Matahari Tenggelam di Gunung Sinai (Bagian 1)

“Rumah saya seperti rumah kamu. Ada televisi, koneksi internet, dan komputer. Satu-satunya perbedaan adalah keluarga saya sulit mendapatkan air,”  kata Muhammad (27), dalam perjalanan mendaki puncak Gunung Sinai.

Muhammad adalah penduduk lokal St Cathrine, sebuah kota kecil di kaki Gunung Sinai, Mesir. Pria itu memiliki seekor unta berusia 12 tahun yang dinamakan Bush-bush. Hampir setiap hari, Muhammad membawa Bush-bush ke gerbang pendakian. Bersama puluhan pria lain, dia menawarkan jasa sewa unta untuk membantu peziarah naik ke puncak Gunung Sinai.

Saat tidak bekerja bersama unta, Muhammad bermain sepak bola atau mencari air dengan mengikuti domba-domba yang berjalan di padang gurun. “Domba-domba hanya peduli dengan urusan makanan dan air,” kata Muhammad.

Berbincang dengan Muhammad membuat saya tak merasa jenuh duduk di atas unta. Binatang gurun itu berwarna coklat muda, berjanggut, dengan tinggi sekitar dua meter. Empat kaki unta kelihatan kurus, tetapi badannya gemuk. Di pundaknya tersampir tumpukan kain berwarna cerah. 

Bush-bush bergerak menginjak batu-batuan di jalan setapak. Sebisa mungkin hewan itu melewati jalur yang tidak licin. Dia juga menghindari tebing atau tanjakan terjal. Selama perjalanan, Muhammad melepas hewan itu begitu saja. Dengan insting dan ingatan kuat, Bush-bush bergerak mengikuti jalur pendakian menuju puncak Gunung Sinai.
__

Mendaki Gunung Sinai bukanlah pendakian gunung biasa. Mendaki gunung setinggi 2.285 mdpl itu dilakukan untuk mengenang perjalanan Nabi Musa saat menerima sepuluh perintah Allah.

Dalam bahasa Arab, Gunung Sinai dikenal dengan nama Jabal Musa. Dalam Perjanjian Lama, Gunung Sinai disebut juga Gunung Horeb. Gunung itu terletak di Semenanjung Sinai (Sinai Peninsula), perbatasan Mesir – Israel.

Dari Kairo, perjalanan menuju pegunungan Sinai dapat ditempuh melalui dua jalur. Pertama, dengan perjalanan darat selama 14-16 jam dari Kairo menuju St Chaterine. Kedua, dengan perjalanan udara selama satu jam Cairo – Sharm el-Sheikh, kota pelabuhan di dekat Laut Merah. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan naik bus selama 4-5 jam menuju St Cathrine. 

Perjalanan darat dijejali deretan bukit-bukit batu yang begitu tinggi menjulang. Bentuknya bergelombang tidak beraturan. Perjalanan melewati bentangan padang batu dan pasir yang seolah tak berujung. Saat musim panas, udara terasa panas menyengat. Saat musim dingin, udaranya membuat tulang belulang terasa mau rontok!

Di kejauhan, saya melihat rumah-rumah penduduk suku badouin. Suku badouin adalah kelompok pengembara domba dan kambing yang hidup berpindah-pindah di tanah tandus Timur Tengah. Saya juga melewati pos-pos penjagaan tentara Mesir. Petugas memeriksa paspor dan dokumen imigrasi. Selama perjalanan, rombongan didampingi seorang polisi Mesir yang membawa senjata api. 

Menjelang jam makan siang, saya sampai di kota St Chatarine. Jangan bayangkan St Catharine seperti Kota Jakarta atau Surabaya! Kota itu sangat sederhana dengan krisis air berkepanjangan. Jarak antara satu bangunan dengan bangunan lain berjauhan. Bangunan besar biasanya berupa penginapan yang dilengkapi kolam renang dan restauran. Penduduk lokal tinggal di desa-desa yang berada di hamparan gurun pasir. 


Begitu sampai di St Chatarine, saya menikmati makan siang berupa potongan besar kalkun, sup sayur, dan roti mentega. setelah itu, saya bersiap-siap mendaki puncak Gunung Sinai. Saya membawa jaket tebal, headlamp, air mineral dan tongkat untuk mempermudah perjalanan.
 
