Kak, berapa sih gaji wartawan?

— Pelajar SMP di Cibubur

*

Adik pelajar yang baik,

Kalau kamu ingin hidup kaya raya dan bermewah-mewah, jangan pernah jadi wartawan. Saya menyarankan agar kamu menjadi pengusaha. Menjadi wartawan itu sulit, dik. Setiap hari lembur (bekerja lebih dari 8 jam) tanpa uang lembur. Gaji wartawan bisa dipastikan tidak akan pernah cukup dipakai untuk memenuhi semua hawa nafsu hidup hedonis di kota besar.

Kalau kamu ingin bisa keliling Indonesia gratis, bisa keliling dunia gratis (kayaknya sih… soalnya saya belum pernah, hehehe), bisa makan enak di restauran mewah gratis, bisa menginap di hotel berbintang gratis, bisa nonton konser musik gratis, bisa ketemu dan berfoto dengan orang-orang keren mulai dari artis, hingga presiden dan wakil presiden, bisa naik pesawat presiden serta dapat uang dinas kalau bertugas ke luar kota dan luar negeri, mungkin kamu bisa jadi wartawan.

Lebih dari itu, kalau kamu ingin hidup bermanfaat bagi orang lain, bisa mempelajari nilai-nilai kemanusiaan dengan lebih baik, bisa bekerja sekaligus mencari pengalaman hidup, bisa pamer menjadi anjing penjaga (watch dog) yang bertugas mengawasi kinerja lembaga sosial, politik, dan ekonomi, agar mereka tidak melakukan monopoli kekuasaan, bisa menjadi jembatan aspirasi masyarakat, bisa menulis kisah-kisah yang menginspirasi, bisa gaya-gayaan aja punya pekerjaan yang berbeda dengan orang kebanyakan, mungkin kamu cocok menjadi wartawan.

Berdasarkan penelitian Aliansi Jurnalis Independen, upah jurnalis di Indonesia masih jauh dari ideal. Dari sekian banyak media cetak, televisi, radio, dan online, hanya ada dua media yang jurnalisnya mendapat upah di atas upah layak AJI (2010), yaitu harian Bisnis Indonesia dan Kompas. Tentu saja, dua media tidak cukup untuk menampung semua lulusan jurnalistik atau peminat jurnalisme di Indonesia yang jumlahnya mencapai ribuan orang. 

Seingat saya, pada 2013, ada sekitar 400 orang dari daerah asal Yogyakarta yang mendaftar bekerja sebagai jurnalis di harian Kompas. Pada tahun yang sama, Kompas juga membuka lowongan jurnalis di Bandung, Jakarta, dan Surabaya, sehingga total pelamar mencapai lebih dari 1.000 orang. Setelah melalui tahap seleksi yang panjang dan ketat, 15 orang dinyatakan lolos jadi calon wartawan Kompas. Kini, yang bertahan menjadi wartawan sebanyak 11 orang. 

Menurut AJI (2016) angka ideal untuk reporter yang baru diangkat menjadi jurnalis tetap Rp 7,54 juta per bulan, tetapi kenyataannya upah layak itu baru diterima seorang jurnalis setelah bekerja lebih dari lima tahun. Kalau ditanya ke media bersangkutan, kenapa memberi upah di bawah layak, pasti jawabannya akan beragam, seperti bisnis media yang sulit (media harus memperhatikan oplah, rating, TV share, dll…)

Kenyataan upah jurnalis yang tidak layak ini menjadi kegelisahan banyak pihak, terutama tentu saja jurnalisnya sendiri. Jika upah layak diberikan kepada jurnalis, dipercaya mutu produk jurnalisme meningkat. Sebab, jurnalis bisa bekerja secara profesional dan tidak tergoda menerima amplop yang merusak independensi jurnalis. 

Kalau kata teman saya, F, seorang wartawan di media online, setiap orang punya pilihan hidup. “Kalau sudah memilih jadi wartawan, ya bekerjalah sebaik-baiknya wartawan. Kalau tidak siap dengan konsekuensinya, bisa cari pekerjaan lain… ” Hmmm… 

Bagaimana dengan media asing? Menurut payscale.com, gaji jurnalis di amerika Serikat, berdasarkan data 24 maret 2011, antara US$ 25,542 (Rp 217.183.626) sampai US$ 45,517 (Rp 387.031.051) per tahun atau antara Rp 18.098.635 sampai Rp 32.252.587 per bulan (masa kerja bervariasi, mulai dari 1-20 tahun). Biaya kehidupan di sana memang tinggi, tetapi jurnalis juga dapat fasilitas yang luar biasa dari tempat bekerja. Makanya gak heran, kalau di film-film, jurnalisnya keceehh gituuu… pakai baju keren, naik mobil keren, tinggal di apartemen keren…. Hahhahaa. 

Suatu hari, teman saya berkata, “Wil, gue diterima kerja. Gajinya lebih gede dari lo. Kerjaannya ringan, pula! Cuma di kantor aja, enggak banyak kerjaan lapangannya.”

Saya cuma tersenyum menanggapi. Gaji teman saya memang bisa lebih besar. Pekerjaannya, juga mungkin lebih ringan, “cuma di kantor aja”, yang artinya dia tidak perlu berpanas-panasan ngejar berita, bisa pakai baju keren, kulit dan rambut terawat karena setiap hari bekerja di ruang ber-AC.

Tetapi, berkaca pada diri sendiri, bukan jenis pekerjaan seperti itu yang saya inginkan. Dalam hati saya bangga dengan diri sendiri: gaji orang lain boleh lebih gede dari gue, tapi berapa banyak daerah di pelosok nusantara yang sudah dikunjungi? Hehehhee.

Suatu hari, teman saya yang lain berkata, “Gaji gue lumayan. Fasilitas dari kantor juga cukup lengkap. Tetapi, kalau mau cuti susah banget, gak bisa jalan-jalan lama deh sekarang….” Setelah beberapa tahun bekerja, dia memutuskan resign dan menjalani passionnya sebagai traveler.

Bagi saya, yang hobi jalan-jalan dengan kondisi kantong tipis, jadi wartawan itu adalah jalan tengah. Saya bisa mendapatkan uang hallal untuk memenuhi hidup sehari-hari dan sedikit menabung untuk masa depan, sekaligus sesekali dapat tugas dinas ke luar kota dari kantor.

Bagaimana dengan kamu? Ingin jadi wartawan?

Kalau kata bos gueh, Pak JO, menjadi wartawan itu, vocatio. Panggilan hidup. 

 

Jakarta, 16 Mei 2017

Salam, Denty.

rambutkriwil.com

 

Keterangan foto: Dalam tugas mewawancarai Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dalam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Belawan, Sumatra Utara, Juni 2015. Baru sadar, perjalanan laut selama tiga hari dua malam membuat badan lengkettt dan bau amis cuyy!! Padahal cuma bawa baju sepotong atasan dan bawahan aja karena dipikirnya nggak mau ribet bawa barang banyak. Huhuhuuu. (Fotografer: Denny Irwanto/Metrotvnews.com)