Prologue:

Sesuatu itu telah pergi. Pada bayangan yang masih tersisa, air mata jatuh tak tertahan. Ibu mengelus lembut kepala saya. “Tidak apa, tidak apa. Jangan lagi menangis, perjalanan harus tetap dilanjutkan…..” Ada kalanya kesedihan datang menerjang, namun perjalanan harus tetap dilanjutkan.

*

Satu rangkulan dari seorang kawan di pulau Penang melepas saya dan Narastika untuk melanjutkan perjalanan. Sempat bergurau pada Tika, “Ah, kita terlalu banyak tertawa. Jangan-jangan habis ini menangis.” Tawa dan tangis, keduanya adalah bagian dari perjalanan. Dan kita harus siap dalam tiap detilnya.

Bus yang kami tumpangi melaju larut malam. Udara dingin dari air-conditioner sungguh mengganggu. Walau tak kuat menahan dingin, namun rasanya sudah tak sabar ingin segera melempar tubuh di atas coach, merebahkan diri, dan tidur.

Saat bus mulai bergerak meninggalkan kota tua George Town di pulau Penang, terbayang di kepala kepingan-kepingan cerita bagaimana saya dan Narastika, bersama Thiago dan Hudson, dua kawan baru, menyusuri bukit bendera, mendaki temple Kek Lok Si yang tinggi menjulang, menikmati laksa dan berlomba menghabiskan es kacang……… kepingan-kepingan itu mengingatkan saya pada perjalanan kehidupan yang sering kali “up-and-down” bak roller coaster. Ada kalanya kita bertemu dan tertawa, ada kalanya harus berpisah, kembali pada alur perjalanan masing-masing. Semua pikiran ini menghantar saya terlelap dalam tidur yang panjang. 8 jam menuju Singapura!

Terbangun ketika supir bus berteriak-teriak, “Passport! Passport!”

Bersama puluhan penumpang lainnya, saya berlari menuju kantor imigrasi. Mengantre di antara ratusan orang, lengkap sambil membawa tas-tas besar berisi pakaian dan kamera. Matahari pagi menyambut kedatangan kami. Baru saja saya duduk kembali di dalam bis, mengintip deretan mobil (mereka menyebutnya sebagai kereta) yang berbaris padat memasuki garis batas antar negara, supir bus kembali berteriak, “Passport! Passport!”

Rangkaian cerita yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan. Petugas immigrasi Singapura berwajah garang, bersenjata laras panjang, dengan sepatu boot semata kaki, menggiring saya dan Narastika masuk ke dalam lift, menuju ruang yang kaku dan dingin.

Tak ada senyum atau sapa, hanya deretan pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dari layar monitor yang harus segera kami jawab. Tak kurang dari 70 pertanyaan secara terus menerus dilontarkan. Pertanyaan-pertanyaannya seputar aktifitas saya, seperti apakah saya pernah terlibat dalam tindak kriminal, pencurian, pembangkangan, ikut serta dalam kelompok-kelompok penjahat (mereka menyebutnya: slek-slek pengganasan), dsb. Awalnya saya anggap pertanyaan-pertanyaan ini mudah, namun setelah ditanyakan berkali-kali rasanya frustasi sendiri (dan malah kepikiran mau berbuat kejahatan sekalian saja, hehehehe). Tangan saya dan Narastika secara bergantian ditempelkan pada sensor, telinga kami dipasangkan headset. Introgasi yang panjang dan berulang-ulang.

Setelah introgasi usai, seorang petugas bandara bertampang Melayu dengan kepala plontos dan tubuh tambun berbicara pada saya dalam bahasa India, kemudian Arab, kemudian Filipina.

What? What? Sorry, I dont understand!” kata saya membuyarkan tebak-tebakannya.

“Aaa….. Indonesya? Indonesya?” tanya-nya, masih berteka-teki. “Saya kira Filipina,” kemudian dia terkekeh dengan leluconnya sendiri. “Oke, follow him.” petugas itu kemudian mengarahkan saya pada petugas bandara lainnya lagi yang berusia lebih muda.

Petugas itu membawa saya bertemu dengan seorang wanita bermata sipit. Katanya kepada wanita itu, “Normal, everything is normal.”

“Normal??” wanita itu tidak percaya.

“Yes, normal.” katanya sekali lagi.

Saya mulai kesal. Apakah saya nampak tidak normal sehingga harus diuji kelayakan?

Setelah sekitar 2 jam berbelit-belit di kantor Imigrasi, akhirnya petugas bandara berkepala plontos membubuhkan cap pada passport saya. Sebuah cap yang melegalkan keberadaan saya di Negara pesemakmuran Inggris ini.  Petugas bandara memberi keterangan pada data passport saya sebagai, “First timer.” Seorang pendatang baru. Saya dan Narastika-pun dilepaskan. Menghirup udara Singapura untuk pertama kalinya.

“Sial, kita jadi kelinci percobaan alat baru!” keluh Narastika.

Ya, dan bisa jadi kami dituduh buronan Indonesia yang lari ke Malaysia, kemudian Singapura.

Belakangan saya baru tahu bahwa jarang sekali ada turis yang menumpang bis untuk mencapai Singapura. Biasanya para turis itu naik pesawat, kapal feri (paket wisata Malaysia), ataupun kereta. Berhubung saya dan Tika adalah turis irit, maka kami memilih menumpang bis dari Penang. Bis yang kami tumpangi adalah bis yang biasa digunakan oleh para immigran antar Negara. Maklum murah bo, harga tiketnya sekitar 30 RM! ūüėÄ

Gara-gara insiden ini, saya dan Narastika ketinggalan bus yang tadi kami tumpangi.  “Kita sih kebanyakan tertawa….” kata Narastika. Saya meresponnya dengan gelak tawa. Lagi-lagi tertawa! Hahahaha. Hari yang penuh misteri!

Berbekal tanya sana-sini, akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan dengan MRT yang bergerak cepat. Deretan manusia bergadget canggih dalam MRT menyambut kedatangan kami. Laki-laki, perempuan, tua, muda, berpakaian sekolah, bergaya fashion, berpakaian dinas…. semua menggenggam minimal satu gadget di tangan, menyumpal kuping dengan headseat, larut dalam dunianya masing-masing. Inilah wajah-wajah Singapura yang menyambut kedatangan kami pada hari yang terik. Selamat pagi, Singapura!

*


Epilog:

“Dalam perjalanan, kadang kala kita tertawa atau menangis. Namun, kita harus selalu siap,” kata ibu. Tangannya masih membelai lembut kepala saya, hingga saya terlelap.