Oleh: Denty Piawai Nastitie

“Kita sudah sampai di Pulau Kanawa,” kata Ardin, anak buah kapal.

Hussein Abri Yusuf, Agnes Theodora ,  dan saya saling berpandangan. “Sudah sampai?” saya bertanya, kebingungan.

Ardin mengangguk. Dia lalu melempar pandangan ke arah utara. Tangan kanannya menunjuk sebuah pulau yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari tempat kapal berlabuh.

Saya harus memincingkan mata untuk melihat pulau sebesar kelereng di garis cakrawala. Pulau berwarna hijau yang dikelilingi terumbu karang, pantai pasir putih, dan air laut yang bening dengan gradasi biru tua dan biru muda.

“Masih jauh, kenapa kita tidak mendekat saja?” kata saya, mendesak.

“Tidak bisa. Pulau itu dikelola orang asing. Kita tidak bisa berlabuh di sana. Kalau mau berlabuh, harus menyewa kapal khusus,” jawab Ardin.

“Lalu bagaimana cara ke sana?”

“Hanya ada dua pilihan, pertama berenang.”

“Yang kedua?”

“Yang kedua juga berenang,” tuturnya, sambil ngekek.

Saya mendengus, kesal. Kenapa sih ada orang asing yang hobinya menguasai kekayaan alam Indonesia dan membentengi pulau seolah itu milik pribadi.

“Jadi, gimana? Mau tetap di kapal hingga matahari terbenam atau pergi ke pulau?”

Ardin duduk di atas dek kapal sambil meluruskan kaki. Dia menyalakan lighter, lalu menghisap sebatang rokok. Kapal bergoyang, terombang-ambing digerakkan gelombang.

Saya memandang pria dengan tubuh hitam legam itu. Kalau saya sebagai wisatawan merasa kesal dengan pulau-pulau yang dikuasai orang asing, bagaimana penduduk lokal seperti Ardin? Apakah dia merasa terjajah di negeri sendiri?

Saya menarik nafas panjang, lalu mulai menyiapkan kaca mata berenang. Dalam waktu singkat, Hussein dan saya menyelam ke laut. Membenamkan diri di air asin yang dalamnya tak seorang pun tahu, seperti perasaan si dia yang sulit ditebak. (Eh!)

Angin bertiup. Ombak bergulung. Terik matahari membakar kulit. “Hati-hati, ya!” kata Agnes, sambil melambaikan tangan. Dia tidak berenang ke Pulau Kanawa karena tidak bisa menyelam. Saya menoleh ke Agnes, melihat keningnya berkerut-kerut.

Pulau Kanawa adalah sebuah pulau kecil di Flores. Sekilas, namanya mirip dengan Pulau Kenawa, yang terletak di dekat Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa.

Pulau Kanawa dulunya dikelola warga lokal. Sejak 2010, pulau itu dikuasai orang asaing berkebangsaan Italia dengan sistem hak guna usaha selama 25-30 tahun. Selain Kanawa, pulau lain, seperti Bidadari dan Sebayur, juga dikuasi orang asing. Dari 162 pulau di Manggarai Barat, 13 di antaranya merupakan pulau berpenghuni. Sejumlah pulau tak berpenghuni dilirik investor.

Di Kanawa, pengelola membangun bungalow di bibir pantai, jembatan kayu, dan dermaga. Keindahan Kanawa membuat pulau itu diserbu turis asing dan turis lokal berduit tebal.

Untuk mengunjungi Pulau Kanawa, wisatawan berlayar dari Pelabuhan Labuan Bajo. Di Kanawa, pengunjung dapat menyewa tenda dome, bungalow, atau rumah berbentuk gazebo. Harga sewa rumah sudah termasuk kapal dan makan selama menginap. Saya tidak tahu berapa harga sewa keseluruhan, katanya sih mencapai jutaan rupiah.

Lalu bagaimana kalau ada pelancong yang hanya ingin mengunjungi pulau ini tanpa menginap? Pengelola “bermurahan hati” mempersilakan siapa saja datang. Syaratnya, kapal harus berhenti setidaknya 500 meter dari bibir pantai. Turis diminta berenang. And here we go, berenang menuju pantai!

Awalnya, menyelam terasa begitu menyenangkan! Hidup bebas, lepas dari kebisingan dan kepenatan kota. Saya, yang sebagian besar masa kecil dihabiskan dengan les berenang, mencintai air. Selain makanan dan kamu yang ada jauh di sana (halah!), berenang adalah hal paling saya cintai dalam hidup.

Namun, semakin lama, ombak semakin bergulung. Gelombang bukannya membawa tubuh mendekati pantai, justru menarik menjauh. Beberapa kali saya menelan air asin. Nafas semakin pendek. Kulit kian terbakar. Saya melihat Hussein mengerahkan segenap kemampuan. Semakin lama, jaraknya semakin jauh.

Saya memutuskan tidak menunggu Hussein. Terbesit dalam pikiran, yang penting bisa segera sampai pantai. Bisa mampus ditelan laut kalau terlalu lama terombang-ambing!

Setelah sekitar 30 menit berenang tanpa henti, saya mencapai bibir pantai. Saya segera merebahkan tubuh di hamparan pasir putih. Kepala saya menengadah ke langit. Biru. Putih. Abu-abu. Menjadi satu.

Angin bertiup. Kepala berkunang-kunang. Tanpa air minum, tenggorokkan terasa kering. Saya terdampar di sebuah pulau asing. Lalu, saya teringat Hussein! Mana dia??? Saya melihat ke arah laut, Hussein tidak terlihat! Jangan-jangan dia balik ke kapal! Sialan, gue ditinggalin di pulau sendirian!

