Matahari Tenggelam di Gunung Sinai (Bagian 2)

Sebelumnya:

Mendaki Gunung Sinai bukanlah pendakiangunung biasa. Mendaki gunung setinggi 2.285 mdpl itu dilakukan untuk mengenang perjalanan Nabi Musa saat menerima sepuluh perintah Allah.

Dalam bahasa Arab, Gunung Sinai dikenal dengan nama Jabal Musa. Dalam Perjanjian Lama, Gunung Sinai disebut juga Gunung Horeb. Gunung itu terletak di Semenanjung Sinai (Sinai Peninsula), perbatasan Mesir – Israel.

Di kejauhan, saya melihat deretan bukit batu yang kering dan tandus. Sejauh mata memadang, terhampar batu granit merah raksasa yang kaya kandungan mineral. Bukit-bukit batu berderet berwarna merah kecoklatan, kontras dengan langit yang berwarna biru pekat. Angin berembus meniupkan udara dingin. Pelan-pelan, di Gunung Sinai, matahari tenggelam…..  

— 

Setelah naik unta sekitar dua jam, saya sampai pada sebuah awal pendakian berupa hamparan ratusan anak tangga yang berbatu tajam dan berpasir. Permukaan tangga bergelombang, di kiri dan kanannya tebing curam. Saya menatap langit. Cahaya kian temaram. Warna langit perlahan serupa bebatuan yang gelap pekat. 

Ahmed (29), pemandu wisata dari Keluarga Gabalia, meminta rombongan berjalan dalam satu kelompok besar. Rombongan kami terdiri dari sekitar 20 orang, berusia 8 -70 tahun. Ahmad meminta semua orang berjalan dalam satu barisan memanjang. “Kamu, berjalan di belakang ya!” kata Ahmad, ke arah saya.

“Aduh!” kata saya dalam hati. Berjalan di barisan belakang dalam rombongan besar sama sekali tidak enak. Saya harus berjalan lambat mengikuti ritme langkah puluhan orang lainnya. Sebagian anak muda di kelompok saya berjalan cepat, sebagian orang tua bergerak lambat. Saat orang-orang berhenti untuk istirahat, saya harus berhenti di bagian paling belakang. Berdiri bersandar di bebatuan, hanya ditemani embusan angin yang kian menyesakan pernafasan.

Semakin malam, perjalanan semakin menanjak, dingin, dengan oksigen yang semakin jarang. Rombongan berhenti hampir setiap 5 menit sekali karena kehabisan tenaga! Setiap kali berhenti, udara dingin terasa menusuk tulang dan merajang sendi-sendi otot paha dan lengan. “Dingin banget… Harusnya kita jalan paling depan supaya cepat sampai…” kata kakak saya, Raditya Beken Wicaksana (27), yang berada beberapa langkah di depan saya.

Hufhhh… Terbesit pikiran untuk berjalan mendahuli puluhan orang lainnya… Namun, saya ingat pesan ibu sebelum melepas keberangkatan kami mendaki Gunung Sinai. “… Jangan kamu bersungut-sungut. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” (Yoh 6: 43, Flp 2:14).

Mengingat pesan itu, saya menunduk malu. Ah, betapa egoisnya! 

Saya berusaha mengingat niat awal mendaki Gunung Sinai, yakni demi mengenang perjalanan Nabi Musa ketika menerima 10 perintah Allah. Nabi Musa dan bangsa Israel berputar-putar di gurun 40 tahun lamanya… Tentu dia merasa kedinginan, lapar, sesak nafas, jenuh, lelah… tetapi Nabi Musa setia pada perintah Allah.

“Are you okay?” Ahmed bertanya, saat kami berhenti di balik batu besar. 

Sapaan Ahmed membuyarkan lamunan. “Yes, I am good,” jawab saya singkat.

Berjalan di barisan paling belakang dalam rombongan besar memang tidak enak. Namun, saya berusaha berdamai dengan situasi ini. Kesulitan terbesar dalam perjalanan mendaki Gunung Sinai bukanlah medan terjal atau cuaca dingin yang dihadapi, tetapi bagaimana para pendaki bisa menekan egoisme dan kepentingan diri sendiri.

Ahmed menepuk bahu saya sambil tersenyum. Perjalanan selanjutnya, dia berada di sebelah saya. Mungkin dia menemani karena kasihan karena melihat saya berjalan kepayahan. Sambil melangkah, Ahmed bercerita mengenai kehidupannya di padang gurun. 

Dari Ahmed saya tahu, suku badouin lebih betah tinggal di padang gurun dari pada di kota. “Ketika saya mati di padang gurun memang tidak akan ada yang peduli. Tetapi, di sini ada kebebasan. Kamu tidak harus tunduk kepada siapa pun,”  kata ayah tiga anak itu.

