Beberapa waktu lalu, saya merasa kelelahan luar biasa. Ini bukanlah kelelahan fisik karena akhir-akhir ini aktivitas saya tidak terlalu banyak. Kegiatan liputan tidak begitu padat. Saya juga mengurangi olahraga atau pertemuan-pertemuan yang kurang penting. Dengan situasi aktivitas yang tidak terlalu padat, sudah pasti kelelahan saya ini bukan sekedar fisik, melainkan mental atau psikis.

Saya ingat suatu hari saya hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur, sambil merasakan dada sesak. “I am so tired. The healing process is so tiring, kapan saya bisa bebas dari persaan-perasaan melelahkan ini,” kata saya, sambil meneteskan air mata.

Ketika itu, saya memang sedang dalam masa pemulihan diri. Saya melakukan berbagai cara untuk bisa bangkit dari kenangan buruk masa lalu seperti dengan meditasi, yoga, memasak, membersihkan kamar, menuliskan kata-kata syukur, dan sebagainya… tetapi penyembuhan diri terasa tak berkesudahan.

Setiap hari, saya merasakan mood naik turun. Tentu saja, saya merasa baik-baik saja saat sedang beraktivitas atau bertemu dengan teman-teman pada siang hari. Tetapi, begitu malam hari kembali ke kamar tidur dan merasakan kembali kesendirian, penyiksaan sesungguhnya sedang menanti.

Saya kembali merasakan kesedihan, kemarahan, kekecewaan. Ada goresan-goresan luka yang terasa perih di dalam relung hati saya. Peristiwa-peristiwa buruk yang telah berlalu kembali muncul di pikiran. Kenangan buruk, hal-hal tidak terselesaikan, serta pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, semakin membenamkan saya pada rasa sedih dan amarah yang mendalam.

Saya sadar, semakin saya marah, semakin saya merasa bersalah. Semakin saya marah, semakin saya menyakiti diri sendiri. Saya menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan, menyalahkan diri sendiri. Ada pergulatan besar dalam hati saya: Seharusnya saya tidak perlu marah! Seharusnya saya bisa segera melupakan peristiwa ini! Seharusnya saya bisa segera bangkit! Tetapi, kenapa saya masih merasa seperti ini? Bagaimana cara melepaskan diri saya dari perasaan-perasaan menyebalkan ini!

Dalam situasi demikian, saya hanya bisa menangis. Bukan lagi menangis karena saya sedih atau marah, tetapi menangis karena saya merasa tidak mampu melewati  proses penyembuhan ini. Saya menangis karena merasa tidak berdaya. Saya menangis karena merasa tidak mampu menanggung duka. Saya menangis karena saya merasa sendiri.

Pada Sabtu (15/2/2020), pada perayaan ulang tahun Kompas Muda, saya bertemu dengan konselor, Asta Dewanti. Pertemuan dengan pendiri Ada di Kamu itu membuka pandangan saya bahwa tidak ada yang salah dengan perasaan marah, sedih, dan kecewa. Perasaan-perasaan yang selama ini kita anggap negatif itu seharusnya kita rangkul menjadi bagian dari kita, sama seperti ketika kita merasa bahagia, puas, lega. “Perasaan-perasaan itulah yang membentuk kita sebagai manusia biasa,” kata Asta.

Asta menjelaskan, ada tiga proses seseorang untuk menyembuhkan diri. Pertama adalah sadar (aware) terhadap setiap emosi yang dirasakan. Kedua, menerima (accept) bahwa suatu persitiwa pernah terjadi di kehidupan seseorang tanpa kita perlu menghakimi atau menyalahkan diri sendiri. Selanjutnya, adalah proses penyembuhan diri (heal) yang bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti self-reflection dan meditasi.

Kata-kata Asta mencerahkan pikiran saya. Saya sadar kenapa selama ini saya merasakan kelelahan luar biasa dalam proses penyembuhan diri. Lelah itu saya rasakan karena saya berusaha menolak rasa marah, sedih, dan kecewa.

