Dilema Perempuan: Ruang Publik vs Domestik

Lo enak tinggal di rumah orang tua. Makan dan tidur gratis, pendapatan kerja bisa utuh. Single pula! Duit bebas mau untuk apa saja,” kata teman saya, suatu hari.

Dalam perjalanan ke Yogyakarta beberapa pekan lalu, saya kembali merenungkan kata-kata teman saya.

Saya tidak menyangkal tinggal di rumah orang tua itu memang enak. Apalagi, saya tinggal di Jakarta apa-apa serba mahal.

Maka, selama tinggal di rumah orang tua, saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk bayar kos. Tidak perlu keluar uang untuk laundry pakaian. Tidak perlu repot beberes rumah.

Kalau untuk makan??? Kadang-kadang saya memang makan di rumah. Tetapi, sebenarnya lebih sering juga jajan karena waktu sehari-hari banyak dihabiskan di luar rumah.

Selain makan, alokasi anggaran yang cukup besar adalah untuk transportasi dari rumah ke kantor. Anggaran transportasi meningkat kalau lagi banyak tugas yang mengharuskan saya pindah-pindah tempat dalam satu hari (kenapa tarif ojol makin mahal siii? huh!).

Jadi, kalau dibilang pendapatan bisa utuh, sebenarnya enggak juga. Tetap ada pengeluaran!!

Apalagi kalau lagi butuh “me time” seperti untuk nonton atau ngopi.

Makanya, banyak orang bilang pengeluaran kaum jomblowan-jomblowati lebih besar dari mereka yang telah berkeluarga. Kaum jomblowan-jomblowati akan dengan mudah menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan diri pribadi karena tidak ada tanggungan. Kalau sudah berkeluarga mungkin mikir-mikir yeee…

Terlepas dari masalah enak/tidak enak tinggal di rumah karena masalah finansial, ada dimensi lain yang mungkin tidak dipahami teman saya yang tinggal tidak menyatu dengan orang tua.

Sesungguhnya, tinggal di rumah orang tua itu ada juga nggak enaknya!

“Tidak enaknya karena ditanyaain: “Kapan nikah?!! yaaa…” seru teman saya.

Bagi orang tua keberhasilan mereka adalah melepas anaknya menikah. Tetapi, kalau cuma ditanya-tanya seperti itu maah masih mendinggg broohh and sissttt… Bagi saya, puncak rasa tidak nyaman terjadi ketika saya merasa bukan “anak perempuan yang berhasil”.

Ayah-ibu saya adalah tipe orang tua jaman dulu yang menganggap seorang anak perempuan baru dikatakan sukses ketika bisa masak, beberes rumah, bangun pagi. “Sepintar-pintarnya perempuan di luar rumah, harus pintar juga di dapur,” begitu kata mereka, suatu hari.

Kalau di luar rumah saya memang tergolong berhasil bukan saja karena punya pekerjaan tetap, tetapi punya karya pribadi yaitu menulis buku. Karya saya juga cukup berpengaruh. Beberapa kali saya dapat penghargaan menulis. Namun, begitu sampai di rumah saya kembali lagi jadi anak “gagal” karena saya tidak banyak berperan di ruang domestik.

Sebuah tuntutan yang tidak adil karena kakak laki-laki saya tidak diminta melakukan hal yang sama. Bagi orang tua saya, kesuksesan laki-laki berada di ruang publik. Sementara perempuan di ruang domestik.

Jadi kalau pun pendapatan saya lebih besar dari kakak laki-laki saya, tetap saja saya tidak lebih sukses dari kakak laki-laki saya karena saya nggak bisa beberes rumah.

Sekarang gini deh, gimana saya bisa bangun pagi kalau baru terlelap dini hari. Dulu, waktu sekolah atau kuliah saya punya waktu produktif sebelum ayam berkokok. Jadi biasanya saya tidur lebih awal agar bangun lebih pagi.

Sekarang setelah bekerja, saya baru sampai rumah jam 10-11 malam. Sampai rumah saya belum ngantuk sehingga menggunakan waktu yang ada untuk kegiatan produktif seperti membaca atau menulis, dan baru bisa terlelap pukul 1 atau 2 dini hari….

