Travel brings power and love back into your life” – Elisabeth Gillbert, Eat, Pray, Love

Bagi sebagian orang, melakukan perjalanan merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan diri dari segala duka dan nestapa. Entah duka karena cerai dari suami atau istri, putus dari tunangan, atau sebagai momentum kebangkitan setelah berkali-kali cinta ditolak. Bagi beberapa orang lain, perjalanan merupakan langkah mengatasi baper.

Sudah sering dengar istilah “baper” kan? Teman saya, Agnes Theodora, menjelaskan makna baper sebagai “perasaan campur aduk akibat suatu persitiwa berkaitan dengan orang lain yang cukup penting di hidup ini”.

Contohnya, baper muncul ketika Whatsapp Messenger hanya dibaca oleh gebetan dan tidak dibalas selama berhari-hari. “Menunggu balasan WA satu hari terasa seperti satu abad,” kata Agnes, sambil berkali-hali mengintip layar ponselnya yang kehilangan signal saat kami mendarat di Labuan Bajo. (Signal HP aja hilang, gimana signal perasaan dari dia, Ness??? *langsung digampar).

Menurut Agnes, baper juga bisa muncul karena ada perasaan dekat dengan “si dia” padahal sesungguhnya hanya dianggap sebagai sahabat. *NANGISSS BOMBAAAYYY T.T sediiihhh….

Baper akut membuat sebagian orang terlalu mudah bahagia dan terlalu gampang bersedih, bahkan sampai kepingin mengahiri hidup dengan bunuh diri, membuat nafsu makan hilang, susah tidur, dan berbagai aktivitas keseharian terganggu karena kurang konsentrasi.

Menyadari betapa berbahayanya baper di kalanganan generasi milenials, Agnes Theodora, Hussein Abri Yusuf, dan saya memutuskan untuk melakukan perjalan ke Flores. Sejenak kami ingin meninggalkan hingar bingar dan kebisingan hidup di kota. Dengan menikmati keindahan alam Flores, kami berharap dapat menemukan makna hidup dan sukses mengatasi baper agar hidup terasa lebih mudah di kemudian hari.

*

Meskipun rencana berangkat ke Flores sudah ada sejak jauh-jauh hari, kenyataannya kami baru membeli tiket keberangkatan tiga hari menjelang tanggal yang ditentukan! Agnes, Hussein, dan saya berangkat ke Flores tanpa itinerary, tanpa booking hostel, ataupun sewa kapal! “Santai saja… kita nikmati hari!” kata Hussein, enteng.

Begitu sampai Labuan Bajo, kami baru sibuk cari penginapan. Keluar masuk hotel mewah sampai hostel bapuk untuk menemukan tempat bermalam. And you know what, hotel-hotel yang kami datangi mayoritas sudah full booked. “Lo sih Sen, suruh booking hostel gak mau,” kata saya.

Kan sebelum berangkat gue sakit. Sekarang aja, masih sakit. Butuh dirawat,” jawab Hussein dengan suara parau.

Alesan!” Agnes dan saya berseru, berbarengan.

Selain cari penginapan, kami juga wira-wiri mencari agen travel yang menawarkan program sailing Flores. “Ada kapal ke Flores, besok berangkat. Dua orang, pasangan suami istri, sudah mendaftar” kata salah satu pegawai travel .

Agnes, Hussein, dan saya, saling bertatapan, lalu menggeleng kompak. Perjalanan ini bertujuan mencari makna anti-baper, kalau jalannya bareng pasangan suami istri, bisa-bisa malah tambah baper! Hehehe… Apalagi harga paket wisatanya lumayan mahal, bisa-bisa amsyongg perjalanan ini. Sudah baper, tombok pula!

Kami melanjutkan pencarian demi mendapatkan kapal menuju gugusan Kepulauan Komodo. “Gimana kalau kita makan dulu, sebelum memutuskan mau naik kapal yang mana? Perut kenyang, pikiran tenang,” kata Hussein.

Setuju! Tiga domba yang hilang lalu terdampar di sebuah kedai seafood, memesan ikan bakar, cumi goreng sambel kecap, dan tumis kangkung.