Dalam lubuk hati, saya merasa marah luar biasa. Tetapi, otak saya memerintahkan untuk memaafkan semua peristiwa, dan memaafkan seseorang yang telah meninggalkan luka. Isi kepala dan perasaan yang tidak selaras inilah yang membuat saya merasa lelah sehingga akhirnya justu menghambat proses penyembuhan diri.

Sering kali saya mendengar pernyataan bahwa sebagai manusia, kita harus memaafkan orang lain. Tetapi, ketika kita sedang mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan hati, bagaimana kita bisa memaafkan orang lain? Rasa amarah itu sungguh nyata dan menguasai, kenapa kita justru menolak rasa itu? Kenapa kita menolak memahami diri sendiri?

Saya sadar, selama ini saya memang menuntut diri saya segera bangkit dari keterpurukan. Saya memaksa diri saya untuk mengabaikan rasa marah, sedih, dan kecewa. Tetapi, tubuh dan hati ini tidak bekerja demikian. Ia punya proses penyembuhan diri yang selaras dengan gerak semesta. Tubuh ini mengajak pemiliknya untuk meresapi seluruh emosi, agar ia bisa menyembuhkan diri sendiri.

Setelah mendengar penjelasan Asta, saya mulai merasakan dan merangkul setiap emosi. Setiap kali saya mulai merasa gelisah, sedih dan kecewa, saya menyapa diri sendiri, “Hai Denty, apa yang sedang kamu rasakan? Oh, hari ini kamu sedang marah ya? Iya, saya tahu kamu sedang marah. Kenapa kamu marah? Peristiwa apa yang membuat kamu marah? Bagian mana dari peristiwa itu yang membuat kamu marah? Apa yang hendak kamu sampaikan kepada diri kamu sendiri? Apa yang hendak kamu sampaikan kepada orang lain yang membuat kamu marah?”

Saya berbicara dengan diri sendiri selayaknya sedang berbicara pada sahabat. Saya mendengarkan suara hati, tanpa menghakimi atau menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, saya mencoba merangkul emosi, dengan penuh kasih sayang. Mengakui setiap rasa tanpa harus membenci.

Malam itu, saya menangis lagi. Tetapi, kali ini bukan menangis karena kelelahan. Saya menangis karena untuk pertama kali saya merasa bisa jujur pada diri sendiri.

“Tidak apa-apa Denty kalau kamu belum bisa memaafkan seseorang yang telah menyakiti hati kamu. Saya mengerti, rasa sedih dan marah itu begitu nyata. Mungkin memang bukan sekarang saatnya kamu memafkan, tetapi suatu hari nanti kamu pasti bisa memaafkan… Bersabarlah… suatu hari nanti, semua ini pasti berlalu,” kata saya.

Keesokan harinya saya bangun seperti biasa, lalu beraktivitas biasa. Ajaibnya, pada malam hari saya justru merasa biasa-biasa saja. Amarah yang membara, tidak lagi singgah di sana. Sedih dan kecewa, juga berkurang. Padahal, biasanya malam adalah waktu yang paling menyiksa karena pikiran-pikiran negatif bermunculan.

Sebelum tidur, saya kembali berdialog dengan diri sendiri: “Gimana kabar kamu Denty? Apakah merasa lebih baik?” Diri saya yang lain menjawab: “Ya, saya merasa lebih baik. Ada suatu peristiwa menyakitkan yang terjadi. Peristiwa itu menjadi bagian dari diri saya, tetapi peristiwa itu tidak lagi menguasai saya.”

Sekarang, setiap kali saya kembali merasakan sedih, marah, dan kecewa… saya tidak menolak perasaan itu. Saya akan menerima perasaan-perasaan itu sebagai bagian dari diri sendiri yang harus dipahami. Setelah mendengar dan memahami diri sendiri, malam itu, saya tidur nyenyak sekali. (Denty Piawai Nastitie)