Pendakian ke Gunung Sinai dimulai dari Biara St Chatarine, tempat ditemukannya manuskrip Perjanjian Baru abad ke-4. Dari biara, pezarah bisa berjalan kaki atau naik unta menuju puncak Gunung Sinai. Waktu yang dibutuhkan dnegan berjalan kaki sekitar 4-6 jam, sedangkan bila naik unta 2-3 jam. Biaya untuk menyewa taksi, seekor unta, dan tip untuk pemilik unta sekitar 30 dollar. 

Di kaki Gunung Sinai, Muhammad membawa saya ke tempat Bush-bush beristirahat. Muhammad menepuk perut Bush-bush pelan, meminta unta itu berjongkok. Sedikit gugup, saya naik ke atas unta. Berbeda dengan unta yang ada di Piramida Giza, Bush-bush berwatak lebih tenang.

“Sudah nyaman?” tanya Muhammad.
 
“Yup!” jawab saya.

Muhammad lalu menarik tali yang terpasang di leher Bush-bush, membawa hewan itu ke jalur pendakian. Dengan gerakan lambat, Bush-bush berjalan, sekitar 20 meter di belakang unta lainnya.

Bagi saya, ini bukan pertama kalinya naik unta. Beberapa hari lalu saya naik unta bertubuh kurus dengan kaki-kaki kecil di kompleks Piramida Giza, Kairo. Setelah diperintahkan tuannya, unta itu berjongkok dengan melipat dua kaki depan dan dua kaki belakang. Dengan gerakan pelan, saya naik ke atas unta. 

Dalam sekejab, hewan itu berguncang. Hiasan di tubuhnya bergerak, gemericik. Saya menggenggam erat pegangan unta sambil menjerit. Terbersit pikiran untuk membatalkan niat naik unta. Belum sempat turun, unta jantan itu sudah berdiri. Badannya berguncang keras ke kiri dan ke kanan, membuat tubuh saya terasa oleng. “Seperti naik dinosaurus!” jerit saya kepada pemilik unta. 

Lima menit kemudian, kaki saya sudah kembali menapak di tanah. Saya merelakan uang satu dolar untuk pemilik unta. Meski batal naik unta dan berkeliling kompleks piramida, pemilik unta tetap meminta uang sewa karena saya sudah menyentuh hewan peliharaannya. Sejak saat itu, saya ogah naik unta! Namun, Di St Catharine – apa boleh buat – saya memerlukan unta untuk mendaki Gunung Sinai. 

“Bagaimana rasanya duduk di atas unta?”  tanya Muhammad.

“Cukup nyaman. Ini lebih baik daripada ketika saya naik unta di Piramida Giza. Naik unta di sana rasanya seperti naik dinosaurus!” jawab saya.

Muhammad terkekeh. Saat dia tertawa, pria itu memamerkan deretan giginya yang berwarna kecoklatan. “Tentu saja berbeda,” tutur Muhammad. “Unta itu binatang gurun, kalau tinggal di kota dia merasa stress!. Sama seperti manusia, saat dipaksa pindah dari tempat di mana dia lahir dan dibesarkan, pasti merasa asing dan stress,” ujar Muhammad.

Di kejauhan, saya melihat deretan bukit batu yang kering dan tandus. Sejauh mata memadang, terhampar batu granit merah raksasa yang kaya kandungan mineral. Bukit-bukit batu berderet berwarna merah kecoklatan, kontras dengan langit yang berwarna biru pekat. Angin berembus meniupkan udara dingin. Pelan-pelan, di Gunung Sinai, matahari tenggelam….. 

… bersambung.
(Denty Piawai Nastitie)

By | 2017-01-24T09:17:40+00:00 April 26th, 2016|Middle East, Travel|2 Comments

2 Comments

  1. Senny Sari April 26, 2016 at 7:27 am - Reply

    ? im happy reading it.. Cant wait for the next part.. ?

  2. […] Mendaki Gunung Sinai bukanlah pendakiangunung biasa. Mendaki gunung setinggi 2.285 mdpl itu dilakukan untuk mengenang perjalanan Nabi Musa saat menerima sepuluh perintah Allah. […]

Leave A Comment