Ketika saya berumur 10 tahun, seorang supir angkot meletakkan tangannya di atas paha saya. Di dalam angkot yang penuh sesak, melintas di jalanan yang padat merayap, dia mengatakan tubuh saya bagus. Saya tidak ingat menjawab apa. Yang saya ingat, sejak saat itu saya ogah duduk di bagian depan angkot. Saya trauma. Bagi saya, semua supir angkot sama busuknya dengan dia.

Ketika saya SMA, dalam perjalanan naik sepeda menuju ke gereja pagi, seorang pria meremas payudara saya. Dia mengendarai sepeda motor dan sengaja memepet sepeda saya untuk memegang payudara. Seketika saya berteriak: “BAJINGAN!” Saya berusaha mengejar dia, ingin rasanya menonjok mukanya. Tetapi, sepeda saya melaju lambat. Terlalu lambat untuk mengejar motor itu.

Sepanjang misa pagi itu, konsentrasi saya buyar. Yang ada di kepala hanya bayangan ciri-ciri fisik si bajingan. Kurus. Kecil. Memakai baju serba hitam. Memakai tas selempang. Saya berusaha mengingat-ingat fisiknya, saya berjanji dalam diri saya untuk menemukan dia dan menghajar dia sampai babak belur.

Saya marah luar biasa. Berkali-kali mengumpat: “Bajingan! bajingan!” Apa salah saya. Saya memakai baju tertutup, jaket tebal dengan kupluk. Tetapi masih menjadi korban pelecehan seksual. Saya trauma. Setiap kali ketemu orang yang mirip si bajingan, langsung saya samperin dan saya introgasi. Sampai-sampai saya mencurigai teman saya sendiri.

“Sumpaah gue gak lewat Jalan Godean pagi-pagi! Lo tahu rumah gue dimana, dan jam segitu gue belum bangun. Ngapain juga gue lewat Godean,” kata teman saya, ketika saya mengutarakan bahwa saya mencurigai dia sebagai pelaku kejahatan seksual semata-mata karena punya kemiripan ciri fisik.

Peristiwa pelecehan seksual ternyata terus berulang, sejak saya sekolah, kuliah, hingga sekarang bekerja. Saya bukan satu-satunya korban. Dari banyak curhatan teman, saya rangkum bahwa pelecehan seksual terjadi dengan berbagai modus, mulai dari lirikan mata, bersiul saat ada cewek dengan rok mini melintas, mengeluarkan kata-kata jorok, hingga melakukan sentuhan fisik.

Ini menimpa perempuan yang emang hobi pakai baju kekurangan bahan, sampai perempuan hijabers. Pelecehan menimpa korban, nggak peduli lo anak tentara, anak ustad, hobi clubbing, hobi manjat tebing, atau rajin menabung atau mengaji. Lokasinya mulai dari di rumah, sekolah, rumah sakit, pinggir jalan, kantor pemerintahan, warung, restaurant, hingga tempat bekerja. Tanpa disadari, eksploitasi tubuh perempuan dan pelecehan seksual juga kerap terjadi pada hubungan dekat, seperti pacaran atau rumah tangga.

Saya kesal, kenapa pelecehan seksual terjadi dan terus berulang. Pelecehan bahkan terjadi di ruang kerja yang isinya para profesional. Pelecehan seksual yang terjadi di ruang kerja, sangat membuat tidak nyaman karena sebagian besar kaum milenials menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja.

Saya baru sadar, pelecehan seksual yang terjadi berulang merupakan hasil dari pembiaran. Ya, PEMBIARAN. Saya membiarkan supir angkot memegang paha saya tanpa saya melapor ke orang tua. Saya membiarkan orang asing meremas payudara saya dan tidak melaporkan peristiwa itu ke pihak berwajib. Saya membiarkan orang-orang terdekat saya, seperti atasan, teman kuliah, teman sekolah, dan rekan kerja melontarkan komentar-komentar yang seksis. Menyampaikan jokes-jokes murahan yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Membiarkan meme atau gambar-gambar cewek berpayu dara besar, berbokong besar, tersebar melalui grup-grup chatting. Anggota grup tertawa. Sebagian merasa tidak nyaman, dan memilih bisa diam saja. Worst of the worst is, saya pernah membiarkan pacar saya menindas dengan kata-kata dan perbuatan. (Thanks god, saya sudah putus! Dn saya tidak mau perilaku abbusive terulang lagi).

