“Lebih baik budaya itu “dirusak”, daripada tidak pernah tersentuh dan malah hilang dalam ingatan,” kata Sapto Rahardjo, seniman dan pemrakarsa Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), nyaris 10 tahun lalu.

Kata-kata Mbah Sapto, panggilan akrab Sapto Raharjo, terngiang-ngiang di kepala saat saya membuat mural di tembok kota lama Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Saat itu, jarum jam lewat pukul 00.00, belasan anak muda dari komunitas #Kesengsemlasem dan warga setempat bekumpul untuk menjadi saksi perubahan wajah tembok Lasem yang awalnya usang dan nyaris tak terawat menjadi lebih berwarna.

Sapto Rahardjo adalah seniman yang identik dengan gamelan. Tak hanya gamelan tradisi, dia juga mengekplorasi gamelan dengan menggunakan teknologi modern seperti komputer dan synthesizer. Perannya bagi perkembangan gamelan semakin jelas ketika dia membuat Yogyakarta Gamelan Festival (YGF). Festival musik berskala internasional itu sudah ada sejak 1995 dan masih eksis hingga kini, bahkan ketika Mbah Sapto tutup usia.

Di YGF, Mbah Sapto juga memperkenalkan konsep Gamelan Gaul. Melalui Gamelan Gaul, anak-anak muda yang tadinya hidup jauh dari kesenian dan tradisi dirangkul untuk memainkan gamelan dengan cara yang lebih fun. Kalau biasanya gamelan memainkan gending jawa, misalnya, melalui Gamelan Gaul anak-anak muda bebas memainkan lagu-lagu pop. Bunyi yang keluar dari gamelan juga dipadukan dengan alat-alat musik modern, seperti drum dan gitar.

Cara Sapto Rahardjo memperkenalkan gamelan kepada anak-anak muda sempat menuai kritik pedas dari banyak kalangan. Mbah Sapto, kakek berambut gondrong itu, dinilai sudah merusak gamelan. Tetapi, dia tidak gentar. Saat menjadi volunteer YGF 2007-2008, saya menyaksikan sendiri perjuangan Mbah Sapto bersama para relawannya menyukseskan berbagai event Gamelan Gaul. Dengan dana yang terbatas, Mbah Sapto bahkan pernah membuat Pawai Budaya Nusantara di Istana Negara saat SBY berkuasa.

Hasilnya, dari sekedar coba-coba, banyak anak muda yang kemudian tertarik menggeluti gamelan. YGF juga selalu ramai dihadiri pecinta gamelan dari berbagai negara. Orang-orang asing dari berbagai penjuru dunia tidak hanya menonton, tetapi juga ikut bermain gamelan. Festival itu menjelma jadi ajang pelestarian budaya sekaligus tempat berkumpulnya warga dunia. Kerja keras Mbah Sapto adalah upaya mempertahankan gamelan sebagai warisan Indonesia. Jangan sampai, begitu negara tetangga mengakui gamelan sebagai peninggalan bangsanya, orang-orang Indonesia baru ribut-ribut!!!

Cerita tentang Mbah Sapto dan “perusakan” gamelan yang sistematis dan terstruktur itu kembali hadir dalam ingatan, ketika saya melakukan perusakan lainnya, yakni mewarnai tembok Lasem. Lasem yang terkenal dengan arsitektur peninggalan kebudayaan China, kini lebih bewarna dengan kehadiran gambar polkadot warna-warni, sayap, dan entah nanti apa lagi. Lasem yang dulunya terkenal sebagi kota dengan penghuni orang-orang tua, tiba-tiba digruduk anak muda yang hobi plesiran dan selfi-selfian di depan mural.

Sejumlah orang menilai, mewarnai Lasem adalah bentuk perusakan tembok yang usianya sudah puluhan (atau mukin ratusan) tahun. Kegiatan perusakan tembok ini bermula saat saya berkunjung ke Lasem bersama teman dari Yogyakarta, Narastika. Di Lasem, saya bertemu pendiri komunitas #Kesengsemlasem, Agni Malagina.

Begitu tiba di Lasem, Kak Agni mengajak saya berkeliling desa. Lasem itu sangat identik dengan lorong-lorong kampung yang di kiri kanannya terbentang rumah-rumah lawas. Rumah-rumah peninggalan keluarga Tionghoa itu dikelilingi tembok putih polos setinggi tiga meter. Sebagian tembok sudah retak dan pecah-pecah. Sebagian lainnya lembap dan berlumut sehingga suasananya sunyi dan agak menyeramkan saat gelap.

Sambil berkeliling naik sepeda motor, Kak Agni bertanya: “Apa pendapat kamu kalau tembok-tembok ini kita cat agar lebih berwarna? Mungkin bisa juga dengan gambar-gambar mural.”

“Hmm… menarik juga. Mungkin kalau tembok-tembok ini sudah diwarnai suasana Lasem jadi berbeda. Jadi lebih hidup,” jawab saya. Sebenarnya jawaban itu hanya untuk membuat Kak Agni lega. Jauh-jauh ke Lasem, saya ingin menikmati hidup ala pedesaan bukannya ingin berdebat apakah tembok-tembok ini layak diwarnai atau tidak.

“Naaaah! Pas bangeettt!! Mumpung lo ada di sini, lo yang gambar dan mewarnai ya!” seru Kak Agni kegirangan.

Saya yang sedang menyetir motor terpaksa ngerem mendadak karena kaget. “Maksudnya??? Gue yang bikin mural??? Lo yakin?? Kapan bikinnya??? Emang waktunya cukup??? Gue kan cuma tiga hari di sini!!” kata saya.

