“Are you happy to be a journalist?” kawan saya, Luhki Herwanayogi, bertanya.

Tidak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan ini. Saya tersenyum, dan menangguk. “I couldn’t find any better job rather than to be a journalist, so far.”

Saat itu, kami sedang duduk berhadap-hadapan, di sebuah kedai bir kecil di daerah Jakarta Selatan. Yogi merupakan seorang sutradara, penulis, juga fotografer asal Yogyakarta. Siang tadi, dia menemani saya bekerja di sebuah kedai kopi. Sore harinya, kami bertemu teman lama di Cibinong. “Malam kita hang-out, yuk! Tapi, sambil aku kerja yaa…” kata dia.

Lalu, kami terdampar di kedai bir ini. Satu-satunya tempat nongkrong yang masih buka sampai larut malam, selain sevel, indomart, alfamart, atau kosan teman. :p

Yogi membuka komputer jinjing yang menyala, lalu larut pada tahap akhir penyelesaian naskah film. Di dekatnya ada sebuah buku berjudul “A Work in Progress” karya Connor Franta. Saat itu, udara sedang sejuk sehabis diguyur hujan. Kami mendapat tempat duduk yang cukup strategis di tengah ruang yang remang-remang. Di meja kami tersaji dua botol minuman dingin rasa jeruk nipis dan sepiring keripik jamur dengan saus mayonaise.

Hari itu hari Senin. Kedai tidak terlalu ramai, hanya beberapa meja terisi. Beberapa pengunjung adalah pria kantoran yang masih mengenakan kemeja lengan panjang (yang tentu saja digulung hingga ujung siku). Ada pula sekelompok remaja yang sibuk berinteraksi dan berkomunikasi… dengan telepon genggam. Mereka tersenyum, sesekali tertawa. Sambil memandang layar datar.

Yogi menatap saya beberapa detik,… mencari penjelasan lebih lanjut.

“Saya menyukai, menikmati, mencintai pekerjaan ini…. pekerjaan ini, membuat saya bahagia,” kata saya.

Yogi mengangguk. Sesaat kemudian, hentakan drum menggema di udara. Empat pria berbadan tambun dan kepala plontos, naik ke atas panggung. Lagu manis berjudul “Wonderful Tonight” dari Eric Clapton mengisi malam. Semua pengunjung kedai ikut bernyanyi bagai tersihir dengan suara magis sang vokalis. Suara yang merdu, musik yang pas, dengan beberapa botol bir dingin tersaji. Apa lagi yang kau harapkan anak muda?

I feel wonderful because I see
The love light in your eyes.
And the wonder of it all
Is that you just don’t realize how much I love you.

Di antara melodi yang berbunyi, pikiran saya melayang ke masa kecil…. saat saya bersentuhan dengan dunia tulis-menulis, hingga akhirnya bercita-cita menjadi jurnalis.

Mungkin, waktu itu, saya berusia 4 atau 5 tahun. Ayah sering menceritakan maksud karikatur yang biasanya dimuat di pojok surat kabar. Ayah juga  membacakan potongan-potongan berita di koran. Saya tidak tahu maknanya, hanya saya senang mendengar ada banyak peristiwa yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Kata ayah, orang yang menulis berita adalah wartawan. Setiap wartawan memiliki nama inisial tiga huruf yang ada di ujung tulisan. Identitas sang penulis abadi di sana. “Aku ingin punya nama inisial,” kata saya. Ayah hanya mengangguk-angguk menanggapi celotehan cita-cita bocah kecil yang sering berubah sewaktu-waktu.

Saat saya duduk di bangku SD, guru saya Pak Felix, sering memberi tugas mengarang. Karena saya suka mengkhayal, tugas menulis bukan hal yang sulit dilakukan. “Tulisan kamu jelas dan informatif. Kamu cocok menjadi wartawan,” kata Pak Felix, mengomentari tulisan saya.

Komentar Pak Felix itu membuat saya ingat cita-cita ketika kecil dulu: ingin menjadi wartawan. Meskipun saat itu saya belum tahu, apa tugas jurnalis.

Segala sesuatunya lalu bergerak seperti sudah digariskan. Saat SMA, saya terpilih menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah sekaligus bekerja freelance di beberapa majalah nasional. Tulisan saya beberapa kali menang lomba majalah dinding atau mendapat penghargaan dari media besar. Setiap kali tulisan dimuat di majalah, rasa senangnyaaa….. luar biasa. Apalagi pas dapat honor penulisan!! Uang tak seberapa sukses membuat saya merasa seperti milyuner!! 😀

Saat kuliah, kecintaan saya pada dunia tulis menulis saya wujudkan dengan menulis di blog. Kalau menulis awalnya hanya hobi untuk ekspresi diri (yang kebetulan mendatangkan keuntungan finansial), sekarang saya merasa menulis membuka dunia saya lebih luas. Saya bisa mengunjungi banyak tempat baru, berkenalan dengan banyak blogger yang kemudian menjadi sahabat saya, juga merasa menjadi orang yang lebih bermanfaat.

