Awalnya tulisan ini saya buat dengan judul, “Get Well Soon, Eyang…” namun nasib berkata lain. Baru saja saya membuat setengah kerangka tulisan, Eyang sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Eyang Uti telah tiada, tepat satu hari setelah saya melaksanakan sidang skripsi, tepat pada hari pengumuman kelulusan saya, dan tepat pada hari ulang tahun saya yang ke-23 tahun. Maka arah tulisan ini berubah. Judulnya pun berganti: “Rest in Peace, Eyang…”

*

Dua jam sebelum Eyang Uti dipanggil Tuhan, saya masih menghadap meja kerja saya. Membuat catatan-catatan kecil, termasuk menulis puisi ulang tahun sebagai berikut:

23 tahun sudah.
Bilamana hatimu sedih
Bilamana hatimu resah
Bilamana hatimu gelisah
Bernafaslah, rasakan tarikan nafasmu
Meresap dalam cuping hidungmu
Mengalir dalam tiap sendi tubuhmu
Setelah itu, gerakkanlah tanganmu
Sentuhkan pada pipimu, dan hapuslah air mata yang mengalir
Sentuhkan pada keningmu, dan tabahkanlah ketegaran
Sentuhkan pada dadamu, dan lebarkanlah kesabaran
Sentuhkan pada kedua bahumu, dan lepaskanlah belenggu batasmu.

23 tahun sudah.
Bilamana hatimu bersorak gembira
Bilamana jiwamu bersorak senang
Bilamana rasamu menari riang
Bernafaslah, rasakan tarikan nafasmu
Meresap dalam cuping hidungmu
Mengalir dalam tiap sendi tubuhmu
Setelah itu, gerakanlah tanganmu
Sentuhkan pada pipimu, dan merekahlah sebuah lesung senyuman
Sentuhkan pada keningmu, dan bebaskanlah segala ketamakan
Sentuhkan pada dadamu, dan bebaskanlah segala arogan
Sentuhkanlah pada bahumu, dan kembalilah menginjakkan kaki pada tanahmu.

23 tahun sudah.
tak ada duka yang abadi
tak ada suka yang sejati
semua datang dan pergi silih berganti
maka siapkanlah hati untuk menerima semua yang akan terjadi.

*

23 tahun sudah. 

Siapa yang bisa menebak akhir sebuah kisah? Siapa bisa menebak panjang usia seseorang?

Tepat pada malam Isra Miraj yang dipercaya sebagai naiknya Nabi Muhammad ke surga, tepat pada saat sujud menununaikan ibadah sholat maghrib…….. Eyang Uti terjatuh dan tak sadarkan diri. Dokter mengatakan Eyang Uti mengalami pendarahan di otak-nya. Pendarahan itu membuat Eyang Uti koma selama 5 hari, hingga akhirnya tutup usia.

Saya ingat betul, pagi itu, saya masih melihat Eyang Uti bernafas. Walau saya tahu kondisinya lemah, tapi saya berharap suatu hari kelopak matanya akan kembali terbuka. Saya katakan padanya, “Eyang, aku hari ini aku ulang tahun… Aku juga sudah selesai sidang skripsi.” Kata-kata saya membuat kaki-nya bergerak sedikit.

Namun hanya selang berapa jam, kaki itu tak lagi bergerak. Tubuh itu tak lagi bernapas. Kedua kelopak matanya tertutup rapat. Bibirnya terkunci. Eyang Uti telah pergi. T.T

*

Kepergian Eyang Uti tepat pada hari ulang tahun saya yang ke-23 mengingatkan saya bahwa semua mungkin saja terjadi. Semua bisa saja terjadi. Tak ada hal di dunia ini yang lekang abadi.

Sakiki aku kudu kepiye…?” Eyang Kakung saya menangis ketika kabar kepergian Eyang Uti disampaikan padanya. “Opo salahku? Aku kudu kepiye?” ulangnya lagi.

Selamat jalan Eyang Uti…. semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Eyang, menerima segala amal ibadah Eyang, dan menerima Eyang di sisiNya. Terimakasih atas segala kebaikan Eyang, dan ampuni segala salahku…. Rest in Peace, Eyang Uti…