“Bagaimana pandemi mengubah hidup kamu?” saya bertanya padanya.

Ia berpikir sesaat, melihat botol cairan pembersih tangan dan tissue basah anti bakteri yang ada di atas meja. “Jadi lebih bersih, lebih sehat… Sama seperti orang-orang lain.” katanya.

Ia kemudian tersadar sesuatu. Tubuhnya digerakkan mendekat ke arah saya. Wajahnya tampak serius, juga curious. “Memang seberapa besar pandemi mengubah hidupmu?” pertanyaan yang sama dilontarkan.

Malam itu ia dan saya janjian bertemu untuk ngopi, membicarakan pekerjaan, juga bertukar kabar. Krisis Covid-19 membuat kafe dan restaurant tutup lebih cepat. Belum pukul delapan malam, pramusaji sudah bergerak-gerak gelisah. “Segeralah kaliah enyah,” mungkin begitu yang ada dipikiran mereka, mengusir tamu yang masih betah.

Perut saya bergejolak. Saya melewatkan makan siang, sehingga lapar terasa lebih panjang. Tetapi, sebenarnya masih ada kebersamaan yang lebih enggan dilepaskan, cerita-cerita yang belum disampaikan. “Mau cari makan di tempat lain?” ia bertanya, seperti bisa membaca pikiran. “Setuju!”

Berjalan kaki mencari makan di tengah pandemi cukup membuat tidak tenang. Jalanan kota sudah senyap. Hanya satu dua motor melintas dengan kecepatan sedang. Beberapa orang berjalan kaki, nyaris tidak ada yang jalan berdua bersisian. Semua orang bergerak dengan tetap menjaga jarak aman. Saya sempat berpikir, di balik wajah-wajah yang ditutup masker ini, apakah saya mengenali seseorang? Apakah seseorang mengenali saya?

Saya menoleh, menatap wajahnya. “Tidak masalah pergi sampai larut?” saya bertanya.

Ia mengangguk. “Aman,” katanya.

Lalu sampailah ia dan saya di sebuah tempat yang masih buka hingga lewat tengah malam. Saya menarik nafas panjang memasuki tempat dengan nuansa gelap ini. Ada peristiwa traumatik sebenarnya, tidak jauh dari tempat ini. Butuh waktu beberapa detik untuk menerapkan metode pernafasan 4-7-8 agar saya kembali tenang.

Di dalam bar, saya memesan pizza keju. Saya bersyukur bar ini hanya menyediakan dua jenis pizza, yaitu keju dan jamur. Semuanya tanpa potongan daging, sehingga saya tidak harus dilemma memilih makanan. Hampir satu tahun pernah menjalani hidup sebagai vegetarian, membuat saya sering reflek memilih makanan tanpa daging.

“Apa perubahan hidup kamu?” ia bertanya, sekali lagi.

Agak sempoyongan sebentar meninggalkan meja bar, lalu kembali dengan sebuah cerita panjang.

“Banyak sekali perubahan dalam hidup saya… termasuk bagaimana setiap harinya saya memilih ‘keberanian atas kenyamanan’,” kata saya, mengutip Brene Brown.

Pikiran saya kemudian mengembara ke waktu-waktu sebelum pandemi. Kehilangan sesuatu yang berarti, lengkap dengan perasaan dikhianati, diikuti dengan ditemukannya kasus Covid-19, saya tidak tahu mana yang lebih menyiksa: hati rekah, atau pandemi pecah?

Saya ingat, masa awal-awal pandemi saya bisa menghabiskan waktu berhari-hari di dalam kamar kosan menelaah pengalaman hidup yang penuh ups and downs. Setiap hari menangis hingga wajah saya bengkak (kalau kata teman saya, wajah saya berubah seperti keracunan seafood). Saya mengalami insomnia parah, hanya baru bisa tidur setelah fajar merekah. Setiap bangun tidur, saya merasakan perih di dada. Saat makan, saat mandi, bahkan saat menonton berita di stasiun televisi, air mata bisa tiba-tiba mengalir tanpa alasan yang jelas.

Beruntunglah, pandemi membuat saya tidak harus beraktivitas di luar rumah. Sehingga saya punya waktu yang panjang untuk recovery, melewati Five Steps of Grief tanpa harus dikejar-kejar jadwal liputan atau keharusan rapat redaksi di kantor. Di antara hari-hari yang menantang ini, saya punya cukup waktu untuk merenung, memproses diri, menentukan hal-hal penting dalam hidup, mengenal dan menemukan lagi diri saya yang selama ini jarang disapa.

Di tengah kesulitan ini saya melihat pandemi berperan memberikan jeda untuk penyembuhan diri. Ia juga berperan menumbuhkan keberanian di tengah berbagai ketidakpastian. Lebih dari itu, pandemi membuat saya mengenal diri sendiri, mereformasi kebiasaan sehari-hari, serta mempengaruhi perspektif dan cara menentukan prioritas hidup.

Kalau dulu saya berambisi keluar dari rutinitas untuk melalang buana, kini saya sadar bahwa segala sesuatu yang kita cari sebenarnya ada di dalam diri sendiri.

Pernah saya haus mencari, tidak pernah puas kalau tidak pergi. Sekarang saatnya saya mencari jalan kembali. Lagi pula, perjalanan di masa sulit tidak akan menciptakan perasaan yang pasti. Gunung dan lautan toh tidak akan meninggalkan lokasi di mana mereka berdiri.

“Saya memutuskan settle down, tidak akan pergi-pergi,” kata saya.

“Bagus dong. Settle down bagus,” ia merespons.

“Bagus ya?” saya bertanya, meyakinkan diri sendiri.

“Iya, bagus. Makanya ada pandemi, agar kamu tidak pergi,…” ujarnya.

Entah kenapa ada kelegaan di sana… kelegaan mendengar kata-kata yang diucapkan. A glimpse of light. Mungkin ini closure dari perjalanan berliku dan jauh yang saya tempuh.

 

Jakarta, 15 September 2020