Nikmat mana yang hendak kau dustakan anak muda, ketika menyantap lezatnya ikan bakar dengan daging yang empuk dan segar, cumi goreng kriuk-kriuk, juga sambal bawang yang menggoyangkan di lidah!

Saat menyantap ikan bakar dan cumi goreng, tiga domba yang tersesat tidak ingat sedang mencari kapal untuk sailing Flores. Tiga domba yang tersesat sama sekali tidak sadar, hidup sedang terombang-ambing karena tidak ada kepastian tempat bermalam. Live today coz tomorrow never comes, mungkin benar!

Permisi mas dan mbak, cumi gorengnya enak ya?” kata seorang perempuan, membuyarkan kenikmatan menyantap seafood.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba! Aha! Agnes, Hussein, dan saya, saling berpandangan. Seperti ada lampu bohlam yang menyala di kepala, terbesit ide yang sama. Enaaak!!!” jawab kami kompak. Hussein menawarkan perempuan itu mencoba cumi goreng yang tersaji di piring. “Sumpah, ini enak banget! Harus dicoba!!” kata Hussein sambil menyodorkan potongan terakhir cumi goreng di piring saji.

Stella menolak. Gerak-geriknya kikuk. Tetapi Hussein tetap kekeuh menyodorkan sepotong cumi goreng kepadanya. Saat Stella mencicipi cumi goreng, Hussein langsung menembak dengan pertanyaan yang sudah terukir di kepala: “Kalian mau sailing Flores ya? Sudah sewa kapal? Kami bisa ikut rombongan kalian gak?” 

Percayalah saudara-saudara, saat kepepet bungkus rasa malumu! Nggak usah jaim, dan utarakan maksud kamu hidup di dunia ini! (Maaf ya Stella, akhirnya kamu mengetahui bahwa tujuan Hussein menawarkan cumi goreng tak lain tak bukan karena kami ingin nebeng kapal kamu! T.T)

Stella kaget melihat kami yang sangat agresif minta tebengan sailing Flores. Wajah Stella menunjukkan tatapan: Kenal juga enggak, main nebeng ajaa!

Kami akan bayar berapapun uang patungan kalian,” kata Hussein meyakinkan.

Stella lalu memanggil teman-temannya, yang berjumlah enam orang. “Sebentar ya, saya tanya temna-teman dulu,” kata dia.

Setelah mereka berdiskusi, Stella menggangguk setuju. “Horeee!!!!” Hussein, Agnes, dan saya, bersorak kompak! Kami langsung bersalam-salaman dengan rombongan Stella, sok kenal sok akrab. Wkwkwkwkkw!!

Perjalanan sailing Flores kami lakukan selama tiga hari dua malam. Kami mengunjungi beberapa tempat eksotis, seperti Pulau Padar, Pulau Rinca, Pulau Kanawa, dan Pink Beach. Kami menyelam, menyusuri terumbu karang, berenang bersama manta dan ikan-ikan kecil. Kami mendaki bukit-bukit yang tinggi menjulang, berfoto bersama pasir putih, ranting pohon, dan kapal-kapal yang bersandar.

Selama sailing Flores, kami sadar meskipun setiap hari kami mudah baper namun hidup menawarkan banyak pengalaman seru dan menantang. Di antara perasaan-perasaan baper, kami bahagia punya teman baru. Kami juga bahagia bisa mengibarkan bendera merah putih di puncak Gili Lawa, menyusuri Pantai Merah Jambu, menyelam dan menikmati keindahan bawah laut, serta menikmati sunset di pelosok Tanah Air.

Kalau kamu merasa baper, atau merasa sedih karena hidup berjalan tidak sesuai harapan, angkat gelasmu kawan… dan mari kita mulai berpetualang! Perjalanan tidak akan mengusir kesedihan atau menyelesaikan segala persoalan, tetapi selama perjalanan kita akan mensyukuri setiap nikmat dalam hari-hari yang berharga! Cheers!

Jakarta, 22 Maret 2017