Tetapi, kecintaan saya pada dunia tulis menulis -yang sering membuat saya teralienasi dari lingkungan sekitar- sering dianggap aneh oleh orang lain. Beberapa kali menjalin hubungan asmara, barisan mantan kekasih tak setuju saya bergelut pada dunia tulis menulis yang didominasi kaum pria.

Bahkan, salah satu mas mantan mengatakan (dengan nada termehe-mehe) “Aku kan gak mau kehilangan kamu kalau kamu ditugaskan liputan perang…” (Hmm… saat itu kayaknya romenss. Tetapi, kalau diinget-inget lagi rada geli jugaaa karena sekarang era kemerdekaan sehingga perang jarang terjadi, kecuali mungkin di negara-negara Timur Tengah.). Hal baiknya, hubungan itu berakhirrr…. #belumjodoh #usapairmata #masalalubiarlahmasalalu #nyanyidangduut (sorry ini intermezo hehe).

Puncaknya adalah, saya berkonflik dengan ibu. Beberapa belas tahun lalu, dunia tulis menulis dianggap tidak bermanfaat. Aneh. Gak biasa. Agar tidak dimarahi orang tua, saya harus bangun tengah malam lalu mengendap-endap menulis di antara remang lampu kamar. Butuh waktu beberapa tahun untuk menyembuhkan luka dan sakit hati pada ibu, serta mengumpulkan kembali rasa percaya diri untuk menulis dengan cara “normal” dan sadar. Semua kesulitan itu berlalu seiring waktu. 🙂

Sekarang, ibu adalah pendukung saya nomor satu. Dia yang pertama kali memberi tahu ada lowongan pekerjaan sebagai jurnalis di harian umum KOMPAS. Ketika mau ikut uji kompetensi, ibu mendukung, memberi restu, mendokan, membantu memilih pakaian yang sesuai untuk wawancara pekerjaan, dsb…dsb… hingga akhirnya saya dinyatakan lolos menjadi wartawan.

Meski saya mencintai profesi jurnalis, nyatanya pekerjaan ini tidak mudah. Selama menempuh pendidikan wartawan dan magang satu tahun di Palmerah Selatan, sering kali saya merasa ingin mundur. Tugas yang berat, menumpuk, mencekik, dengan standar-standar tulisan begitu tinggi,… belum lagi ada perasaan minder dan segan berada di antara penulis-penulis senior di kantor redaksi. “Ibu, anak mu tak akan mampu,” kata saya, sambil menahan tangis.

Tetapi, ibu yang menguatkan. Kata ibu, saya sedang berada di Kawah Candradimuka, tempat keramat dan sakti untuk menggembleng kesatria agar menjadi ksatria yang kuat dan tangguh. “Kalau kamu berhasil melaluinya, kamu akan menjadi jurnalis hebat,”  kata ibu.

Ah ibu, berat sekali perjalanan ini. Hingga kini, saya merasa masih sangat sangat jauh dari kata hebat. Meski sulit, saya merasa masih harus menjalani panggilan ini… vocatio. Panggilan hidup.

Selama tiga tahun menjadi wartawan, saya merasa lebih terbuka pada realita, mampu melihat segala sesuatu tidak hanya hitam-putih kehidupan, mengunjungi lebih banyak tempat-tempat indah di pelosok nusantara, bertemu dengan lebih banyak orang dari berbagai latar belakang, dan berkat dunia tulis-menulis, saya mendapatkan penghargaan “Anugrah Pesona Bahari 2015” dari Kementerian Pariwisata dan menjadi salah satu finalis penghargaan MH Thamrin ke-42, pada Oktober 2016.

Menjadi wartawan, meski sulit dan saya tidak tahu sampai kapan akan bertahan, adalah bukti bahwa mimpi dapat diwujudkan. Jadi, kalau seseorang bertanya, apakah saya bahagia menjadi jurnalis? Saya bahagia karena hidup dalam mimpi dan cita-cita yang terus dikobarkan…. 🙂

“Balik yuk!” kata Yogi, membuyarkan lamunan.

Saya melirik jam tangan. Waktu sudah lewat tengah malam. Kedai bir semakin ramai dengan muda-mudi. Daya tahan tubuh saya menurun karena mengantuk. “Yuk,” jawab saya. Kami pun membayar makanan dan minuman. Memesan taksi online. Menembus sisa-sisa kemacetan Ibu Kota.

Jakarta, 11-08-2016