Siang yang terik, membakar kulit. Saya bertanya kepada Penang Island Municipal Council President, Hajjah Ar Patahiyah Ismail, “Apakah ibu mau pakai payung?”

Beliau menggeleng. “Tak usahlah!” jawabnya. Bersama Bapak Haji Mohamed Akbar Bin Mustapha, Ibu Noorizan Haji Abdul Hamid, seorang pemandu dan seorang pengawal, kami pun mulai melangkah. Membelah ratusan turis lokal dan international yang memenuhi Candi Borobudur pada hari yang terik ini.

Pemandu mengajak kami menggunakan jarik/kain batik sebagai sarung. Katanya pengunjung Borobudur wajib memakai sarung ini untuk menghormati tradisi leluhur, sekaligus membatasi perilaku selama berada di lingkungan candi. Belakangan, Pemandu menceritakan bahwa banyak pengunjung candi yang suka naik ke stupa. Dengan memakai sarung maka pengunjung tidak akan bebas bergerak karena tingkah lakunya dibatasi oleh sarung ini.

Pemandu kemudian memberikan contoh cara memakai jarik, “Caranya mudah, tinggal dililitkan di pinggul dan diikat di ujungnya.” Kami lalu menirunya. Seumur-umur bolak-balik Borobudur, baru kali ini saya menggunakan kain seperti ini.

“Peraturan baru ya mas? Atau karena tamu istimewa? Hehehe.” tanya saya berbisik. Ibu Patahiyah (walikota George Town, Penang) dan dua orang delegasi lainnya, adalah tamu istimewa. Jauh datang ke Yogyakarta untuk menghadiri Rountable Discussion ke-4 yang diadakan oleh Tourism Promotion Organization (TPO) sekaligus untuk menandatangani kesepakatan kerjasama di bidang pariwisata, kebudayaan, pendidikan, dan perdagangan antara Yogyakarta dan George Town, Penang. Kebetulan saya bertugas untuk mendampingin Ibu Walikota selama di Yogyakarta, menemani kemana-pun Ibu mau pergi sekaligus memberi masukan lokasi-lokasi yan patut dikunjungi. Borobudur, salah satunya.

Pertanyaan saya tadi membuat pembandu salah tingkah. Mungkin merasa tersindir. “Ah tidak, sudah dari dulu kok, Mbak. Tapi kain-nya memang terbatas, padahal turis yang datang banyak sekali,” jawabnya mengelak. Memang benar kata-katanya. Saya melihat beberapa pengunjung candi menggunakan jarik yang sama, namun jumlahnya hanya sepersekian persen dari jumlah pengunjung keseluruhan. Satu banding seratus mungkin.

Pemandu mengajak kami mengawali perjalanan dari belakang Hotel Manohara yang mewah. Di sana Pemandu menunjukkan pada kami sebuah pohon yang katanya adalah pohon Bodhi, tempat Buddha bertapa dan mendapatkan pencerahan. Pemandu memetik sehelai daun, membaliknya lalu mengarahkan daun itu ke arah candi Borobudur yang terlihat megah.

“Lihat, bila dibalik, daun ini akan berbentuk menyerupai candi Borobudur. Candi Buddha terbesar di seluruh dunia,” katanya yakin.

Ibu Patahiyah, para delegasi, dan termasuk saya, menyipitkan sebelah mata, lalu memandang ke arah Borobudur kemudian ke arah daun di tangan Pemandu secara bergantian. Ke arah Borobudur, lalu daun. Lalu kembali ke Borobudur, lalu ke daun. Ya, bentuknya memang mirip. Termasuk lekukan-lekukan yang membentuk lantai-lantai candi. Menurut Pemandu, dari bentuk daun inilah design candi Borobudur di buat. Menurut saya, ini adalah sebuah keagungan karya seni. Keindahan yang tiada taranya.

Pemandu kemudian mengawali langkahnya menuju candi Borobudur yang megah. Kami mengikutinya dari belakang. Menembus ribuan orang yang berdesak-desak-an naik menuju wilayah candi paling atas.

“Mencapai puncak Borobudur sejatinya adalah sebuah penghayatan akan iman dan kehidupan,” Pemandu memulai penjelasannya.

“Candi ini memiliki sepuluh tingkatan, tiga tingkatan dari ajaran Budha yang mencerminkan kehidupan manusia: tingkatan pertama disebut Kamadathu, dalam bahasa Sansekerta berarti hawa nafsu; tingkatan kedua disebut Rupadhatu, ranah berwujud; dan tingkatan ketida disebut Aruphadatu, ranah tak berwujud.”

