Blogging requires passion and authority. Which leaves out most people.”

Meski blog rambutkriwil.com baru dirilis awal tahun ini, cikal bakal blog ini sebenarnya sudah ada sejak sepuluh tahun lalu.

Pertama kali saya ngeblog sekitar 2007, ketika Multiply masih berjaya. Memakai nama samaran Rambutkriwil, saya memposting tulisan dan foto-foto perjalanan di antara kesibukan sekolah. Hasilnya, saya mendapat teman-teman baru sesama blogger, berkenalan dengan fotografer dan penulis profesional yang banyak mempengaruhi karya saya, dan tentu saja peluang pekerjaan.

Sedang gigih-gigihnya menulis di Multiply, platform blog di situs itu gulung tikar pada 2012 dan berubah menjadi e-comerce. Rambutkriwil berusaha bertahan dengan migrasi ke blogspot.com.

Seperti kehidupan yang penuh pasang surut, tekad dalam ngeblog juga timbul tenggelam. Lama kelamaan blog rambutkriwil.blogspot.com berubah bagaikan rumah tak bertuan. Bangunannya ada, tetapi suwung. Kosong. Kekosongan itu disebabkan beberapa hal, seringnya sih, alasan klise: SIBUK. GAK SEMPET NULIS.

Pada 2013, selepas kuliah, saya mulai magang sebagai jurnalis harian KOMPAS. Setahun kemudian, saya diangkat menjadi jurnalis tetap. Di antara rutinitas bekerja sebagai jurnalis, keinginan untuk kembali ngeblog kembali muncul. Anehnya keingan itu kian kuat saat saya sedang SIBUK-SIBUK-NYA BEKERJA, alasan yang dulu saya pakai untuk absen ngeblog.

Tak jarang keinginan blogging muncul pada saat deadline sedang menjerat. Suatu keadaan yang memaksa jurnalis bekerja cepat selesai, tidak berlarut-larut pada suatu tulisan tertentu. Jangankan makan dan minum, pada saat deadline, untuk nafas aja kadang susah… eh ini malah mikirin blog!

Setelah membulatkan tujuan, sejak awal 2017 saya kembali membangun blog, yang selama ini sering terbengkalai dengan nama: Rambutkriwil.com. Saya menganggap blog ini sebagai rumah yang terbuka bagi siapa saja. Silakan datang berkunjung, bercakap-cakap, atau sekedar melihat-lihat. Kalau suka boleh menginap dan meninggalkan pesan, kalau tidak suka boleh pergi begritu saja. Ingin jadi silent readers juga monggo.

Di luar negeri, jurnalis sekaligus blogger sudah banyak. Jurnalis-jurnalis handal yang bekerja di The Guardian, Washington Post, atau BBC, biasanya juga mengelola blog. Tetapi, di antara rekan-rekan seprofesi di Indonesia, sepertinya jurnalis yang juga blogger bisa dihitung pakai jari.

Meski jumlahnya tidak banyak, saya yakin, saya tidak sendirian. Kenapa? Karena blog sekarang sudah menjadi bagian dari media mainstream untuk membangun jaringan, membagikan pemikiran, menuliskan berita, gosip, atau hal-hal remeh temeh berkaitan dengan hobi dan minat di bidang tertentu. Bagi sebagian orang, blogging membuat mereka bisa mendapatkan uang tambahan di luar pekerjaan utama, tiket untuk mengunjungi banyak tempat-tempat keren di berbagai belahan dunia, dan segudang keuntungan lainnya. Untuk saya sendiri, blog memang tidak belum menghasilkan hal-hal materi semacam itu. Namun, saya tetap yakin, penting bagi seorang jurnalis (setidaknya bagi saya sendiri) untuk ngeblog tentang sesuatu, karena…

