“Tolong pak, tolong… Anak saya diculik!!” samar-samar saya jeritan seorang ibu tersengar melalui handy talkie di markas wartawan di daerah Jakarta Selatan. Alat komunikasi itu terhubung dengan alat milik aparat penerima laporan masyarakat.

 
Saya, yang sedang menyeruput kopi, tersedak. “Ada apa tuh?”

“Penculikan!!!” seru teman saya. Sambil tergesa-gesa, dia lalu berdiri dan mengemasi barang-barangnya, seperti telepon genggam, kamera, dan rokok, masuk ke dalam tas. Beberapa jurnalis lain segera menyambar kunci motor. “Dengerin woy, alamatnya di mana!” kata teman saya.

Di antara jeritan suara sang pelapor, saya mendengar alamat “penculikan” di Jalan Ampera, Ragunan, Jakarta Selatan. “Deket kantor pengadilan tuh! Ayo buruan, lo ikut gak?”  tanya teman saya.

Saya, sedikit bingung harus bagaimana… melihat teman-teman jurnalis tergesa-gesa menuju TKP (tempat kejadian perkara), saya ikut saja. “Gua nebeng yaa!” kata saya, lalu naik ke atas motor.

Wartawan perkotaan memang terkenal sebagai tim buser (buru sergap). Mendapat informasi apa pun, kapan pun, di mana pun, langsung bergerak ke lokasi peristiwa. Mulai dari kebakaran, kecelakaan, pencurian, penculikan, penipuan, pemerkosaan, penjambretan, dan pe… pe… lainnya, kami segera meluncur ke TKP. Sudah menjadi bagian tugas seorang pewarta untuk sebisa mungkin menjadi yang pertama tiba di lokasi kejadian dan melihat peristiwa dengan mata kepala sendiri.

Dengan ritme kerja yang serba cepat, serba tergesa, saya sempat mengalami kesulitan adaptasi di awal-awal tugas. Untungnya saya punya teman-teman pewarta dari berbagai media. Beberapa orang adalah fotografer, kontributor televisi, reporter media online, atau repoter media cetak. Kami sering berbagi info peristiwa. Kalau ada kejadian, saya sering membonceng teman wartawan yang jago menerobos kemacetan. Kadang saya heran, mereka ini wartawan atau pembalap sihh? 😀


Singkat cerita, begitu mendapat laporan ada seseorang “diculik”, kami meluncur ke lokasi kejadian. Menembus kemacetan Kota Jakarta…. menerobos teriknya sinar matahari yang membakar kulit dan menerabas debu-debu sisa proyek pembangunan yang beterbangangan! 

“Kira-kira kenapa yaa tuh orang diculik?” tanya Bang Kriting, camera person TV K, saat motor kami berhenti di dekat lampu merah yang menyala. Suaranya hampir tidak terdengar karena berbarengan dengan bunyi klakson bus yang memekakan telinga!

“Gua yakin sih, ini masalah harta! Biar bisa minta uang tebusan!” jawab Bang Vandi, teman saya, dari motor sebelah. 

“Kok Bang Vandi yakin?” tanya saya.

“Iyalah pasti…. Ngapain orang diculik kalau bukan karena masalah harta?” 

Begitu lampu hijau menyala, kami kembali tancap gas. Saling adu kecepatan menuju lokasi peristiwa. 

Di dekat pengadilan negeri Jakarta Selatan, motor berbelok ke kanan. Menyusuri gang dengan impitan rumah-rumah penduduk di sisi kiri dan kanannya. Saat itu, jantung seperti berdegup kencang. Antara penasaran dan ngeri-ngeri sedap membayangkan kalau ketika kami datang para penjahat masih ada di lokasi kejadian. Waah bisa jadi seperti film action nih!

Setelah menyusuri gang sempit, melewati rumah-rumah penduduk, kami sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda penculikan atau gerak-gerik mencurigakan dari orang-orang sekitar. Suasana perkampungan itu malah tenang, adem ayem.

