KOMPAS(Nasional) – Senin, 01 Aug 2016   Halaman: 01, 15   Penulis: IYA; NIC; Denty Piawai Nastitie   Ukuran: 5367   Foto: 1   Pengindex: pik.fadhlan
Olimpiade 2016
Kasih Ibu Antar Maria Londa ke Rio de Janeiro
Oleh DENTY PIAWAI NASTITIE
 
”Bawalah bekal ini untuk mengobati rasa rindumu pada Tanah Air.” Itulah pesan sang ibu kepada atlet lompat jauh terbaik Indonesia, Maria Natalia Londa (26), sesaat sebelum terbang selama 32 jam perjalanan menuju Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (27/7) malam. Dengan sekantong keripik tempe buatan bundanya, Maria meluncur ke ”medan perang” untuk membela ”Merah Putih” di ajang olahraga akbar sedunia, Olimpiade 2016.
Maria menjadi salah seorang dari 28 atlet Indonesia yang tampil di Rio 2016. Lulusan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP PGRI Bali itu adalah atlet pertama Indonesia yang meraih tiket Olimpiade Rio 2016 setelah mencapai Limit A kualifikasi dengan jarak lompatan 6,70 meter di SEA Games Singapura 2015.
Agar tampil optimal di Rio, Maria berlatih keras, menjaga pola istirahat, dan mengatur asupan nutrisi. Putri pertama dari tiga bersaudara itu sebenarnya pantang makan makanan pedas dan gorengan karena bisa memengaruhi pemulihan tubuh. Namun, ibunya, Anastasia Ariningsih, tetap memasak makanan kesukaan Maria.
”Kata ibu, makanan ini awet sehingga bisa saya makan setelah berlomba. Dengan membawa keripik tempe, saya merasa tenang karena seperti dekat dengan Indonesia,” ujar peraih dua medali emas, untuk nomor lompat jauh dan lompat jangkit SEA Games 2013, dan medali emas Asian Games 2014 itu.
Dukungan ibunya, juga almarhum ayah, Kamilius Kasi, dan keluarga besarnya, merupakan suntikan semangat terbesar dalam hidupnya untuk sukses tampil di Brasil. Sebelum bertolak ke Rio, menurut Maria, ibunya tidak berpesan banyak. Anastasia hanya meminta Maria menjaga diri karena khawatir dengan keamanan di Brasil.
Selain berlaga, Maria menjadi pembawa bendera merah putih pada pembukaan Olimpiade 2016. Sebelum berlomba, ia juga berziarah ke makam ayahnya dan berdoa di gereja. ”Sekarang saya benar-benar siap berlomba. Mendapat tiket menuju Olimpiade sangat sulit. Saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan,” katanya.
Pelatih Maria, I Ketut Pageh, mengatakan, atlet asuhannya itu cukup rileks dan percaya diri menjelang tampil di Rio. Meski akan melalui perjalanan panjang melintasi zona waktu, Maria tetap semangat. ”Dia lebih khawatir pelatihnya mabuk perjalanan daripada khawatir dengan dirinya sendiri,” ujar Pageh.
Pebulu tangkis ganda campuran Praveen Jordan juga selalu pulang ke rumah, berkumpul dengan ibu dan kedua adiknya saat libur latihan di pelatnas Cipayung, Sabtu sore hingga Minggu. Waktu istirahat itu dipakai untuk melepas kejenuhan.
Praveen pun membuat aturan tak berbicara soal bulu tangkis saat di rumah. ”Kalau sama mama bisa ngobrol apa pun. Obrolan emak-emak sampai gosip,” katanya lagi.
Pemain yang menjuarai All England 2016 bersama Debby Susanto itu selalu kangen saat bersama keluarga, terutama untuk menikmati masakan ibu, khususnya ikan goreng bumbu balado. ”Enak banget masakannya. Pulang juga mau makan ikan,” kata pemain dengan panggilan Ucok ini, pekan lalu.
Hendra Setiawan, yang sudah berkeluarga dan memiliki anak kembar, mempunyai menu khusus yang dibuat ibunya atau mertuanya saat mereka berkunjung ke rumahnya. ”Nasi tim ayam,” ujar Hendra. ”Itu salah satu menu khas orang Tionghoa. Katanya itu menu sehat. Saya percaya saja. Nasi tim buatan mama dan mertua saya enak. Istri saya bisa masak, tapi kalau nasi tim ayam harus dibuat oleh ahlinya, ha-ha-ha…,” katanya.
Tangis sang ibu
Di atletik, selain Maria, Indonesia juga akan mengirimkan sprinter jarak 100 meter, Sudirman Hadi, yang lolos melalui wild card dalam program universalitas. ”Saat mendapat kabar lolos ke Olimpiade, saya menelepon orangtua. Ibu saya menangis,” kata atlet asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu.
Sudirman senang akan tampil di Olimpiade. Sejak pekan lalu, dia mengurangi porsi latihan. Pada pagi dan sore, dia berlatih ringan untuk menjaga kondisi. Di Rio, ia akan bersaing dengan pelari top seperti Usain Bolt, pelari Jamaika pemegang rekor dunia lari 100 meter.
Demi bersiap ke Rio, ia tidak pulang kampung ke Nipah, Lombok Utara, yang harus ditempuh sekitar 90 menit perjalanan dari Mataram, ibu kota NTB, mengingat ia harus tampil di Kejuaraan Thailand Terbuka, pada 4-7 Juli. Jadwal kejuaraan itu mepet dengan Lebaran 2016.
Ia memahami, tampil di Thailand Terbuka saat Lebaran jadi konsekuensinya sebagai atlet. Yang mengesankan, meski harus berlari saat puasa, dia meraih medali perak, setelah menyelesaikan 100 meter dengan waktu 10,57 detik di final.
Ibarat berkah dari kesabarannya tak berlebaran di kampung halaman, sehari setelah pulang dari Bangkok, Thailand, Sabtu (9/7) malam, ia menerima kabar soal kepastiannya berlaga di Olimpiade 2016. ”Saya dikabari pelatih saya, Agustinus Ngamel, bahwa saya yang akan mengisi satu kuota atlet putra Indonesia yang diberikan IAAF,” ujarnya.
”Tentu saja berita itu membuat saya tak bisa tidur semalaman. Gelisah bercampur senang karena bisa tampil di Olimpiade. Saya sadar, saya ini belum pernah membela Indonesia di SEA Games, apalagi Asian Games, tetapi bisa langsung turun di Olimpiade. Tentu itu wujud dari impian yang tidak pernah saya angankan,” ungkap Sudirman.
Peran orangtua seperti ibunda Maria Londa, Anastasia Ariningsih, yang memasak keripik tempe untuk anaknya, tak kalah besar dibandingkan unsur lain dalam persiapan atlet.
(IYA/NIC)