Resep Patah Hati

Beberapa waktu terakhir, saya mengalami kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Patah hati, begitu mereka menyebutnya.

Sebenarnya, saya sudah bisa memprediksi bakal patah hati. Hal itu ditunjukkan dengan berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan sesuatu yang mengganjal. Sesuai perkiraan, hari itu tiba. Begitu kenyataan menghantam, rasa sakit dan perih yang tidak terbayangkan benar-benar terasa.

Apakah setelah itu saya pergi mabuk2an?? Boro-boro!! Ketemu orang aja saya sudah malas bangettt!! Apalagi patah hati melanda sebelum gajian, ku bisa apaaahh…. -__-”

Saya ingat, malam itu saya duduk di pinggir ranjang sambil menggenggam rosario. Air mata mengalir. Rasa putus asa, marah, sedih, membaur jadi satu. Kacau, tak keru-keruan!

Ajaibnya adalah, setelah itu saya tidur sangat nyenyak! Sangat-sangat nyenyak sampai saya merasa sudah tidur seribu tahun. Selanjutnya, selama sepekan, saya merasakan lima tahapan duka (five stages of grief), mulai dari penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, hingga penerimaan diri. Saya tidak selalu mulus dalam melewati tiap tahapan itu, kadang-kadang ada tahapan yang bercampur, seperti saya merasa marah dan depresi sekaligus, atau saya berada di tahap tawar menawar, tetapi masih merasakan kemarahan.

Kalau kata orang, kemarahan itu seperti menggenggam bara api dan ingin membuat orang lain merasakan hal serupa. Itu benar! Saya sangat marah dn terluka, dn saya sangat ingin membuat orang lain merasakan hal yang sama. Hati saya seperti tersayat-sayat, dan saya ingin orang lain mengalami hal yang sama. Rasa marah itu membuat saya kelelahan, dan saya mulai melepaskan…

Uniknya, suatu hari tiba-tiba saja saya kepikiran banyak tugas-tugas yang belum terlaksana. Kesibukan mengurus hati yang terluka (halah!) membuat banyak pekerjaan tertunda. Saat itu juga saya merasa tercerahkan. Apabila di hadapan saya ada dua titik berwarna hitam dan putih, yang terjadi selama ini enegi saya habis untuk memandang titik hitam (persoalan hidup). Kenapa saya tidak menggeser pandangan saya ke titik putih (peluang hidup).

Seketika saya sadar, masalah saya sebenarnya bukanlah masalah. Masalah saya adalah bagaimana saya berperilaku terhadap masalah tersebut. Memang, saya akui ada masalah atau situasi yang membuat hidup saya kurang enak, tetapi itu tidak pagi menjadi masalah karena fokus saya bergeser untuk mengurusi hal-hal yang lebih berfaedah, hal yang lebih penting dan yang terpenting dalam hidup, seperti mendaftar beasiswa, mempromosikan buku “Pelangi di Timur Tengah”, menyelesaikan peer-peer tulisan dan beberapa karya yang belum terselesaikan.

Saat itu juga saya merasa punya energi besar untuk melakukan sesuatu. Mimpi dan cita-cita saya muncul lagi. Semangat bangkit lagi. Hidup kembali terasa lebih berwarna, lebih menyenangkan. Apakah saya masih merasa marah, sedih, terluka, dan kecewa? Tentu saja! Tetapi, kali ini saya tidak lagi menganggap rasa-rasa itu sebagai musuh. Saya justru merangkul rasa kecewa menjadi bagian hidup, untuk menemani saya melangkah.

Beberapa hari lalu, teman saya bertanya bagaimana keadaan saya. Saya terkejut, karena justru saya merasa punya energi penuh untuk berbuat sesuatu. Saya juga jadi ingat, sebenarnya patah hati tidak sekali ini terjadi. Hampir pada setiap tahapan kehidupan, saya pernah merasa patah hati. Saya tidak hanya bisa melaluinya, tetapi bisa mentramsformasi rasa sakit hati jadi karya.

Waktu kuliah, misalnya, saya sempat patah hati. Kebetulan, ketika itu saya ada perjalanan ke Singapura dan Malaysia. Sepanjang perjalanan, hidup saya berjalan sangat mellow, saya meratapi nasib ini. Kemudian, pengalaman patah hati itu saya tuangkan pada karya tulis dan fotografi yang kemudian dimuat di National Geographic! Ah coba kalau saya tidak patah hati, tidak mungkin artikel saya dimuat dan dibaca banyak orang.

Saya juga jadi ingat teman saya pernah patah hati. Dia lalu mentransformasi rasa kecewa menjadi karya fotografi dan membuat pameran tunggal. Beberapa seniman dan musisi juga mengubah rasa patah hati dan kehilang menjadi karya. Penyanyi Taylor Swift, misalnya, bisa menjadikan pengalaman patah hati putus dari John Mayer menjadi lagu berjudul “Dear, John.” Begitu juga Adele yang dapat Grammy justru setelah dia membuat lagu dari pengalaman patah hatinya.

Rasa kecewa, sedih, dan marah, sebenarnya membuat manusia jadi tidak lagi takut kehilangan. We’ve already lost everything baby, mau takut kehilangan apa lagi??

Onkar Kishan Khullar, di TED Talk berjudul “The Power of Breakup”, mengungkap resep patah hati. Pertama, tidak ada lagi rasa takut. Kedua, gunakan energi marah, sedih, kesal, untuk melakukan sesuatu. Ketiga, bebaskan pikiran!

Banyak orang mengira, patah hati selalu identik dengan putus pacaran atau mengalami perceraian. Patah hati juga bisa disebabkan situasi kurang menyenangkan di lingkungan kerja, pendidikan, tempat tinggal, atau adanya krisis pertemanan. Intinya, patah hati enggak melulu soal hubungan romantis (meskipun ini yang paling sering muncul wkwk). Kepergian orang tersayang juga bisa menjadi penyebab patah hati.

Kaisar Mughal Shah Jahan membangun Taj Mahal sebagai mausoleum untuk istri tercintanya, Mumtaz Mahal, yang meninggal dunia saat melahirkan. Berkat rasa kehilangan dan patah hati yang dialami Kaisar Mughal Shah Jahan, sekarang kita mengenal Taj Mahal yang indah dan megah.

Khullar mengatakan, dunia ini tidak digerakkan oleh ahli-ahli agama atau spiritualitas. “Dunia ini bergerak karena ada orang-orang yang merasa tidak puas dalam kehidupannya, dan kemudian mentransformasi pengalaman itu menjadi pusi, buku, fotografi, gerakan-gerakan sosial, bahkan makanan yang terasa sangat enak! Orang-orang itu bersahabat dengan luka, tidak malu mengakui, dan menunjukkan pengalamannya kepada dunia…”

Teruntuk kau yang dilanda patah hati, sekarang pertanyaannya apakah situasi yang kau alami bisa bertranformasi menjadi sesuatu yang lebih berarti?

 

Jakarta, 24 Oktober 2018

Denty Piawai Nastitie

*keterangan foto: Pulau Kelingking, Bali, 2018, difoto oleh Angel Indriani.

By | 2018-10-24T15:21:51+00:00 October 24th, 2018|Travel|0 Comments

Leave A Comment