“Permisi Bu,… Numpang tanya, beli purwaceng dimana ya bu?”

Ibu berjilbab itu tidak menjawab. Saya dan dua orang teman pun saling menatap.

Angkutan umum yang kami tumpangi berjalan lambat. Hanya ada 4 orang penumpang di dalam angkutan umum ini: Saya, Ervan, Yakub, dan ibu berjilbab. Deru angin malam yang berhembus menyelinap di sela pintu dan jendela angkutan umum memecah kebekuan. Dingin dan senyap.

Ervan melirik ke arah arlojinya, baru pukul setengah tujuh malam, namun Wonosobo sudah sepi bagai kota mati yang kelam. Tak ada kendaraan lain melintas. Tak ada orang lain selain kami penumpang angkutan umum dan Pak Supir. Toko-toko dan rumah-rumah kelihatan tertutup rapat. Dingin terus-terusan menyergap. Saya mengaitkan kancing jaket, mengencangkan simpul syal, lalu meremas-remas jemari tangan. Dingin yang tak terkira.

“Sudah hampir sampai,” kata Pak Supir angkutan. Kami hanya manggut-manggut menanggapi.

“Adik-adik mau kemana?” si ibu berjilbab angkat bicara.
“Ke Dieng, Bu.” jawab Ervan.

“Malam ini?”

“Mungkin besok pagi.”

“Terus mau menginap dimana?”

“Belum tahu Bu,…”

Di perempatan lampu merah, angkutan umum berhenti. Si ibu, dan kami bertiga langsung berhambur keluar. “Rumah ibu dekat pasar, boleh kalau mau menginap.” Sebuah tawaran yang di luar dugaan.

Si ibu terus berjalan, karena tidak tahu kemana harus melangkah, kami membuntuti dari belakang.

“Ibu tahu, cari purwaceng dimana?” tanya Ervan sekali lagi. Si ibu tetap tak menjawab.

“Kami dengar, purwaceng minuman khas sini ya bu…” kata saya, menimpali.

Si ibu kelihatan menutupi sesuatu. Namun akhirnya bertanya, “Untuk apa cari minuman itu?”

Saya-Ervan-Yakub saling menatap. Pertanyaan yang menohok, karena sesungguhnya kami juga tidak tahu untuk apa mencari minuman itu selain karena kami dengar bahwa purwaceng adalah minuman khas Wonosobo. Perkiraan kami, melacak jejak purwaceng semudah menemukan mie ongklok yang banyak beredar di pinggir jalan.

Si ibu melihat keraguan kami. Kemudian berkata, “Tidak perlu cari minuman itu. Itu minuman kuat. Penambah stamina pria dewasa.”

Keringat dingin membanjiri kening. Terdiam kami terpaku kaku. Ervan menyenggol saya, “Elu sih, sok tahu,” katanya.

“Sorry, gue juga cuma baca-baca…” jawab saya berusaha menutupi malu.

Kami memandang punggung si ibu berjilbab dari belakang. Habislah riwayat kami, satu bocah perempuan dan dua bocah laki-laki mencari minuman penambah stamina pria dewasa. Entah apa yang ada dipikiran si ibu menanggapi pertanyaan kami.

“Rumah saya dekat sana…” kata si ibu mencairkan suasana. Kami melanjutkan jalan, kikuk.

“Saya lihat di sekitar sini banyak penginapan ya Bu….” tanya Yakub. Penginapan-penginapan yang dimaksud Yakub adalah rumah-rumah kecil dua lantai dengan lampu kelap-kelip yang berpendar-pendar.

“Jangan, jangan menginap di sana!” kata si Ibu keras.

Keringat dingin membanjiri kening kami (lagi). “Kenapa bu?” tanya saya.

“Tempat itu bukan untuk anak-anak seusia kalian. Jangan menginap di sana! Tidak! Tidak baik! ” kata si ibu lagi. Dari penjelasannya yang terbata, kami menyimpulkan bahwa penginapan-penginapan itu adalah tempat prostitusi. Pantas saja kami melihat beberapa perempuan bertubuh sexy di sekitar penginapan.

“Duh gimana nih,…” saya menyenggol Ervan dan Yakub. Ada perasaan tidak enak datang menyergap. Percakapan-percakapan ini sungguh absurd, memberi keengganan luar biasa di hati dan pikiran.

“Cari tempat lain aja kali yaa… ” kata Ervan berbisik.

Malam datang semakin gelap. Saya-Ervan-Yakub memutuskan untuk tidak menginap di rumah si ibu. Kami pun melanjutkan langkah. Menyusuri kota kecil yang dingin dan sepi. Jantung kota Wonosobo dikelilingi gunung yang tinggi menjulang. Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, adalah beberapa di antaranya. Mungkin itulah alasan mengapa Wonosobo beraroma dingin dan beku. Kami percaya, kehangatan mentari pagi akan mengantar kami menuju Dieng esok hari. Selamat malam, Wonosobo…