Pesona George Town, Penang

Puluhan lelaki tua dengan motor-motor tua berkumpul di pesisir pantai kota tua George Town di pulau Penang. Mereka berbicara dalam bahasa China tua yang tidak saya pahami, membaca koran dengan aksara China, dan sebagian memandang jauh ke laut lepas yang bergelombang.

Sempat bertanya-tanya, apa yang sedang mereka lakukan di sini. Seorang kakek berkata pada saya, “Untuk bersantailah! Siapa tak suka di sini! Banyak angin lah…. di rumah terus, penatlah!” Tangannya direntangkan ke udara, pandangannya menatap ke angkasa meresapi sinar matahari yang menyinari kota.

Saya mengerti, kota tua George Town, Penang, memiliki matahari yang bersinar panjang. Thiago Vilas Boas, seorang teman asal Brazil, mengatakan, “Two things you can always expect from Penang: the most delicious food and the most beautiful sunset.”  Makanan yang lezat dan matahari sore yang bersinar indah. Inilah yang membuat banyak orang rindu kembali ke pulau Penang. Termasuk Thiago, kawan saya itu. Enam bulan lalu dia sudah pernah ke Penang, lalu kembali lagi. Untuk apa? “Untuk makan,” jawabnya sambil terbahak. “Saya suka kota ini… Saya suka orang-orangnya, saya suka makanannya.”

*

George Town merupakan ibukota Penang, Malaysia. Dulunya kota ini dikenal dengan nama “Tanjung Penaga (Cape Penaigre) kemudian berubah menjadi George Town, yang berasal dari nama Raja Inggris, George III. Sejarah mencatat George Town sebagai salah satu kota pelabuhan yang penting pada masa pendudukan Inggris. Kota ini merupakan pusat perdagangan expor-impor, pusat pelayaran, dan dikenal sebagai kota komersial bersejarah. Sejak tahun 2008 George Town, Penang, terdaftar sebagai situs warisan dunia.

Tidak sulit untuk sampai di George Town. Walaupun terletak di sebuah pulau kecil bernama pulau Penang, kota ini memiliki bandar udara bernama Penang International Airport yang berfungsi sebagai bandar udara utama Malaysia setelah Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Selain itu, kota ini memiliki kapal feri yang berlayar setiap hari dan berlabuh di Butterworth, dan juga jembatan bernama Penang Bridge yang menghubungkan daratan pulau Penang dan Seberang Perai.

Pagi buta, pukul 5 saya menumpang kapal Feri untuk mencapai George Town. Beberapa orang sudah menunggu kapal yang sama di pelabuhan. Sebagaian yang saya lihat adalah pekerja dan anak-anak sekolah. Tiak lama menunggu, kapal feri datang menjemput kami. Kapal feri yang sudah beroperasi sejak tahun 1920 ini tergolong masih terawat apik dan bersih. Kapal feri ini lah penghubung dunia luar George Town dengan berbagai potensi klasik yang dimiliki kota ini.

*

Pukul tujuh sore, lampu-lampu berwarna kuning berpendar menghiasi Penang City Hall. Sebuah kesan yang membangkitkan kenangan akan masa lalu. George Town adalah satu kota yang dipercaya UNESCO berhasil merawat sisa-sisa peninggalan melalui gedung-gedung tua-nya yang terawat apik, dan kota ini pun terus menata diri menyambut masa depan. Promosi pariwisata, peraturan-peraturan daerah yang melindungi warisan leluhur, penerbangan international yang sudah dibuka. Semua demi kemajuan pariwisata Pulau Penang.

Government encourage people to speak in their own language. Maka banyak China berbicara China, India berbicara India, Melayu berbicara Melayu. Tak harus berbicara Inggris,” kata seorang pria yang saya temui di tempat penginapan.

Dia kemudian menjelaskan, “Semua bangunan, herritage. Tak boleh diubah. Jalan-jalan dibuat untuk sepeda dan rickshaw. Bukan lah untuk kereta.” Kereta yang dimaksud adalah kendaraan beroda empat, orang Indonesia menyebutnya sebagai mobil. Pantas begitu banyak lorong-lorong sempit yang melilit di antara bangunan-bangunan tua George Town city. Lorong-lorong ini menjaga dimensi waktu tetap bertahan hingga anak cucu.

Di hadapan saya angin berhembus semilir. Burung-burung terbang mengudara. Anak-anak tertawa lepas di atas ayunan. Orang-orang tua berbincang-bincang sambil memandang panorama laut. Matahari yang cerah! Sore yang indah!

Your handbag! Your handbag!” seorang pengendara rickshaw berteriak-teriak pada saya. “Kau pegang itu handbag! Hati-hati lah, di sini berbahaya!” katanya dengan logat Melayu yang kental.

Saya langsung menangguk sambil mengucapkan terimakasih. Karena sibuk memotret, saya meninggalkan tas di ujung kursi sana.

Angin pantai mengibaskan rambut. Hampir saja saya terlena dengan keramahan kota ini higga tak berhati-hati menjaga barang bawaan. George Town city, engkau sungguh mempesona…..

By | 2017-01-26T06:34:56+00:00 May 18th, 2013|Asia, Travel|0 Comments

Leave A Comment