Kairo, adalah potret Mesir yang selalu terkenang dalam kepala saya. Sekilas, keadaan kota ini mirip Jakarta: jalanan yang padat dengan kendaraan bermotor, sampah yang berserakan, angkutan umum yang ngetem di sembarang tempat,… dan satu lagi, debu yang berterbangan!

Namun, inilah kota yang kaya akan sejarah peradaban dunia. Kota yang berada di antara Sungai Nil dengan bentangan alam tak ternilai harganya. Kota yang gegap gempita dengan sejuta lokasi hiburan malam. Kota yang setiap tahun diserbu ribuan peziarah!
Perjalanan di Kairo adalah perjalanan pertama saya mengunjungi tempat-tempat bersejarah di tanah suci. Saya berkunjung dalam rombongan, terdiri dari 28 orang perempuan dan laki-laki dengan rentang usia 8 – 70 tahun. Sebagian peziarah berasal dari Jakarta, sebagian lainnya dari Tangerang, Kalimantan Barat, dan sebuah kota di Timor Leste. 
Setelah menempuh penerbangan selama 17 jam dari Kota Jakarta, saya masuk Kairo melalui bandar udara internasional yang padat dengan kedatangan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Begitu turun dari pesawat, ratusan orang berhadapan dengan proses pemeriksaan dokumen perjalanan dan imigrasi yang panjang dan berbelit-belit. Saya berdiri berdesak-desakan di antara orang-orang yang baru saja umroh ke Arab Saudi.
Sebagian perempuan mengenakan baju serba serba putih dengan jilbab panjang. Sebagian perempuan lain terselubung pakaian serba hitam dengan perhiasan emas dengan liontin berlian yang menyilaukan mata. Beberapa perempuan, terutama yang sudah lanjut usia, menyeret tas besar di lantai. Sebagian lainnya mengangkut tas atau kantong kresek besar di atas kepala. Para pria mengenakan jubah panjang berwarna putih. Tubuh mereka besar dan kekar dengan kulit berwarna kecoklatan.
Di loket pemeriksaan dokumen imigrasi, petugas membuka acak tas dan koper penumpang. Sebagian penumpang menghabiskan waktu 5 – 10 menit berdebat dengan petugas imigrasi, sebagian lainnya bisa menghabiskan waktu 30 menit. Raut lelah, gusar, dan tak sabar, terlihat di wajah penumpang. Seringkali mereka saling mendorong dan berteriak tak sabar.  

Setelah melewati loket imigrasi, para penumpang pesawat terbang masih harus menghabiskan waktu berjam-jam mengambil koper bagasi. Sore itu, puluhan orang berdiri di sembarang tempat dan koper datang tak tentu arah. Serba semrawut!

“Rombongan Indonesia… Rombongan Indonesia… Kemari! Kemari!” kata seorang pria yang memakai setelan jas dan sepatu kulit mengkilap. Dia meminta rombongan menumpuk passpor di atas telapak tangannya. Pria itu lalu menyuruh rombongan keluar melewati pintu kecil yang terletak di sebelah kanan pengecekan imigrasi.

Kami keluar bandara melalui jalur “khusus”. Belakangan saya tahu, jalur itu hanya bisa dilalui apabila rombongan peziarah sudah bekerja sama dengan tur wisata lokal. Jalur khusus membuat kami tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam berhadapan dengan petugas imigrasi. “Kalau di Indonesia, ini namanya pakai calo. Kita tidak perlu capek-capek antre,” kata kakak saya, Raditya Beken Wicaksana (27), sambil berjalan keluar.

Di depan bandara, puluhan koper sudah tertumpuk rapi. Setelah memastikan anggota rombongan lengkap dan tidak ada barang bawaan yang tertinggal, kami berjalan ke dalam bus. Saat itu matahari berwarna kuning keemasan mulai turun. Bus bergerak lambat di antara barisan kendaraan di jalan raya.


Seperti Kota Jakarta, hampir setiap hari jalan di Kota Kairo padat dengan kendaraan bermotor. Seperti warga Ibu Kota, orang Kairo juga lebih senang naik kendaraan pribadi dari pada angkutan umum. Bedanya, kalau di Indonesia orang-orang libur setiap Minggu, di Mesir, Minggu adalah hari pertama bekerja. Orang Mesir libur Jumat, waktu umat Islam beribadah.

Saat bus bergerak pelan, saya melihat bangunan-bangunan bertingkat yang terbuat dari batu bata coklat. Bangunan-bangunan itu merupakan rumah penduduk Mesir yang pembangunannya dibiarkan tidak selesai. Di atap bangunan, orang Mesir memelihara kambing dan domba. Mereka meletakkan kayu dan seng bekas di atap rumah. Bentuk rumah-rumah susun itu seperti gudang tua yang tak terurus.  

Atef Nafea (37), pemandu wisata, menjelaskan, orang-orang Mesir sengaja membiarkan pembangunan rumah mereka tidak selesai untuk menghindari pembayaran pajak. Meski dari luar rumah-rumah terlihat tak terawat, kondisi di dalam rumah bagus. “Kami memasang karpet dan pendingin udara,” kata Atef.

Ayah tiga anak itu menjelaskan, kebanyakan rumah tidak dicat. Warna rumah dibiarkan seperti warna batu bata asli karena hujan jarang sekali turun. Dalam setahun, hujan hanya turun tiga kali. Rumah-rumah berwarna cerah tentu lebih cepat kotor karena debu dan kotoran yang menempel.

Menjelang malam, saya melintasi jembatan di atas Sungai Nil. Aliran air dari Sungai Nil adalah jantung Kota Kairo. Sebagian besar penduduk Mesir tinggal di sepanjang Sungai Nil, terutama Iskandariyah, Kairo, dan di dekat Terusan Suez. Selama ribuan tahun, orang-orang Mesir mengandalkan aliran air dari Sungai Nil untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Air dipakai untuk mengaliri persawahan dan perkebunan. Ditambah ekspor minyak bumi, ekspor gas alam, dan bisnis pariwisata, menjadikan Mesir sebagai salah satu negara kaya. Sayangnya, kekayaan itu tak bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Di Mesir, ada jurang lebar antara si kaya dan si miskin. Hal itu mudah terlihat dari banyaknya pengemis yang meminta-minta di antara rumah-rumah mewah.

Atef lalu bercerita, pada tahun 2011 ada demonstrasi besar-besaran yang terjadi di seluruh Mesir. Orang-orang menuntut agar Presiden Hosni Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun untuk melepaskan jabatannya. Kekuasaan yang terlalu lama, memang sangat rentan dengan penyalahgunaan wewenang. “Saya harus jujur mengatakan, negara ini kaya. Tetapi, kekayaan dikorupsi para penguasa,” kata Atef.

Bus bergerak lambat. Di dalam bus, saya terlelap.

(Denty Piawai Nastitie)