Tidak hanya gagal bangun pagi, saya juga nggak bisa masak dan beres-beres karena sampai rumah saya sudah terlalu lelah untk mengerjakan pekerjaan domestik. 

Kepada teman perempuan yang juga aktif di ruang publik saya pernah tanya, apakah di rumah dia suka memasak? “Masak? Enggaklah. Selama ada Go-Food, kenapa harus masak?” Nahkaan… 

Perbedaan pandangan sering membuat konflik antara saya dan orang tua. Sampai kapan pun sepertinya saya tidak akan bisa memenuhi nilai ideal anak perempuan versi orang tua saya… Ini bikin saya pengen ngekos aja supaya saya nggak merasa gagal terus-terusan…

Saya jadi ingat, dulu waktu KKN di Yogyakarta, teman-teman saya juga sempat mempermasalahkan karena saya tidak banyak melakukan pekerjaan domestik, yaitu memasak, menyapu, mencuci piring. Rasanya kesal sekali waktu itu!!

Seandainya saja saya memang tidak banyak melakukan pekerjaan domestik, bukankah saya banyak berperan di ruang publik?? Contohnya, saya adalah anggota yang paling aktif mengumpulkan pemuda-pemudi desa untuk membuat pertunjukan kuda lumping? Saya mengumpulkan bapak-bapak untuk membuat kolam ikan? Saya juga luwes menembus perkumpulan ibu-ibu posyandu dan paling sering diminta untuk presentasi proposal atau jadi pembicara dalam rapat-rapat desa.

Aktifnya saya di ruang publik, turut menentukan keberhasilan KKN. Bahkan aktifnya saya di ruang publik melebihi anggota laki-laki. Tetapi, laki-laki itu justru menilai saya buruk karena menganggap saya gagal di ruang domestik??

Kenapa aksi perempuan di ruang publik tidak dianggap yaa? Seolah-olah peran perempuan hanya di dapur! Keseel kaaann… 

Kenyataan di Indonesia adalah meskipun seorang perempuan berhasil menembus sekat-sekat di ruang publik, mereka harus tetap membuktikan kualitas dirinya di ruang domestik. Sebaliknya, seorang laki-laki sering dianggap gagal kalau perannya di ruang publik kurang.

Ada seorang teman saya yang memutuskan perannya sebagai ayah rumah tangga. Istrinya bekerja kantoran, sementara teman saya itu jadi freelancer. Saat tidak bekerja, waktunya banyak dipakai di rumah untuk merawat anak-anak. Sebuah peran yang seringnya dilakukan perempuan! Teman saya ini sering mendapat cibiran karena kurang berperan di ruang publik.

Balik lagi ke orang tua, saya merasa selamanya saya gak akan jadi anak perempuan yang berhasil karena peran saya di ruang domestik minim.

Hal ini pernah saya utarakan ke cowok yang lagi dekat dengan saya, yaitu K. Kebetulan K adalah pegawai kantoran yang punya jadwal teratur, yaitu kerja dari jam 9 pagi – 5 sore. Setelah kerja, biasanya K sampai rumah pukul 6 atau 7 malam. Dia lalu memasak makan malamnya sendiri. Kepada K saya sampaikan bahwa sebenarnya saya berharap bisa masak dinner sendiri. Tetapi pekerjaan tidak memungkinkan saya melakukan itu.

“Karena tidak bisa masak, sepertinya saya gagal menjadi perempuan,” kata saya.

K menjawab, “Kamu tidak bisa masak dinner, karena kamu sibuk melakukan hal keren di luar rumah. Kamu harus tetap melakukan itu, karena itu dunia kamu.”

Ah, K. Seandainya saja orang tua saya berpikiran serupa.

 

Keterangan foto: Foto diambil di sebuah desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah, pada 19 Mei 2017. Pria yang memilih peran di ruang domestik sering dianggap sebelah mata.  Masyarakat juga kerap membatasi peran perempuan di ruang publik.

By |2019-01-13T17:40:39+00:00January 13th, 2019|Travel|0 Comments

Leave A Comment