Tiba-tiba badan saya menggigil. Pikiran buruk berkecamuk. Jangan-jangan Hussein… tengg.. ge… laaam…

Ketika sudah kepayahan mencari, saya melihat seorang pria berjalan pelan di jembatan kayu. “Hussein!” kata saya, sambil melambaikan tangan.

Hussein bergerak mendekat.

“Gua kira lo tenggelam!”

“Enggaklah! Gue berenang sampai dermaga terus jalan kaki,” jawab Hussein.

“Boleh lewat jembatan itu?”

Hussein menggeleng. “Petugas minta uang Rp 50 ribu untuk lewat jembatan.”

“Dasar petugas matre!” umpat saya, sambil bersandar pada pohon kelapa.

Di Pantai Kanawa, saya melihat turis asing datang naik perahu karet yang bersandar tepat di bibir pantai. Beberapa bocah berlarian. Orang dewasa rebahan di hammock sambil menegak air kelapa.  Ingin rasanya mengecap seteguk air untuk menyegarkan tubuh.

Saya menoleh ke arah Hussein, “Lo bawa duit buat beli air?”

Hussein menggeleng. “Tadi aja lewat jembatan gue belum bayar. Petugas dermaga kasih gue peringatan supaya tidak lewat sini lagi,” katanya.

Kami kembali menyelonjorkan kaki. Mengumpulkan sisa-sisa tenaga sebelum kembali berenang ke kapal.

Mengunjungi Pulau Kanawa termasuk dalam sailing Flores yang saya lakukan bersama Hussein dan Agnes, Mei 2016. Selain Kanawa, kami juga berkunjung ke Pulau Padar, Pulau Rinca, dan Pink Beach yang berada di dalam gugusan Kepulauan Komodo. Selain berlayar, kami juga overland  ke Waerebo.

Dalam perjalanan menuju Waerebo, hati saya berbunga-bunga. Hampir seminggu di tanah Flores, saya melihat pemandangan indah berupa hamparan pasir putih dan pulau-pulau kecil yang berkilauan. Saya juga menyusuri terumbu karang dan aroma asin air laut.

Kini, jalan berkelak-kelok di antara lebatnya hutan terhampar. Setiap kali singgah, penduduk lokal dengan ramah menyapa dan menawari kopi Manggarai. Hati senang, pikiran tenang, dan perut juga kenyang setelah siang tadi menyantap lezatnya ikan bakar di pinggir pantai. Dengan berbagai kenikmatan hidup yang ada, siapa tidak terbuai dan jatuh cinta pada  keindahan alam Flores.

Di Manggarai, saya bertemu dengan Romo Ricard dan Romo Dino, imam di Gereja Labuan Bajo. Sambil menegak minuman dingin, Romo Ricard bercerita mengenai nasib Flores yang kian ironis karena dikelilingi kekayaan alam sekaligus dikepung dengan kepentingan-kepentingan golongan tertentu. “Kepentingan pejabat rakus membuat rakyat menderita,” kata Romo Richard.

Romo Ricard menuturkan, orang-orang “kaya” kong-kalingkong degan sejumlah pejabat di Ibu Kota untuk menguasai asset daerah. Investor membangun resort mewah. Mempromosikan keindahan alam ke negara-negara di Eropa dan Amerika. Mematok harga tinggi untuk setiap kunjungan wisata. Meraup keuntungan besar dari setiap lini bisnis yang dijalani.

Tidak hanya di Pulau Komodo, sejumlah pelaku bisnis juga membeli hamparan tanah di Labuan Bajo untuk membangun resort-resort mewah. Masyarakat lokal yang minim pengetahuan sepakat menjual tanah di pinggir pantai dengan harga murah. Uang lalu habis untuk membangun rumah baru.

Dampaknya, sebagian masyarakat kini tak lagi memiliki tanah untuk tempat kapal berlabuh. Mereka yang tadinya bekerja sebagai nelayan, kini banting tulang menjadi tukang ojek.“Bahkan, sepenggal tanah di Pantai Pede, satu-satunya tempat terbuka untuk masyarakat biasa, sudah dilirik investor. Di tempat itu, investor berencana membangun hotel mewah,” kata Romo Ricard.

Masyarakat yang sadar akan potensi Flores, mengembangkan daerah itu sebagai tujuan wisata. Mereka menawarkan jasa sewa kapal untuk berlayar di Kepulauan Komodo, menggunakan keahlian memasak untuk membuka usaha catering, serta membangun rumah untuk dipakai menjadi homestay murah.

Namun, sebagian masyarakat lainnya sulit mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan bahasa dan teknologi. Masalah serupa, rasanya juga terjadi di daerah lain seperti Raja Ampat di Papua. Konon, banya tanah di Raja Ampat sudah dibeli artis-artis Ibu Kota untuk dijadikan resort mewah.

Malam semakin larut. Mata kian mengantuk. Bersama Hussen dan Agnes, saya kembali ke penginapan. Sebelum terlelap, saya terkenang percakapan dengan seorang teman yang bercita-cita ingin meninggalkan zona nyaman hidup di kota besar demi tinggal dan bekerja di Flores. “Flores itu eksotis. Penuh potensi, sekaligus menawarkan segala ironi,” katanya. Seiring debur ombak dan desir angin yang menutup malam, kelopak mata erat terpejam… Esok, menawarkan cerita berbeda.

Jakarta, 17-01-2017