#JelajahMuseum:

Memorial Sang Bunga Pertempuran
Pada tahun 1949, dengan topi bulat, kemeja berlengan pendek, dan celana dilipat semata kaki, seorang pemuda memimpin kelompok Brigade 10 Werkhreise III untuk mengusir penjajah dari DI Yogyakarta. Dari tampang dan perawakannya, pemuda itu terlihat biasa-biasa saja, namun dari ketangkasannya memimpin pasukan, dia nampak bersinar di antara lainnya.
Hanya dalam waktu tak lebih dari 6 jam, pemuda itu berhasil menguasai kota pelajar. Pertempuran yang konon menjadi gerbang diplomasi penyerahan kekuasaan Republik Indonesia dari tangan Belanda itu sering disebut dengan Serangan Umum 1 Maret. Lalu siapa pemuda dibalik perjuangan itu? Dia adalah almarhum Soeharto, mantan presiden ke-2 Republik Indonesia. Untuk mengenang perjuangan Soeharto dalam menguasai DI Yogyakarta, Jendral Sudirman menyebutnya sebagai Bunga Pertempuran.

Kisah di atas merupakan satu dari beberapa kisah perjuangan Jendral Soeharto pada jaman kemerdekaan Indonesia yang termuat dalam diorama Memorial Jendral Besar H. M. Soeharto di daerah Kemusuk, Argomulyo, Bantul. Dalam waktu satu bulan sejak awal dibukanya, tak kurang dari 18.000 pengunjung sudah datang ke museum yang didirikan oleh adik Soeharto, pengusaha Probosutedjo.

Bila selama ini melalui buku-buku pelajaran dan video sejarah kita hanya mengetahui Kemusuk sebagai tempat kelahiran Soeharto, maka sejak tanggal 8 Juni 2013, bertepatan dengan hari lahir  sang Bunga Pertempuran, Kemusuk juga dikenal sebagai lokasi Museum Soeharto.
Pemimpin Bangsa
Saat memasuki museum Soeharto, penulis disambut oleh patung raksasa berupa sosok pria dewasa dengan topi Jendral di kepala. Dia adalah almarhum Soeharto, presiden yang pernah memimpin Negri ini selama 32 tahun lamanya. Karena posisinya yang mencuri perhatian, banyak pengunjung yang langsung mengabadikan keberadaan mereka dengan berfoto di depan patung tersebut.
Berjalan sedikit ke kiri, ada sebuah kolam dengan patung kerbau berukuran sedang dengan dua orang bocah laki-laki di dekatnya. Beberapa pengunjung terlihat mengamati patung tersebut. “Jaman dulu, Soeharto ya begini ini… Ngangon kerbau, main lumpur, mandi di kali, seperti bocah-bocah lainnya. Siapa sangka bocah desa itu bisa menjadi Presiden,” ujar salah seorang pengunjung pada rekannya.
Tak jauh dari patung kerbau merupakan letak museum utama. Museum Soeharto menawarkan kecanggihan teknologi, misalnya saja melalui foto-foto perjuangan Soeharto yang disiarkan secara dinamis melalui slide show dalam sebuah lorong berbentuk rol film. Bejalan lebih ke dalam, foto-foto pertempuran di depan Hotel Tugu, DI Yogyakarta, ditampilkan melalui billboard besar. Selain itu rekaman video pesawat tempur dibuat melintasi langit-langit museum, ditambah suara dentuman bom dan rentetan tembakan, membuat pengunjung merasakan suasana pertempuran yang terjadi puluhan tahun silam.

Gatot Nugroho, pengelola museum, menuturkan, “Dengan cara modern seperti ini, kita bisa mengajak anak muda untuk kembali mempelajari sejarah. Saya sering bercerita kepada anak-anak yang berkunjung ke museum ini bahwa dengan perjuangan dan keuletan, seorang anak desa sekalipun akhirnya bisa mencapai cita-cita menjadi pemimpin Bangsa.”

Selain tentang keterlibatan Soeharto sebagai tentara dalam perebutan kemerdekaan Indonesia, diorama Museum Soeharto juga memaparkan peran Soeharto dalam pembebasan Irian Barat, atau yang dikenal dengan nama Operasi Trikora; serah terima dokumen 11 Maret; hingga berbagai prestasi dan penghargaan yang telah diterima almarhum ketika memimpin Negri ini. Selain berbagai keunggulan itu, pengunjung juga diajak merenungkan peristiwa G30S yang masih penuh misteri. Di museum Soeharto, sejarah kemerdekaan Indonesia disajikan secara modern dan menarik.

Kritis Mempelajari Sejarah

Selain bangunan yang berupa museum utama, joglo untuk ruang pertemuan, dan rumah yang terbuat dari kayu jati, di lahan seluas 3.620 meter ini juga terdapat wilayah untuk napak tilas kelahiran Soeharto. Sambil napak tilas, pengunjung bisa mempelajari keunggulan yang telah dicatat oleh Soeharto sekaligus secara kritis menanggapi sejarah kelam kepemimpinan beliau.
Longina Narastika, pengunjung museum asal UGM menuturkan, “Museum ini mengajak kita untuk kembali mempelajari sejarah. Dengan begitu kita bisa merenungkan keberhasilan serta kegagalan yang telah disumbangkan Soeharto. Harapannya, kita tidak akan mengulang kesalahan yang sama dan belajar untuk masa kini.” Melalui Presiden Seoharto, dengan segala kelebihan dan kekurangan, kita belajar untuk membangun Bangsa.
_____
Foto dan tulisan oleh: Denty Piawai Nastitie
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Program Pendidikan Sastra Inggris