Mata anak itu merah dan basah. Kepalanya menunduk ke arah lututnya yang dilipat. Jaket tebal yang dikenakannya kelihatan tidak cukup melindungi dia dari dingin yang menerjang. Beberapa orang dewasa di sekitarnya membelai lembut kepala anak itu, beberapa mengusap-usap pundaknya.

“Ganbatte ne! Akiramenna!!” kata salah seorang wanita di telinga anak itu. Artinya: semangat, jangan menyerah!

Anak itu kemudian mengangguk, memantapkan dirinya untuk kembali melangkah. Di hadapannya terbentang jalanan panjang yang berbatu, berkerikil, berpasir, gelap, dan menanjak. Anak itu mengerahkan segenap kemampuannya. Satu langkah, berarti satu tingkat lebih tinggi.

Gerakan anak itu di sambut tepuk tangan oleh orang-orang di sekelilingnya. Mereka merangkul anak itu. “Yatta!! Sugee!!” seru mereka.

Anak itu adalah satu dari sejumlah anak yang saya temui ketika mendaki gunung Fuji, 3776 m di atas permukaan laut. Walau masih kecil, berusia sekitar 5-8 tahun, namun anak-anak itu tidak gentar untuk terus melangkah. Tubuh yang mungil dengan beban berat di pundak, jalanan yang gelap dan menantang, serta dingin yang membekukan tulang belulang membuat mereka tidak selalu terlihat kuat. Namun dukungan dari orang tua serta paman dan bibi-nya, membuat anak-anak ini bertahan.

Bagi orang Jepang, mendaki gunung adalah persembahan dan doa kepada para dewa. Sebagaimana lari marathon atau bermain golf, mereka juga menganggap naik gunung sebagai sarana olah raga. Setiap tahunnya, ribuan orang Jepang mendaki gunung untuk mengukur kesehatan mereka. Itulah alasan mengapa sejak kecil anak-anak sudah diajak mendaki gunung. Mereka akan tetap mendaki hingga lanjut usia.

Memikirkan hal ini membuat saya merasa bersalah karena lebih sering bermalas-malasan ketimbang lebih mengenal dan mencintai alam. Efeknya adalah langkah kaki saya lebih lambat dari orang kebanyakan, tubuh yang mudah lelah, pikiran yang sulit untuk fokus, dan kemampuan adaptasi yang lemah.

“Denty.. Denty.. ” kata Felicia membuyarkan lamunan saya. Felicia adalah salah seorang teman asal Singapore yang saya temui berkat kemudahan jaringan sosial Couch Surfing. Bersama Hanh Hiu, asal Vietnam, kami bertekad untuk mencapai puncak Fujisan.

Saya menatap Felicia. “I am freezing. I can’t stand for this cold.” sahut saya dengan nafas terengah-engah. 5 jam lebih sudah berlalu, namun puncak yang dituju terasa masih sangattt jauh. Saya melirik arloji, pukul 23.30. Dingin angin malam semakin keras berhembus, menyapu wajah dan telapak tangan hingga terasa beku.

“Keep moving.  Take long rests make you feel freezing.” seru Felicia.  Felicia berjalan di belakang saya, namun hampir tidak pernah beristirahat bila bukan saya yang meminta. Walaupun tubuhnya mungil, namun prima tubuhnya patut diacungi jempol.

Saya mengangkat kepala, melihat tikungan-tikungan tajam berbatu yang menanti di hadapan. Mungkinkah saya mencapai puncak Fujisan?

“We almost there.” kata Felicia membesarkan hati saya.

Yang dimaksud Felicia dengan “almost there” adalah melewati belasan lagi tikungan menanjak dengan batu-batu besar yang menantang. Batu-batu besar ini membuat para pendaki harus mengerahkan tangan dan kaki untuk memanjat. Gelap, dingin, kering, dan tubuh yang kelelahan membuat konsentrasi terpecah. Berhenti atau beristirahat justru memberi kesempatan pada tubuh  untuk merasakan dingin yang semakin menyiksa.

Sama seperti anak tadi, saya kemudian memantapkan diri. Satu langkah, berarti satu tingkat lebih tinggi. Saya pun mulai merambat naik.

Jalan Panjang Itu Bernama Yoshida Trail

Untuk mencapai puncak Fujisan, ada 5 rute yang dapat kita pilih: Ochudo trail, Yoshida trail, Subashiri trail, Fujinomiya trail, dan Gotemba trail. Untuk menghindari cuaca dingin yang ekstrim, rute pendakian ini hanya dibuka pada waktu summer, yakni bulan Juli-Agustus setiap tahunnya. Pada musim inilah ribuan orang Jepang dan turis asing dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong mendaki puncak Fujisan.

Saya memilih mendaki melalui Yoshida trail karena akses-nya yang mudah dari stasiun keberangkatan, Shinjuku Station, Tokyo. Perlu waktu 150 menit dengan menumpang Keio Bus untuk mencapai Kawaguchiko 5th Station, pos pertama pendakian. Setelah melakukan persiapan akhir, tepat pukul 5 sore, saya mulai mendaki puncak Fujisan.

Bila selama ini saya berpikir bahwa Fujisan adalah sebuah gunung yang tinggi dan cantik, maka dalam pendakian ini Fujisan menampakkan wajah aslinya.

