14 Jam Menuju Hiroshima

Willer Bus yang saya tumpangi dari Tokyo sudah ramai dengan penumpang. Arloji menunjukan pukul 11 malam waktu Shinjuku. Saya mendapat kursi bernomorkan 6D, tepat di dekat jendela.

Karena tubuh masih pegal akibat pendakian Fujisan tempo hari, saya langsung merebahkan diri di atas couch yang tersedia. Istirahat dan tidur nyenyak, hanya itu yang saya inginkan!! Tapi yang terbayang di depan mata justru perjalanan menuju Hiroshima dalam sebuah bis malam yang akan terasa panjang dan melelahkan.

Tak lama kemudian, seorang wanita muda datang, lalu duduk di sebelah saya.

Wanita itu berusia sekitar dua puluh tahun, berkacamata, berambut panjang sebahu dengan poni menutupi sebagian keningnya. Dia terlihat manis dengan jepit rambut berwarna pastel. Wanita itu tidak banyak bicara.

Setelah bis mulai bergerak meninggalkan Shinjuku Station, saya memberanikan diri menyapa wanita itu. “Are you living in Hiroshima?”

“Once again??” tanyanya, sambil mendekatkan kupingnya pada wajah saya.

Aha! Sebuah respon yang baik! Tidak banyak orang Jepang berbicara dalam bahasa Inggris, dan usaha perempuan ini untuk memahami pertanyaan saya bisa dikatakan mengesankan. Maka saya ulangi lagi pertanyaan saya. Lebih pelan, lebih jelas. Kali ini dengan jeda yang panjang. “Arrrre youuu….. livinggg…… in Hiroshimaaa…. ?”

“Aaaa…. Yes! Yes!” serunya kemudian. Tergesa-gesa dia melempar balik pertanyaan pada saya, “Are you a tourist?”

Awalnya saya agak terkejut dengan istilah ‘turis’ yang digunakannya. Apakah saya turis? Selo banget jadi turis… hahaha. Kemudian saya menjawab, “Yes!” dengan nada tinggi seperti dirinya.

“Aaaaa…. Tourist!! Tourist!!” dari ekspresi wajahnya, wanita yang akhirnya saya tahu bernama Yoshiko itu kelihatan senang. Dia mengaku tak pandai bahasa Inggris, namun itu tidak masalah. Kebaikan hati dan keramahannya sungguh luar biasa.

Saya dan Yoshiko berbicara mengenai banyak hal: mengenai univesitas tempat dia berkuliah, mengenai the best Oknonomiyaki dan Takoyaki in town, mengenai Shakespare dan roman Romeo and Juliet-nya, mengenai pendakian Fuji yang beberapa hari lalu saya lakukan, hingga kisah persahabatan dan penghianatan yang dirasakan Oda Nobunaga, seorang pemimpin Jepang pada masa lalu.

“Oda Nobunaga very strong, very charismatic,” kata Yoshiko mengawali kisahnya tentang pemimpin Jepang pada abad pertengahan itu. Kata Yoshiko, Oda Nobunaga memimpin ratusan ribu pasukan untuk memenangkan pertarungan. Di tengah perjuangannya, salah seorang kepercayaannya, Mitsuhide, berkhianat. Penghianatan Mitsuhide meninggalkan luka dan kesedihan yang begitu mendalam. “Then, there is Hideyoshi who killed Mitsuhide. Hideyoshi is the Taiko.”

Banyak literatur sejarah yang menceritakan tentang kisah hidup Hideyoshi. Dari buku berjudul “Taiko” saya mengenal Toyotomi Hideyoshi, atau sang Taiko, sebagai tokoh pemersatu Jepang.

Hideyoshi, atau yang sering dipanggil dengan sebutan “si monyet”, lahir dari sebuah keluarga petani miskin.  Dia kemudian menjadi pekerja kelas rendah untuk Oda Nobunaga. Pekerjaannya antara lain sebagai pembawa sendal, tukang kayu, dan kepala bagian dapur. Namun karena kecerdasan, keuletan, kerja keras, dan keberaniannya, Hideyoshi menjadi terkenal di kalangan pengikut Nobunaga.

Berbagai tugas dan tanggung jawab dikerjakan Hideyoshi penuh pengabdian dan tanpa mengeluh. Hal ini membuat Oda Nobunaga memberinya kepercayaan untuk memimpin pasukan. Dengan pasukan yang dimilikinya, Hideyoshi berhasil menghentikan perang yang telah berkecamuk sejak lama. Hideyoshi adalah tokoh pemersatu Jepang.

Sebelum meninggal, Hideyoshi  membangun Osaka Castle (Istana Osaka) di bekas kuil Ishiyama Honganji. Osaka Castle dibangun sebagai istana sekaligus benteng pertahanan. Seorang penguasa dari Kyushu memuji kemegahan dan kemewahan Osaka Castle sebagai “tiada dua-nya di Jepang”.

*

Cerita Yoshiko membawa saya kembali pada abad ketika kisah-kisah heroik samurai menjadi buah bibir para petani di pinggir kota kecil, ketika banyak ninja bertugas dalam kesenyapan menyusupi benteng musuh, dan ketika seluruh lapisan masyarkat bahu membahu membangun benteng-benteng pertahanan. Itulah sejarah yang membentuk nadi kehidupan Jepang masa kini.

“Is the samurai still exist until today?” tanya saya, polos.

“Maybe…. Hahahahaa.” Yoshiko tertawa. Dia kemudian mengambil sebuah notes kecil, menuliskan beberapa nama samurai terkenal di Hiroshima. “These samurais very famous, maybe you will meet one of them.” katanya, masih dengan tawa. Tawanya membuat saya tidur lelap, kemudian.

“What makes you come to Hiroshima?” tanya Yoshiko sebelum memejamkan mata.

“To know… how to release from the past life pain,” jawab saya singkat.

Yoshiko mengangguk singkat. Gambaran tentang peledakan bom atom yang menewaskan 140.000 jiwa mungkin terbayang di kepalanya. Kami tahu, sejarah sebuah bangsa tidak lepas dari cerita akan persahabatan dan penghianatan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sebuah bangsa yang besar akan belajar dari sejarahnya untuk menyambut masa depan.

Malam semakin pekat. 14 jam menuju Hiroshima  tidak lagi terasa mengerikan.

[Hiroshima, DNP 2013
Belajar menjadi manusia yang berjiwa besar.]
By | 2018-05-28T08:12:03+00:00 September 9th, 2013|Travel|0 Comments

Leave A Comment