Di salah satu warung, motor berhenti. Kepada pedagang, saya bertanya rumah Warsinah, korban penculikan. “Tuh, rumahnya di sebelah,” kata pedagang itu.


Beberapa teman jurnalis saling memandang. “Rumahnya adem ayem begitu…” tutur Bang Badri.
“Saya coba masuk deh,” kata saya. Teman-teman mengangguk setuju. 

Saat saya masuk ke dalam rumah itu untuk mengecek informasi, teman-teman menunggu di warung.


Rumah Warsinah tidak terlalu besar, tetapi halamannya luas. Di teras rumah itu, seorang polisi duduk sambil berbicara menggunakan handy talkie.

“Permisi pak. Bu Warsinah ada?” tanya saya.

“Ada, itu di dalam. Mbak siapa ya?” kata Pak Polisi.

“Saya wartawan pak, dapat info Warsinah diculik.”

“Enggak… Enggak diculik…”

“Masa sih pak? Bapak yakin?” tanya saya, masih tidak percaya.

“Yakin Mbak, ‘kan saya polisinya…” jawab Si Bapak. Oiya ya! Hahahhaaa.

“Terus dia kenapa Pak?”

“Kesambet Mbak… Kesambet setan. Itu dirumah lagi diruwat,” kata Pak Polisi. 

“D-i-r-u-w-a-t? Kenapa infonya diculik?” tanya saya.
“Tadi Warsinah kesambet setan, terus teriak-teriak sambil menelepon ibunya. Ibunya, yang ada di luar kota kaget. Ibunya pikir, Warsinah diculik. Jadi lapor ke polisi,” jelas Pak Polisi itu. “Kalau Mbak tidak percaya lihat aja ke dalam rumah,” katanya lagi.

Saya lalu diajak masuk ke rumah. Di ruang tengah, seorang perempuan sedang duduk lesehan di antara beberapa pria. Seorang laki-laki dengan jubah warna hitam membisikan doa di telingan perempuan itu, lalu memerciki dia dengan air kembang.“Itu yang namanya Warsinah!” bisik Pak Polisi, sambil menunjuk ke arah perempuan dengan rambut panjang.

Saya sempat terbengong-bengong mendapat kenyataan di siang bolong itu. Pertama karena ternyata informasi ada perempuan diculik itu HOAX. Kedua, karena di tengah kota Jakarta yang serba megah dan mewah, peristiwa kesambet setan dan budaya ruwat masih lestari. 

Kadang saya berpikir, kesambet setan, kesurupan, ketempelan jin, benarkah terjadi? Ataukah manusia yang begitu rapuh menghadapi tekanan kehidupan sehingga mudah kehilangan akal sehat dan “terpengaruh” bahkan oleh sesuatu yang tak kasat mata? ~ ~


Setelah mengecek informasi mengenai Warsinah-yang-katanya-diculik-ternyata-ketempelan-setan-, saya segera keluar rumah. Di dekat warung, teman-teman menunggu. Wajah mereka gusar dan tak sabar. “Gimana? Ada penculiknya?” 

Saya menggeleng. Emang bener diculik, tetapi diculik setan, bukan diculik manusia! Sekarang Warsinah lagi diruwat karena ketempelan setan,” jawab saya.

Beberapa detik teman-teman saya terdiam. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. “Sialan, sudah jauh-jauh kemari….” kata Mas Io, wartawan BJ.  

Kami lalu balik kanan, kembali ke markas wartawan. Menanti info apa lagi yang akan datang untuk diliput dan dikabarkan.

Keterangan foto: Seorang anak bermain dengan senjata mainan di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Foto diambil tahun 2014. (Sometimes life gets hard and difficult, but what we can deal with shows how strong we really are! Be strong so you have reasons to not commit suicide and be possesed by supernatural beings. :D)



Setelah deadline, 6-10-2016