Pembiaran itu terjadi karena banyak sebab, mulai dari malu, males atau repot lapor sana-sini, tidak terbiasa berkonfrontasi, ogah berdebat, atau pembiaran terjadi sederhana karena pmbiaran itu sendiri. Eksploitasi tubuh perempuan yang direproduksi secara terus-menerus, melalui obrolan antar tetangga atau group chatting, diskusi di sosial media hingga konten di media mainstream, membuat kita semua berpikir, bahwa eksploitasi tubuh perempuan sudah biasa dan sah-sah saja terjadi. Saya ingat bangets ketika kaum fesbukers banyak yang share soal Jilboobs alias cewek-cewek berpayudara besar yang memakai jilbab, dan mendiskreditkan perempuan, berapa banyak dari kita yang bereaksi terhadap kelakuan para netizen?? Kebanyakan dari kita ikut-ikutan menyalahkan si perempuan yang menurut saya punya otoritas atas tubuh dan penampilannya!!

Lama-lama kita mengamini, tubuh perempuan memang selayaknya jadi bahan tontonan, tertawaan. Kemudian peristiwa pelecehan seksual dianggap sebagai kewajaran, hal yang biasa-biasa terjadi. Kita pun lupa, bahwa perempuan punya hasrat, keinginan, passion, yang bisa menggerakkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Pergi kemanapun yang dia mau. Mencapai apapun yang dia inginkan! Bukannya malah menjadi objek birahi para lelaki!

Sadar nggak yaa… bapak-bapak atau om-om yang di kantor atau di mana pun mereka berada, saat mereka melontarkan jokes-jokes seksis kepada rekan kerja atau bawahan, bisa jadi anak perempuan mereka sedang berkutat dengan trauma karena pas berangkat sekolah ada cowok yang meremas bokong mereka di jalanan, atau ada cowok menempelkan penis ke bagian tubuh si anak perempuan saat sedang naik bus transjakarta. Atau mungkin juga si anak perempuan sedang berkutat dengan trauma katena pacar mereka memaksa berhubungan seksual.

Ketika saya menemani sahabat saya Caron Toshiko membaca karya cerpen di acara “Pekan Seni Melawan Kekerasan Seksual” di AOA Space, Yogyakarta, pembicara diskusi Angela mengatakan, kekerasan seksual terjadi karena eksploitasi tubuh perempuan secara simbolik direproduksi terus-menerus, melalui bacaan, tontonan televisi, dan sebagainya. “Untuk itu, perlawanan kekerasan seksual juga harus dilakukan secara simbolik,” katanya.

Memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual untuk anak-anak, membuka ruang-ruang diskusi, menyelenggarakan pameran lukisan atau pamerah foto tentang gerakan anti kekerasan seksusal, atau menulis blog di rambutkriwil.com (hehehe) adalah bentuk perlawanan terhadap kejahatan seksual.

Saya memang gak bisa setiap hari protes atau menegur teman atau orang-orang dekat saya yang sering mengeksploitasi tubuh perempuan, saya cuma bisa berharap para pelaku kejahatan seksual itu baca tulisan ini. Berharap juga, teman-teman yang pernah menjadi korban kejahatan seksual sadar: “You’ll never walk alone.”

Tulisan ini nggak jamin para pelaku kejahatan seksual itu tobat. Mau membaca tulisan ini atau berdiskusi soal kejahatan seksual saja sudah bagus. Karena saya ingat, salah seorang aktivis perempuan pernah berkata, orang-orang patriarki yang percaya laki-laki punya otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda, selalu gatel, resah, dan ogah membicarakan isu-isu perempuan dan kejahatan seksual. So, minimal para pelaku kejahatan seksual  itu sadar dulu deehhh, “yang lo lakukan itu JAHAT.”

 

Yogyakarta, 17 Oktober 2017

Denty Piawai Nastitie

 

Tentang foto: Anak-anak bermain ayunan di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Bahari, Jakarta Selatan, Selasa (23/6). Anak-anak adalah masa depan bangsa. Lindungi mereka agar tidak mengalami kejahatan seksual. (Betewe, dengar-dengan RPTRA mau dihapuskan era Anies-Sandi yaaa? Padahal anak punya hak untuk memiliki ruang bermain dan berinteraksi. T.T)