Ketika pertama kali ditugaskan ke Alor Setar, Malaysia, saya bertanya di dalam hati: bagaimana dapat menikmati kota ini? Saya berusaha browsing melalui situs lonely planet, yang saya temukan tempat-tempat wisata yang tak lebih baik dari: museum, masjid, menara, dan istana raja. Jumlah tempat wisata pun tak lebih dari sepuluh! Jadi, bagaimana saya dapat menikmati Alor Setar di waktu senggang?

Setelah transit di Kuala Lumpur, dan mengalami keterlambatan penerbangan selama dua jam (terpujilah maskapai AA!), saya mendarat di Alor Setar, nyaris tengah malam. Langit sudah gelap, jalanan sepi. Oleh taksi bandara, saya diantar ke hotel bintang empat yang berada hanya 200 meter dari titik 0 KM kota ini.

Jangan bayangkan hotel bintang empat itu berupa tempat mewah seperti Grand Mercure atau Le Meridien, ya! Tempat tinggal saya selama sembilan hari adalah sebuah hotel tua dengan lampu redup, lift berdenyit ketika dipakai, closet duduk dengan flush rusak, dan kunci kamar bukan berupa cardlock magnetik, melainkan kunci manual dengan gantungan kayu, persis kunci rumah.

Receptionist yang bekerja di hotel hanya satu orang, seorang perempuan Melayu yang mengenakan kerudung berwarna coklat muda. Dia meminta saya membayar tourism tax sebesar 10 MYR per malam. “Bagaimana kalau kamu memberikan deposit 100 MYR untuk tourism tax dan keperluan lain selama kamu tinggal di sini?” ujarnya.

“Aduh, saya belum menukar uang,” kata saya. Saya hanya membawa 150 MYR ke Malaysia. Sebagian besar sudah saya pakai untuk makan laksa di bandara dan membayar taksi. “Apakah saya bisa membayar dengan menggunakan mata uang dollar, atau rupiah? Saya baru berencana menukar uang besok siang,” kata saya.

Char Koey Tiaw, makanan paling populer di Alor Setar

Dia berpikir sejenak, kemudia menggeleng. “Tidak bisa. Kursnya sedang kurang baik. Kamu punya uang ringgit berapa? Sisanya bisa kamu lunasi hari lain,” kata dia. Saya pun terpaksa menyerahkan satu-satunya lembaran 50 MYR yang tersisa di dompet kepada petugas receptionist tersebut. “Sial, besok gue makan siang pakai duit apa?!!” umpat saya.

Saya bertanya kepada receptionist, apakah ada restaurant yang buka di sekitar hotel karena saya merasa kelaparan. Dia bilang, tidak ada. Hanya ada super market 7/11, sekitar 50 meter dari hotel. Saya pun ke 7/11 membeli cup noodles seharga 3 MYR, yang saya bayar dengan recehan. Setelah itu, saya ke kamar dan tidur lelap.

Suasana pertokoan di Alor Setar, Malaysia.

Keesokan harinya, setelah menyelesaikan tugas liputan, saya pergi ke Aman Central, pusat perbelanjaan terbesar di Alor Setar. Saya membeli persediaan logistik alias camilan, seperti pisang, roti, yoghurt, kripik, coklat, dan air mineral. Dari Aman Central, saya berencana kembali ke hotel dengan menggunakan Grab Car. Namun, setelah saya cek, lokasinya ternyata tidak lebih dari 3 kilometer. Sambil menenteng barang belanjaan, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke hotel.

Sepanjang perjalanan, saya melewati deretan rumah, toko, dan restaurant, yang mencerminkan keberagaman komunitas masyarakat Alor Setar. Ada kedai kopi dengan tulisan-tulisan aksara China, ada rumah makan nasi kendar, nasi lemak, dan nasi ayam khas makanan Melayu, ada pula cafe-cafe sederhana yang menjual makanan khas Thailand, seperti Tom Yum, dan puding mangga. Melihat foto-foto makanan itu saya jadi ngiler!

Masyarakat Alor Setar.

Suasana pertokoan dengan komunitas masyarakat India.

Di depan Sentosa Plaza, saya melihat pedagang-pedagang kaki lima yang menjual makanan China. Mulai dari mi, nasi hainan, aneka gorengan, hingga nasi daging babi, dan babi panggang. Mereka menjual makanan di gerobak-gerobak sederhana di pinggir jalan. Waaah… kalau di Indonesia, bisa digrebek kali yaa jualan babi panggang di pinggir jalan begini, pikir saya. Walau makanan-makanan itu terlihat menggiurkan, sayangnya, saya gak makan babi, jadi tidak kurang tertarik mencoba.

Setelah melewati pedagang makanan, saya berjalan di pinggir Jalan Putra. Di ujung jalan itu, terdapat kuil Hindu (Sri Thandayuthapani Temple) yang berdiri megah dengan parkiran luas. Setelah melewati menara jam besar Alor Setar, saya melihat Masjid Zahir yang terlihat bergitu cantik dengan background warna matahari tenggelam.

Masjid Zahir disebut juga sebagai Masjid Raja terletak di perkarangan Istana Pelamin.