  1. Ngeblog membuat saya merasa sebagai manusia, bukan sekedar mesin perusahaan… Sejak dulu saya suka menulis. Bagi saya, menulis adalah kebutuhan, seperi makan dan mimum, dan bukan sekedar pekerjaan. Setiap hari meliput, mewawancarai narasumber, meriset data, menulis dengan deadline yang ketat, membuat tubuh dan pikiran kadang-kadang lelah. Lebih dari 50 persen kehidupan dihabiskan di lapangan dan di kantor. Saat orang-orang libur, saya bekerja. Saat orang-orang bekerja, saya malah libur (karena enggak pernah dapat libur weekend). Kesibukan membuat saya hampir tidak punya waktu kumpul keluarga atau reunian dengan teman-teman sekolah. Kehidupan seperti itu bukan tidak mungkin membuat saya merasa menjadi robot. Maka dengan ngeblog, saya bisa mengambil jarak dengan rutinitas jurnalistik.
  1. Saya ahli di bidang yang saya geluti… Kalau sedang kumpul-kumpul dengan teman, sering sekali ada yang bertanya: “Eh, pekerjaan jurnalis itu seperti apa sih?”, atau “Ceritakan dong kisah-kisah di balik tulisan yang dimuat di surat kabar!”Kadang-kadang saya suka heran, kenapa ya mereka bertanya seperti itu? Perasaan pekerjaan saya biasa-biasa saja. Kemudian saya sadar, jurnalis termasuk profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Bagi sebagian orang, pekerjaan ini tidak mudah. Karena keunikannya, teman-teman menganggap saya ahli sehingga mereka tertarik mencari tahu cerita-cerita di balik profesi ini. Blogging membuat saya bisa menceritakan suka-duka menjadi jurnalis.
    Dengan alasan yang sama, ngeblog sangat penting bagi siapapun yang menggeluti bidang-bidang unik yang mungkin selama ini gak pernah ada di dunia, seperti pengiring pengantin profesional, penata gaya makanan, penonton Dahsyat, ahli pemberantas nyamuk, forensic linguistics, dan lain-lain… keahlian membuat seseorang dikenal dan dapat menghasilkan.
  1. Ada hal-hal yang tidak bisa ditulis di koran atau media tempat bekerja… Media mainstream, seperti koran, majalah, tabloid, memiliki keterbatasannya. Tidak semua tulisan yang dihasilkan seorang jurnalis bisa dimuat. Tulisan yang dimuat tentulah yang sudah memenuhi standar jurnalistik di media tersebut. Sekalipun sudah memenuhi standar-standar yang ditetapkan, tulisan bisa saja tidak dimuat karena ada keterbatasan halaman atau ada pertimbangan-pertimbangan politik, ekonomi, dan sosial.Dengan menulis blog, saya bisa menulis topik apa saja – mulai dari curhatan sampai gosip artis – yang tidak akan pernah bisa dimuat di koran tempat saya bekerja. Selain itu, karena saya yang mendirikan blog ini, saya tidak peelu meminta atasan menilai karya saya. Saya bebas menentukan topik, gaya bahasa, waktu pemuatan, dan panjang tulisan.
  1. Terhubung langsung dengan pembaca… Menulis di koran terasa seperti dialog satu arah. Saya memaparkan fakta, orang lain hanya bisa menerima apa pun yang saya tuliskan. Di tengah perkembangan teknologi informasi yang pesat, model pemberitaan satu arah seperti itu sudah semakin ditinggalkan pembaca. Setiap orang kini bisa berbagi informasi dan berperan menyebarkan berita. Blog menjadi jembatan hubungan media mainstream yang kaku dengan para pembaca yang cair. Blog tidak hanya menyediakan interaksi di antara para penggunanya, tetapi juga menciptakan komunitas baru.
  2. Melatih kesabaran dan konsistensi.. Saya memanfaatkan hari libur, biasanya setiap Selasa atau Sabtu untuk ngeblog. Dengan cara ini, saya belajar untuk sabar dan konsisten menjalani apapun yang sudah menjadi pilihan.
  1. Ruang Meditasi… Ngeblog itu sebenarnya sama dengan menulis buku harian (kecuali perbedaan blog bisa dibaca semua orang). Menulis blog menjadi ruang untuk menyepi, berdialog dengan diri sendiri. Di tengah banyak informasi yang meresahkan, orang-orang saling menyerang atas nama suku, agama, ras, dan golongan, ngeblog membuat hidup lebih terasa tenang karena bisa bermeditasi. Melalui blog, saya bisa menyortir hal-hal yang penting dan terpenting dalam hidup ini. Sehingga tidak mudah ngamuk, atau mencak-mencak, apabila sesuatu terjadi seperti yang tidak diinginkan.

Jakarta, 30 Mei 2017

Denty Piawai Nastitie

rambutkriwil.com