Aku ingin dibaptis, nderek Gusti Yesus. Aku ingin kembali menjadi seperti ketika aku dilahirkan,” kata-kata itu meluncur dari bibir kakek, pada suatu hari yang senyap.

Sebelumnya, kakek bukanlah orang Katolik. Seperti kebanyakan orang Jawa tradisional, eyang awalnya menganut paham kejawen. Dia tidak menganggap ajaran agama dalam pengertian agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku.

Kakek saya keturunan Kraton Yogyakarta, dengan nama Raden Indro. Dalam dokumen-dokumen hidupnya, seperti KTP dan Kartu Keluarga, nama eyang ditulis R. Indro. Nama R. Indro, selanjutnya bukan lagi Raden Indro, tetapi Robertus Indro.

Saya tidak tahu, mengapa dan sejak kapan eyang ingin dibaptis. Kakek beberapa kali cerita mengenai Romo (pastur atau imam gereja) yang dijumpainya saat masih kecil. Interaksi dengan para romo yang berbekas di hati, mungkin menggerakkan iman dan kepercayaan eyang pada Yesus Kristus.

Di antara hawa panas kota Yogyakarta yang membakar kerongkongan, di antara kenangan-kenangan yang selalu hadir di ingatan, eyang kakung menyimpan keinginan dibaptis pada kedalaman hatinya seorang. Menyadari adanya perbedaan keyakinan antara dia dan istrinya yang beragama Islam, eyang memutuskan untuk menahan ego itu. “Aku tidak ingin ada yang terluka. Keputusanku harusnya bisa direlakan,” katanya menjelaskan.

Suatu hari, eyang kakung terbaring koma di rumah sakit. Kulit wajah, tangan, dan kaki eyang terlihat keriput. Tulang-belulang di lutut dan pergelangan tangan terlihat jelas. Eyang bagaikan tulang belulang terselimutkan kulit tipis.

Selama berhari-hari kabel dan selang cairan obat dan makanan menempel di hidung, tangan, dan mulutnya. Dia terbaring lemah. Ayah, ibu, paman, dan bibi bergantian menjaga. Sesekali, saat akhir pekan, saya menggantikan peran ibu untuk menemani eyang di rumah sakit.

Suatu malam, karena tidak bisa tidur, saya duduk di sebelah eyang. Lampu kamar tidur bercahaya redup. Televisi menyala tanpa suara. Saya memandangi eyang kakung yang tergeletak tanpa tenaga. Saya memegang tangan eyang, membelainya lembut.

Sebuah dorongan spiritual membuat saya membisikkan Doa Bapa Kami di dekat telinga eyang. “Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga,…

Belum sempat doa itu selesai terucap, tangan eyang bergerak-gerak halus. Eyang terbatuk. Dia mengeluarkan suara sesenggukkan. Lalu air mata mengalir di pipinya. “Rama kawula ing Swarga, Asma Dalem kaluhurna…” bibir eyang bergerak, mengeluarkan suara lirih.

Panik, saya bergegas keluar kamar. Saya memanggil tante yang sedang tidur di selasar rumah sakit. “Eyang bangun… Eyang sudah bangun!” kata saya, setengah berteriak. “Eyang meminta doa Rama Kawula, Bapa Kami…” kata saya, terbata.

Tante segera masuk ke dalam kamar. Menggenggam lembut tangan eyang yang baru saja bangun dari tidur panjang, lalu melanjutkan doa Bapa Kami dalam Bahasa Jawa. Sebagai orang Jawa, saya merasa menyesal karena tidak terbiasa dan tidak hapal doa Bapa Kami dalam bahasa Jawa, bahasa ibu yang dikuasai eyang kakung.

Sepanjang doa dikumandangkan, air mata eyang kakung mengalir, seperti aliran air sungai yang bening. Setelah doa selesai diucapkan, tante menyuruh saya memanggil perawat dan dokter yang bertugas. Setelah peristiwa itu, kesehatan eyang mulai pulih.

Namun, bukankah kehidupan adalah misteri ilahi? Setelah eyang putri tutup usia, suatu hari, eyang kakung kembali mengutarakan niatnya untuk menerima percikan sakramenn baptis. “Bila selama ini aku menahan diri demi menjaga perasaan istriku, maka kali ini aku akan melangkahkan kaki sesuai kata hati,”  kata eyang kakung sambil berlinang air mata. “Aku ingin dibaptis. Aku ingin nderek Gusti Yesus.”