“Cukup! Waktunya pasti cukup. Nanti kita beli cat ya, terus kita mewarnai!”.

Matilah awak! Kata saya dalam hati. Biasanya Kalau Kak Agni punya keinginan, dia akan gigih berusaha mewujudkan keinginan itu. Maka, sepanjang hari saya berusaha mempengaruhi Kak Agni agar dia membatalkan niatnya. Saya katakan ke Kak Agni kalau mencat tembok itu butuh waktu tak sebentar, butuh orang banyak yang mengerjakan, dan butuh kreativitas. “Emangnya gue bisa gambar? Gue gak bakat gambar,” kata saya.

“Bisa! Pasti bisa! Kita buat Lasem lebih hidup!” kata Kak Agni yakin.

Karena rencana itu sudah bulat, maka tidak ada alasan untuk mundur. Kak Agni menghubungi sejumlah pemilik tembok. Begitu mendapat izin, kami segera ngebom! (istilah menggambar mural di tembok).

Seperti bomber profesional, ngebom tembok Lasem dilakukan malam hari. Dengan pencahayaan seadanya, Kak Agni, Narastika, dan saya pun bergelut dengan kaleng-kaleng cat warna-warni. Bomber dadakan ini bekerja sambil digigit nyamuk, dan menghisap debu-debu jalan raya. Kami juga menerjang gerimis dan menahan rasa kantuk.

Jujur saja, saya sempat merasa pesimis dengan aksi ini. Mana mungkin Trio Angles (Kak Agni, Narastika, dan saya) bisa menggambar tembok-tembok Lasem yang panjangnya mencapai puluhan meter itu?!!

Tetapi, rasa pesimis itu berganti jadi semangat saat melihat warga Lasem ikut terlibat. Warga Lasem yang berpartisipasi berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak pesantren, pengusaha batik, hingga orang-orang tua Tionghoa. Mereka terlibat dengan ikut mewarnai, atau sekedar memberi dukungan dengan membawakan kami makanan dan minuman agar tidak mati kelaparan dan kehausan. Ada pula warga yang datang menyumbangkan jendela-jendela usang untuk dipasang menjadi dekorasi di tembok. Bukankah suatu pembangunan kota dinyatakan berhasil bisa sudah sukses mengajak warga terlibat?

Ketika mewarnai Lasem, saya sadar Lasem adalah kota yang bernyawa dengan akulturasi budaya. Tidak ada sekat-sekat yang memisahkan orang China dan bukan China, orang Jawa dan bukan Jawa, orang Kristen dan bukan Kristen, Islam dan bukan Islam. Semua orang membaur, saling mendukung. Anak-anak pesantren misalnya, dengan mengenakan baju koko, sarung, dan peci, asik-asik aja tuh mewarnai tembok-tembok rumah milik pengusaha Tionghoa sehingga terlihat lebih indah.

“Di daerah lain punya kekayaan pantai atau gunung, sementara di Lasem kekayaan kita adalah tembok-tembok tua,” kata Umi, istri Gus Zaim, pemilik Pesantren Kauman Lasem.

Kak Agni mengatakan, anak-anak muda malas datang ke Lasem karena tempat itu dinilai kurang menarik. Mereka lebih senang datang ke tempat-tempat wisata yang lebih ngehits. “Kalau kita mau melestarikan budaya, kita harus melibatkan anak-anak muda. Mereka harus diajak datang ke Lasem. Mungkin, awalnya mereka hanya mau swa-foto di depan mural yang kita buat, pelan-pelan kita juga mengedukasi tentang betapa bernilainya Lasem,” kata Kak Agni.

Mewarnai tembok Lasem sebenarnya bukan hal baru. Beberapa rumah di Lasem sengaja di cat pemiliknya untuk memberi ciri khas. Tiongkok Kecil Herritage milik Rudy Hartono, yang menjadi salah satu ciri khas Lasem, misalnya, malah lebih sering disebut Rumah Merah karena temboknya berwarna merah.

Di negara-negara lain, mural juga sudah menjadi bagian dari peradaban kota. Di George Town, Malaysia, misalnya, sangat identik dengan mural dan dekorasi-dekorasi tembok, seperti sepeda dan jendela gantung, yang menyatu dengan arsitektur lawas. Kesadaran warga untuk merawat budaya dan sejarah, sekaligus menciptakan unsur kekinian, menjadikan George Town dan Melaka, mendapat predikat UNESCO World Herritage Site. Saat ini, Lasem Kota Pusaka juga sedang diusulkan ke UNESCO sehingga perlu ada gerakan massal untuk mendukungnya.

Saat mewarnai tembok Lasem, saya mendengar sejumlah orang sanksi pada gerakan ini. “Memang boleh tembok-tembok Lasem dirusak?”. Saya hanya tersenyum. Dalam hati ingin menjawab, “Lebih baik tembok-tembok ini dirusak daripada Lasem tidak pernah tersentuh dan malah hilang dalam ingatan.” Belum sempat saya menjawab demikian, beberapa warga Lasem sudah berseru, “Waah… temboknya jadi bagus! Lebih berwarna! Nanti rumah saya dikasih gambar juga yaa!!” Saya pura-pura gak dengar karena takut berniat alih profesi jadi tukang cat! >.<

 

Jakarta, 1 Syawal 1438 H

Selamat Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin.

Salam, Denty Piawai Nastitie

Rambutkriwil.com