Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan pada hari kedua kunjungan di Danau Tekapo, Selandia Baru. Cuaca buruk membuat rencana Narastika dan saya untuk mendaki gunung Mt John berantakan. Selain karena jalur trekking menuju Mt John ditutup demi keselamatan, shuttle bus yang seharusnya mengantar pengunjung dari penginapan ke gerbang pendakian juga tidak beroperasi.

“Kita bagaikan sudah jatuh, tertimpa tangga. Ada halangan ganda yang menimpa sekaligus,” kata Narastika, kecewa.

Prakiraan cuaca memamng sudah memperingatkan bahwa sepanjang hari ini akan hujan deras. Sejak bangun tidur, tanda-tanda cuaca buruk sudah terasa. Warna langit yang sehari sebelumnya cerah, berubah menjadi abu-abu. Warna langit yang kelabu, membuat hati ini juga ikut kelabu. Padahal, sepanjang malam saya sudah membayangkan asyiknya menyusuri Mt John sambil menghirup udara segar, menikmati pemandangan Danau Tekapo, Pegunungan Alpen Selatan, dan dataran Mackenzie Basin.

Namanya manusia, selalu bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Saya memang merasa kecewa batal naik gunung, tetapi di sisi lain saya juga merasa beruntung karena tidak membawa perlengkapan mendaki yang cukup memadai. Terbayang bagaimana repotnya di tengah jalan apabila hujan deras tiba-tiba menerjang. Tidak hanya repot karena harus melangkah dengan tubuh basah, keselamatan juga bisa terancam! Mungkin inilah cara alam mengingatkan manusia bahwa tak semua perjalanan perlu dipaksakan.

Untuk mengobati kecewa, Narastika dan saya jalan-jalan di sekitar danau. Kalau tiba-tiba ada badai, kami bisa sewaktu-waktu kembali ke penginapan. Narastika dan saya juga berencana kembali ke Gereja Gembala Baik (the Church of the Good Shepherd).

Gereja Gembala Baik (the Church of the Good Shepherd) merupakan satu-satunya gereja di Danau Tekapo dan menjadi tempat ibadah bagi penduduk setempat. Gereja yang dibuka pada 1935 ini dirancang oleh arsitek R.S.D. Harman, berdasarkan sketsa oleh seniman lokal, Esther Hope.

Gereja ini terletak di tepi Danau Tekapo dan di antara pegunungan Alpen Selatan. Gereja yang dibangun sebagai peringatan bagi perintis di wilayah Mackenzie ini sangat unik karena terbuat dari fasad batu di pesisir Danau Tekapo. Semak-semak matagouri juga dibiarkan tumbuh di halaman gereja, memberikan kesan perjalanan ke masa lalu.

Papan informasi di depan bangunan gereja menuliskan bahwa Gereja Gembala Baik dibangun dengan menonjolkan ciri kekuatan dan kesederhanaan. Gereja ini bisa digunakan siapa saja dari berbagai bangsa dan agama, untuk bermeditasi, berdoa, atau sekedar duduk hening.

Saya berkeliling mengamati bangunan-bangunan gereja. Karena pintu gereja tertutup rapat, pengunjung tidak bisa masuk ke dalam. Penasaran, saya sempat mengintip melalui lubang kunci dan melihat suasana di dalam gereja, seperti kursi-kursi usang dan salib di tengah altar.

Selanjutnya, saya berjalan ke belakang gereja. Pada sebuah batu besar, saya duduk memandang hamparan Danau Tekapo. Cuaca mendung sepertinya membuat suasana hati juga ikut mendung. Apalagi, siang itu tidak banyak penjunjung di Gereja Gembala Baik. Suasana gereja itu terasa sepi, perasaan yang sering membuat manusia merasa tidak nyaman. 

Setelah duduk sekitar 30 menit, Narastika dan saya berniat meninggalkan gereja. Saat melangkah ke luar gerbang gereja, saya melihat seorang perempuan datang. Dia berjalan tergopoh-gopoh ke depan gereja. Dia menggengam kunci berwarna kuning keemasan. Rupanya, dia adalah petugas gereja. “Mau masuk?” ujarnya, sambil membuka pintu gereja.

Saya mengangguk.

Setelah pintu terbuka, saya segera masuk ke dalam gereja. Pandangan mata saya langsung tertuju ke arah jendela kaca bening di altar yang membingkai indah danau dan pegunungan. Melalui kaca terlihat pemandangan Pulau Motuariki yang dikelilingi pohon pinus. Hamparan pegunungan, danau, hutan, dan jalur setapak yang berkelok-kelok terlihat dari kaca gereja. Pemandangan itu bersanding dengan altar dan kayu salib sederhana. 

Suasana di dalam Gereja Gembala Baik ini seolah ingin menggambarkan bahwa Pemilik Alam Semesta senantiasa mengiringi perjalanan manusia… Saya meluangkan waktu duduk di dalam gereja yang damai, memandang altar dan mengenang berbagai perjalan yang sudah dilalui… perjalanan panjang, yang kadang terasa melelahkan. 

Dalam keheningan, saya merasakan betapa baiknya alam terhadap hidup ini. Tentu saja, ada kalanya saya merasa sendiri, ada kalanya saya merasa tak pasti. Tetapi, di gereja ini saya merasakan kekuatan yang menggerakkan hati dan pikiran untuk terus melangkah… melanjutkan perjalanan, menghadapi setiap jalan bergelombang, bercabang, naik, dan turun… 

“Jangan takut melangkah… bersama Dia, Sang Pencipta dan Pemberi Kehidupan,” suara berbisik, di relung hati. 

Tiba-tiba saja bulu kuduk terasa merinding, air mata menetes. Terharu. Lega. Bersyukur. Musik gregorian mengalun pelan, menambah suasana magis. 

Bagi saya, Gereja Gembala Baik merupakan tempat ibadah dengan pemandangan paling spektakuler yang pernah saya kunjungi. Di dalam gereja saya sadar mengapa tempat ini layak dijadikan rumah bagi para peziarah dan pelancong dari berbagai daerah. 

 

 

Foto-foto oleh: Longina Narastika

Baca kisah lainnya: Berburu Gugus Bintang di Langit Tekapo

Baca kisah lainnya: Dari Queenstown ke Danau Tekapo