakan lagi.

Pagi itu, setelah menutup telpon, saya kembali memandang daun yang gugur. Mengapa saya membuat pengalaman daun gugur ini menjadi sangat personal? Secara tergesa saya menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu merawat sesuatu. Padahal, tidak semua hal terjadi karena salah seseorang, pun salah saya, atau keadaan. Suatu persitiwa bisa saja terjadi jadi karena memang demikianlah yang diinginkan alam semesta.

Seperti daun gugur ini, ia hanya sedang memenuhi siklus kehidupan, yakni tumbang, patah, tumbuh, hilang, dan berganti. Ia sedang memenuhi takdirnya, melepaskan diri dari batang tanaman, menyatu dengan tanah, serta mengisi bumi dengan kesuburan baru.

“Maka lepaskanlah, tidak ada yang perlu disesali ketika memang sudah waktunya pergi…”

Jakarta Barat, 2 November 2020