Pemandangan kota Alor Setar, Malaysia, dilihat dari dalam Masjid Zahir.

Saya sungguh terpukau dengan kecantikan masjid yang dibangun pada 1912 itu. Saya sampai berdiri di depan masjid selama sekitar lima menit untuk memandang kubah menyerupai bawang. Keunikan lain adalah tiang-tiang yang berdiri bukanlah tiang tunggal, tetapi dua atau empat tiang yang menyatu untuk menopang atap bangunan.

Pesona yang dimiliki Masjid Zahir menginspirasi Pemerintah Malaysia mengabadikannya sebagai gambar perangko. Namun, saat saya cari perangko dan kartu pos untuk kenang-kenangan dan kirim ke kampung halaman, masyarakat setempat menjawab: “Lebih mudah dan cepat komunikasi dengan Whatsapp, Makcik… Zaman sekarang sudah tidak ada kartu pos lagi….” Baeklaaah -___-”

Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya berpikir bagaimana Alor Setar hidup dalam keberagaman. Hal itu tercermin dari keberadaan Masjid Zahir yang berdiri berdampingan dengan kuil Hindu. Letak masjid tidak terlalu jauh dengan komunitas Tionghoa. Fachri, supir grab saya, suatu hari bercerita, saat Imlek, orang-orang China biasanya mengadakan open house. Banyak orang Melayu dan India datang ke rumah orang-orang China untuk makan dan pesta bersama.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya menemukan jawaban bagaimana selama sembilan hari dapat menikmati kota ini. Cara terbaik menikmati Alor Setar adalah dengan merayakan keberagaman komunitas dan menikmati keindahan peninggalan bangunan bersejarah.

Masjid Zahir dibangun pada 1912.

Pengungjung menikmati keindahan Masjid Zahir.

Dalam kunjungan kedua saya ke Masjid Zahir, saya memberanikan diri masuk ke dalam masjid. Seorang perempuan asal Kuala Lumpur, yang sedang berkunjung ke rumah teman di Alor Setar, mempersilakan masuk untuk menikmati sudut-sudut masjid. “Enjoy your time, here…” katanya,

Di dalam masjid, saya bertemu dengan Zahir, seorang pria berusia sekitar 50 tahun. Zahir adalah mantan manajer di sebuah perusahaan produksi barang-barang kulit. Memasuki usia senja, Zahir memutuskan untuk mengabdikan hidup pada ibadah dan keluarga. Untuk mengisi waktu luang, dia bekerja sebagai supir Grab di Alor Setar. “Dengan menjadi supir, kapanpun saya punya waktu untuk istirahat dan pergi ke masjid untuk shalat,” kata Zahir. (Saya baru sadar, kenapa namanya sama dengan masjid yaa? Hmmm…)

Zahir bertanya dari mana asal saya, bagaimana saya bisa sampai di Alor Setar, dan untuk apa saya mengunjungi Masjid Zahir. Saya berterus terang, bahwa saya harus bekerja di Alor Setar selama sembilan hari, dan saya mengunjungi masjid karena saya terpukau dengan keindahan bangunan. Setelah ngobrol banyak hal, saya bertanya, bagaimana Alor Setar bisa hidup dalam keberagaman.

Zahir mengatakan, karena Alor Setar berada di dekat perbatasan Malaysia-Thailand, maka memang banyak orang Thailand masuk ke Alor Setar. Beberapa orang Thailand membuka rumah makan, sehingga makanan di Alor Setar memang banyak terpengaruh rasa makanan khas Thailand. Orang-orang Malaysia dan Thailand hidup rukun. Begitu juga dengan masyarakat India, China, dan Arab.

Portrait umat Islam di Masjid Zahir.

Masyarakat menikmati hiasan khas Imlek di Aman Central.

“Selama ini, tak ada masalah dengan keberagaman. Masyarakat hidup rukun dalam kultur dan kepercayaan masing-masing. Tetapi, politik telah menghancurkan segalanya,” kata Zahir. “Setiap kali ada pemimpin dari suatu kelompok masyarakat menang pemilu, kelompok lain pasti menjelek-jelekkan asal-usul pemimpin itu. Kalau yang menang dari kelompok satunya, kelompok lain melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya,” lanjutnya lagi.

Wahhh… Kalau begini sama aja kayak negara gue dongg… -__-”

“Bagaimana dengan di Indonesia?” tanya Zahir. “Saya lihat, masyarakat Indonesia hidup rukun yaaa… Saya pernah ke Indonesia, dan melihat masyarakat di sana hidup rukun,” kata Zahir.

Saya bingung mau jawab apa,… selain mau bilang: “Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, Pak… Kenyataannya, yaaagituuu deeehhh…..”

Belum sempat saya menjawab pertanyaan Zahir, adzan berkumandang. Zahir meminta izin untuk shalat maghrib. Saya mempersilakan dia menunaikkan ibadah. Sementara saya, kembali melanjutkan perjalanan.

Jakarta, 20 Februari 2018

Denty Piawai Nastitie (http://rambutkriwil.com)