Ahmed adalah lulusan SMA. Sebelum bekerja sebagai pemandu wisata, dia bekerja paruh waktu sebagai guru bahasa Inggris di sekolah dasar. Tuntutan guru harus bergelar sarjana, membebani dia. 
Ahmed lalu bekerja sebagai gembala domba, kemudian jadi tukang unta. Beberapa tahun lalu, Ahmed mulai bekerja sebagai pemandu wisata. “Di bandingkan pekerjaan lain, uang yang saya dapatkan sekarang memang lebih sedikit. Tetapi saya percaya, Allah tidak akan membiarkan saya kelaparan,”  kata Ahmed.

“Apakah suatu hari kamu akan cari pekerjaan lain?” tanya saya.

“Mungkin saja. Saya tidak tahu. Yang penting hari ini saya menikmati kehidupan. Tomorrow may never come,”  kata dia.

Di depan saya, pasangan suami-istri berusia sekitar 50 tahun berjalan lambat. Saya membayangkan, bagaimana kalau mereka adalah ayah dan ibu saya. Bagi mereka yang terbiasa naik gunung atau berolahraga, mendaki Gunung Sinai bukanlah perkara sulit. Tetapi, bagi orang lanjut usia, pendakian ini tergolong panjang yang melelahkan. Bersama Ahmed, saya berusaha memastikan semua orang berjalan aman dalam satu barisan panjang.

Menjelang pukul 21.00 rombongan sampai di puncak Gunung Sinai. Di sana, angin berembus kencang, meniupkan udara dingin yang membuat kaki bergetar dan tubuh menggigil. Gelap mengepung. Di puncak gunung ada sebuah kapel (The Chapel of The Holy Trinity) bergaya basilika. Kapel ini dipercaya dibangun diatas batu berisikan 10 perintah Allah.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu-lagu pujian, rombongan berfoto bersama. Saya melihat kakak saya menggigil kedinginan. Dia sudah mengenakan dua lapis jaket tebal dan memakai sarung tangan. “Gue enggak kuat lagi…” kata dia, dengan suara bergetar.

Kepada Ahmed, kami meminta izin untuk berjalan di barisan paling depan. Ahmed melihat kondisi kakak saya dengan tatapan prihatin. “Oke,” kata Ahmed. “Tetapi pastikan, setelah melewati 700 tangga kalian berhenti. Di sana jalanan bercabang. Saya tidak mau kalian tersesat,”  kata dia.

Dalam kegelapan malam, saya meraba-raba perjalanan turun. Saat itu, cahaya headlamp sudah redup karena kehabisan energi. Perjalanan turun memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Saya berjalan mengikuti pantulan cahaya bulan di sela-sela bebatuan. Begitu sampai di ujung tangga turun, saya berhenti. Saya menyuruh kakak saya masuk ke warung makanan untuk menghangatkan diri. Sambil duduk di atas batu besar, saya menunggu semua anggota rombongan berkumpul.

“Terimakasih ya, sudah menemani berjalan,” kata salah satu anggota rombongan, sambil duduk di sebelah saya.

“Eh?” kata saya, kebingungan.

“Tadinya saya ingin menyerah berjalan karena punya penyakit asma. Tetapi, karena rombongan saling membantu dan memberi dukungan, saya jadi terpacu berjalan hingga puncak. Apalagi, kamu rela berjalan paling belakang. Maaf kamu jadi berjalan lambat,” kata pria dengan rambut berwarna putih perak itu. 

Saya tersenyum singkat. Di atas batu besar, saya memandang kegelapan yang utuh dan hening. Di dalam warung minum teh, kakak saya meringkuk kedinginan. “Semoga dia tidak pingsan karena kedinginan,” kata saya, di dalam hari.

Begitu sampai di penginapan, saya bergegas masuk ke dalam kamar mandi, mencuci kaki dan tangan, berganti pakaian, lalu naik ke atas ranjang. 

Ibu, yang melihat saya dan kakak saya kedinginan, segera merebus air. “Minumlah, setelah itu tidur yang nyenyak,” kata ibu sambil menyodorkan segelas coklat panas.

Setelah menghabiskan minuman, saya memejamkan mata. Samar-samar saya mendengar suara angin bertiup menggerakkan batang-batang pepohonan. Dingin di luar, hangat di dalam. Di hati ini.

 

… selesai.
(Oleh: Denty Piawai Nastitie)

Baca: Mendaki Gunung Sinai (Bagian 1)

By | 2018-05-28T08:12:02+00:00 April 27th, 2016|Middle East, Travel|0 Comments

Leave A Comment