Pada 2013, eyang kakung menerima sakramen baptis. Sebuah pesta perjamuan sederhana diselenggarakan di rumah eyang di Yogyakarta.

“Bagaimana perasaannya, Eyang?” tanya bude (kakak ibu saya), usai penerimaan sakramen baptis.

“Saya senang karena Nderek Gusti Yesus, namun masih sedih karena harus menempuh jalan yang berbeda (dengan istri).”

Tujuh hari setelah pembabtisan, eyang kakung menutup mata untuk selama-lamanya.

Dalam perjalanan menuju Gereja Bapa Kami (Pater Noster Church) yang terletak di Bukit Zaitun, Yerusalem, saya teringat akan almarhum eyang kakung. Kakek saya menutup mata tepat saat berusia 86 tahun, hanya sepekan setelah dibabtis.

Gereja Bapa Kami adalah gereja yang dibangun lokasi saat Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, satu-satunya doa yang diajarkan Yesus kepada murid-muridnya.

Ternyata, rombongan peziarah terlalu pagi sampai gereja karena gerbang belum dibuka. Saya dan keluarga menunggu di depan gerbang. Pedangang-pedagang pohon zaitun menghampiri, menawarkan segenggam batang dan daun zaitun yang terkenal dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti kanker, serangan jantung, diabetes, asma, dan peradangan sendi.

Pukul 10.00, gerbang gereja dibuka. Di dalam gereja ini ada pelataran dan lorong-lorong dengan dinding yang dipenuhi dengan keramik berisi Doa Bapa Kami dari berbagai Bahasa, seperti Jepang, Korea, dan Arab. Kalau negara lain, hanya memiliki sedikit bahasa, Indonesia kebalikannya. Indonesia kaya akan bahasa daerah.

Yoppi Taroreh, pemimping rombongan, menuturkan, saat Gereja Bapa Kami mulai dibangun, orang Sumatra Utara datang ke biarawati penjaga gereja dan meminta doa Bahasa Batak dipasang di dinding gereja. Setelah doa Bahasa Batak dipasang, orang Jawa juga datang dan meminta hal yang sama.

Kemudian secara berturut-turut, orang Palembang datang ke suster jaga dan meminta doa Bapa Kami dalam bahasa Palembang dipasang. Begitu seterusnya hinnga dinding gereja dipenuhi doa Bapa Kami dalam Bahasa Jawa, Batak, Palembang, Tana Toraja, Papua, Sunda, Biak, Karo, dan Bahasa Indonesia.

Bahasa-bahasa tradisional Indonesia itu terpasang berderet-deretan dengan bahasa dari negara-negara lain. “Setelah suster sadar doa yang terpasang kebanyakan bahasa tradisional Indonesia, suster tidak mau lagi memasang. Kalau dipasang semua, dinding akan penuh dengan doa dalam bahasa tradisional kita,” kata Yoppi. Peziarah tertawa mendengar cerita itu.

Saya berdiri mematung, memandang doa Bapa Kami dalam Bahasa Jawa di Gereja Bapa Kami, Yerusalem. Di tempat ini, saya terkenang eyang kakung dan perjalanan hidupnya yang mengingatkan akan iman dan kesetiaan. Bahasa telah mendekatkan hubungan manusia dengan Sang Kuasa. Bahasa Jawa mendekatkan eyang kakung pada Gusti Allah. Di Gereja Paster Noster, saya akhirnya saya bisa merapalkan doa Rama Kawula untuk eyang kakung yang setia mengikuti jalan Allah…

Rama kawula ing swarga

Asma Dalem kaluhurna

Karaton Dalem mugi rawuha

Karsa Dalem kalampahana

wonten ing donya kados ing swarga

kawula nyuwun rejeki kangge sapunika

sakathahing lepat nyuwun pangapunten dalem

kados dene anggen kawula ugi ngapunten dhateng sesami

kawula nyuwun tinebihna saking panggodha

saha linuwarna saking piawon. Amin.

 

Jakarta, Sabtu malam paskah, April 2017