Potret Kejahatan Dunia Maya Pada “A Tale For The Time Being”

Nao Yasutani atau Naoko atau Naoko-chan adalah pelajar berusia 16 tahun. Dia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya yang bahagia di Sunnyvale, California.

Setelah ayah Naoko, Haruki Yasutani, di-PHK, remaja itu pindah ke Tokyo. Di Tokyo, Haruki kesulitan mencari pekerjaan. Ibu Naoko, Tomoko, menjadi tulang punggung keluarga.

Sebagai pria Jepang yang terbiasa punya pride, Haruki merasa gagal menjadi suami dan ayah yang baik. Dia depresi, sampai beberapa kali mencoba bunuh diri (seperti kebanyakan orang Jepang yang gagal memenuhi tuntutan masyarakat untuk mendapat nilai terbaik di sekolah, mendapat pekerjaan dan jabatan terbaik, mendapat gaji besar, dan sebagainya).

Perubahan kondisi keluarga memaksa Nao beradaptasi tinggal bersama ibu yang sibuk, dan ayah yang hobi bunuh diri. Tantangan hidup gadis itu tidak hanya masalah keluarga, tetapi juga culture-shocked. Meskipun berdarah Jepang, Nao merasa lebih menjadi orang Amerika. Selain itu, Nao juga mengalami bully parah dari teman-teman di sekolah. Dia bahkan nyaris diperkosa! Video kejahatan seksual yang dialami Nao tersebar di dunia maya, menjadi komoditas pelaku kejahatan siber!

Persoalan hidup yang pelik, membuat Nao terjerumus dalam prostitusi, dan akhirnya juga ingin mengakhiri hidup. Di tengah berbagai masalah, Nao terhubung dengan nenek buyutnya yang merupakan biksu berusia 104 tahun, Jiko Yasutani. Sikap Jiko yang santun, tulus, dan selalu mengutamakan “keselamatan” menjadi pelajaran berharga bagi hidup Nao.

Dia lalu menuliskan kisah hidupnya (dan tentu saja mengenai sosok Jiko) pada sebuah buku harian yang tersapu gelombang saat tsunami menghantam Jepang. Buku harian yang dimasukkan dalam kotak makan Hello Kitty itu ditemukan Ruth, yang tinggal di tepi pantai di British Colombia. Dalam buku itu, Nao memperkenalkan dirinya sebagai “a time being”…

Buku ini menarik karena menjelaskan banyak kebudayaan Jepang, termasuk budaya bunuh diri yang sudah mengakar – namun tak lagi relevan karena menciptakan banyak kekacauan-.

Tokoh Jiko membuat pembaca belajar banyak hal tentang sikap mengutamakan orang lain. Yang berkesan saat Jiko diejek seseorang di restaurant, dan Nao marah besar, sang nenek jutru membungkukkan badan, hormat di depan orang yang mengejek dia. (baca ini ikutan kesel hahahhaa) Sikap Jiko, membuat sang pengejek jadi segan, lalu membalas hormat perempuan tua itu dengan cara yang santun.

Melalui buku ini, pembaca juga diajak memahami betapa kejamnya kehidupan dunia maya. Kekejaman dunia maya, membuat Haruki merasa gagal menjadi ayah karena tak bisa melindungi anaknya. Padahal, sebagai programmer, sebagian besar hidup Haruki ada di dunia internet dan teknologi.

“… In her junior high school days, she (Naoko) was a victim of harsh bullying when her classmates teased her, including making videos of her shame that they posted onto the internet. When I saw these, I cried many tears. I was very angry! As her father, it is my duty to keep my daughter safe, but I failed to keep  her so. I was like a blind man, too selfish because I couldn’t see, and only my concern was for my self.” – Haruki, ayah Naoko.

By | 2018-05-28T08:12:02+00:00 October 12th, 2015|Travel|0 Comments

Leave A Comment