“Tingkatan pertama merefleksikan manusia yang masih dipengaruhi oleh hawa nafsu dan hal-hal negatif,  tingkatan kedua manusia telah mampu mengendalikan dirinya dari segala hawa nafsu, dan tingkatan ketiga adalah dunia tanpa bentuk, manusia tidak lagi mengejar keinginan-keinginan manusiawi. Pada titik itu, manusia telah mencapai nirwana, tempat para boddhisatva mencapai kesempurnaan.”

Penjelasan pemandu membuat saya terdiam. Seringkali kita mendengar bahwa candi Borobudur terbentuk dari tumpukan batu tanpa semen, memiliki nilai sejarah karena dibuat pada jaman wangsa Syailendra (800 tahun Masehi), bertahan hingga anak cucu, diakui UNESCO sebagai warisan dunia,… dsb dsb tapi lebih dari itu… Borobudur memiliki nilai filosofis yang begitu dalam, tercermin dalam tiap bentuk dan ukirannya. Sebuah pemaknaan yang mendalam akan kehidupan.

Pemandu membawa rombongan mengitari salah satu tingkatan candi. Melihat berbagai relief yang indah terlukis pada dinding-dindingnya. “Ada 1460 relief di candi ini, tiap relief memiliki ceritanya masing-masing. Mulai dari kelahiran Buddha, perjalanan hidup, kematian, hingga ajaran-ajarannya,” kata Pemandu menjelaskan. Kemudian dia menceritakan beberapa kisah. Salah satunya kisahnya merupakan sebuah cerita yang paling menyentuh (dan tentu saja paling saya ingat), berikut ini:

Alkisah ada seekor gajah putih yang mendengar rintihan dan tangisan dari sekelompok manusia. Gajah putih itu pun mendekati ratusan manusia itu, dan bertanya, “Mengapa kalian menangis?”

Orang-orang itu tertegun mendengar seekor gajah berbicara dengan bahasa manusia. Walaupun masih tidak percaya, namun akhirnya mereka menceritakan bahwa mereka adalah masyarakat yang diusir oleh seorang raja hingga lari ke dalam hutan belantara. Di hutan ini mereka menangis karena kelaparan. Tak ada yang bisa dimakan, semua terasa asing bagi mereka.

Karena merasa kasihan melihat orang-orang yang putuh asa itu, sang gajah memberitahu bahwa mereka harus berjalan jauh, mengitari sebuah bukit yang tinggi menjulang. Dari balik bukit itu mereka akan menemukan bangkai gajah yang bisa dimakan dagingnya sehingga mereka tidak akan kelaparan lagi. Orang-orang itu bersorak, kemudian melanjutkan perjalanan, mengelilingi bukit yang dimaksud.

Saat orang-orang itu melanjutkan perjalanan, gajah itu berlari. Mendaki ke atas bukit, lalu loncat dari bukit itu. Karena aksinya, gajah itu mati… menjadi bangkai yang nantinya ditemukan oleh orang-orang yang sedang kelaparan itu. Dengan kepedulian yang dimilikinya, gajah putih itu mengorbankan jiwa dan nyawanya demi menyelamatkan ratusan orang yang kelaparan. Sebuah pengorbanan diri demi sesama yang sungguh nyata.

Mendengar cerita Pemandu, rombongan menjadi sunyi. Rombongan larut dalam keheningan pikiran masing-masing. Dalam situasi demikian, Pemandu membiarkan rombongan mengamati relief gajah putih itu. Relief terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menggambarkan seekor gajah yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan sekelompok masyarakat. Relief kedua menggambarkan sebuah bukit yang tinggi menjulang dengan deretan manusia berjalan di sekelilingnya. Relief ketiga adalah gambar bangkai gajah yang terkapar, memejamkan mata dengan sekelompok orang berada di sekitarnya.

Gajah putih itu adalah perwujudan boddhivasta yang selalu berusaha untuk berbuat baik. Buddha mengajarkan sebuah kebaikan yang universal, tak mengenal hambatan, tak mengenal perbedaan. Sesuai dengan kata-kata Dalai Lama berikut ini, “My religion is very simple. My religion is kindness.”

Hari semakin terik. Borobudur semakin ramai pengunjung. Tepat pukul 12 siang, saya bersama rombongan berjalan meninggalkan Borobudur. Kepala saya menunduk memandang tanah, betapa kecilnya kita manusia di hadapan kemegahan dunia. Seperti seekor gajah yang menyerahkan hidupnya untuk orang lain, sudahkah kita berani berkorban demi sesama?

“Selamat Hari Waisak 2013, Welas Asih Sesama Manusia.”