Dari jauh warna Fujisan didominasi  biru muda dengan pucuk seputih salju yang hampir menyatu dengan warna awan. Dari gambar-gambar kartu pos yang sering saya lihat, banyak pohon maple atau momiji dengan daun berwarna pink berbingkai kekuningan tumbuh di sekitar Fujisan. Pesona Fujisan bertambah sempurna dengan Kawaguchiko Lake yang terkenal itu. Namun malam itu saya sadar, saya berada di gunung Fuji yang gersang dan kering, track yang panjang dan berbatu, debu-debu yang berterbangan seiring derap langkah kaki ribuan manusia, dan angin beku yang meniup sewaktu-waktu.

Melihat Fujisan dari dekat membuat saya sadar: tidak ada pohon hijau yang tumbuh di sekitar puncaknya, tidak ada mata air yang menyegarkan, tidak ada bunga-bunga yang bermekaran. Yang ada hanyalah tanah kering pecah-pecah, pasir, batuan besar, kerikil, debu, dan ribuan orang yang mendaki dalam waktu bersamaan. Inilah gambar Fujisan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Rute pendakian Fujisan memang terkenal berat dan panjang. Saking beratnya, ada ungkapan yang menyatakan “a wise man climbs Fuji once, but only a fool does it twice.

Untuk mencapai puncak tertinggi di Jepang ini tercatat ada sepuluh pos yang harus dilalui. Para pendaki dilarang untuk mendirikan tenda, namun bagi mereka yang ingin menginap, banyak pondok penginapan yang ditawarkan sepanjang jalur pendakian (terutama saat memasuki pos 8 hingga 10). Tarif-nya berkisar antara 5.000 – 7.000 yen (Rp 500.000-700.000). Karena banyak orang yang mendaki pada waktu bersamaan, dan tentu saja ingin menghangatkan diri dan menginap di sana, maka penginapan-penginapan ini sudah full-booked sejak jauh-jauh hari.

Saat sedang meluruskan kaki di depan salah satu pondok penginapan, seorang pria menyuruh saya dan para pendaki yang sedang beristirahat untuk terus berjalan. “More than two hundreds people are coming! You have to keep walking!” kata pria itu.

Saya dan rombongan pun kembali melangkah. Di depan kami, sudah ada ratusan orang pendaki. Di belakang kami, ada dua ratus orang segera menyusul. Semakin malam, jumlahnya semakin banyak. Kami mengukur, ada seribu orang yang mendaki puncak Fujisan malam itu. Headlamp yang kami gunakan membuat deretan manusia ini seperti bintang yang berpendar-pendar di atas langit.

Karena dingin yang menyiksa, saya sempat berpikir untuk menyerah. Namun saya ingat telah melipat rapi bendera merah putih di dalam ransel. Saya ingin mengantar bendera ini sampai puncak Fujisan. Merah putih harus berkibar tepat pada hari kemerdekaan NKRI, 17 Agustus 2013.

Namun mengantar merah-putih sampai pada tujuan tidak semudah yang dibayangkan. Bila rata-rata orang dewasa mencapai puncak dalam waktu 6-8 jam, memerlukan waktu 10 jam bagi saya hingga berhasil melewati Fujisan torri gate, gerbang masuk menuju puncak Fujisan.

17 Agustus 2013

Setelah hampir sepuluh jam melangkah, saya mulai melihat warna langit berubah. Dari gelap pekat, menuju warna yang lebih terang. Kelihatannya, saya tidak akan mencapat puncak Fujisan pada saat sunrise. “It doesn’t matter if we couldn’t reach sunrise at the top.” kata Felicia. Saya mengangguk, setuju.

Namun alam nampaknya sangat baik pada semangat kami hari itu. Tepat ketika saya melewati Fujisan torii gate, matahari berwarna emas perlahan-lahan muncul di angkasa.  Warnanya yang kemerahan memberikan semburat keindahan di antara warna pagi yang masih sunyi. Semburat emas kemerahan yang menghiasi langit membuat pemandangan Kawaguchiko-lake samar-samar muncul di antara kabut pagi.

Saya langsung melempar ransel biru saya ke tanah.  Mengangkat kepala saya ke angkasa, memandang keindahan langit Fujisan yang yang begitu indah. “Thanks God…. for the majestic!” kata saya dalam haru yang menjalarkan kehangatan pada seluruh tubuh.

Saya kemudian ingat pada merah-putih yang masih terlipat rapi di dalam ransel. Dengan tangan bergetar, saya mengikat bendera merah-putih  pada tongkat pendakian Fujisan. “Merah-putih, berkibarlah engkau di puncak Fujisan…..” kata saya dalam hati. Di belakang saya, ribuan orang terheran-heran melihat saya, seorang diri, mengibarkan bendera merah putih.

Tidak lama kemudian, seorang pria mendekati saya. “Are you Indonesian?” tanyanya. “Yes, I am.” jawab saya mantap.

“Merah-putih!!!!” katanya lalu mengambil tongkat bendera saya dan mengibar-ngibarkannya ke udara. Orang-orang semakin heran melihat tingkah kami berdua.

“Today is our country’s independence day! Today is Indonesia independence day!” serunya menjawab keheranan orang-orang di sekitar kami. Orang-orang itu kemudian tersenyum, dan ikut mengabadikan keberadaan bendera merah putih melalui kamera mereka.

“Tunggu ya Mbak, sebentar lagi ada teman-teman Indonesia yang akan mencapai pucak Fujisan. Ayo kita kibarkan merah-putih bersama-sama!!” seru pria itu penuh haru.

Maka hari itu, 17 Agustus 2013, disaksikan ribuan orang dari berbagai belahan dunia……….. merah-putih berkibar di puncak Fujisan.  Inilah merah putih yang bisa menyatukan anak bangsa. Happy Independence Day, INDONESIA!! Without you, I would never reached the top of Fujisan [DPN, 2013].