Siapa bilang sebuah perjalanan selalu terasa menyenangkan? Ada kala-nya kekalutan menyelimuti, ada kalanya keraguan menemani. Rasa-rasa seperti ini membuat saya terpencil di tengah banyak orang asing. Perasaan enggan pun datang menyiksa.

Akhir-akhir ini wajah ibu, ayah, dan kakak sering tergambar jelas di kepala. Di antara hari demi hari yang saya lalui, di antara cerita demi cerita yang selalu diperbarui, seringkali saya berpikir: ah, seandainya saja mereka ada di sini.

Mungkin itu yang dinamakan kepekaan membaca pertanda-pertanda, orang Jawa meyakininya sebagai insting atau nalar untuk berinteraksi.

Malam, pukul 10, saya menekan nomor telpon kakak saya. Dua kali sambungan telpon gagal, tidak ada yang mengangkat. Di Jogja mungkin baru pukul 5 pagi, tapi rasanya tidak mungkin kakak saya masih terlelap. Karena ini bulan puasa, keluarga saya pasti bangun lebih awal untuk santap sahur. Berpikir seperti itu membuat keringat dingin turun membasahi telapak tangan.

Pada sambungan yang ketiga baru saya mendengar suara kakak saya di ujung telpon sana. “Buruan telpon mamah, atau papah,… eh, atau mamah saja!” katanya tergesa.

“Ada apa?” tanya saya panik.

“Udah, cepet telpon saja!” lalu sambungan telpon diputus.

Keringat dingin semakin merembes turun, kali ini mulai membasahi lengan dan leher saya. Terbayang adegan-adegan menakutkan di kepala. Perut saya menjadi keram. Jemari saya mulai bergetar seram. Kemudian saya menekan nomor telpon ibu. Tidak ada jawaban. Telpon tidak tersambung.

Dengan perasaan yang semakin tak keruan, saya menekan nomor telpon ayah. Ibu yang mengangkat. Suara ibu yang begitu pelan dan lirih menjawab sapaan saya di ujung telepon sana.

“Papah sakit…” katanya dengan nada tegar yang dipaksakan. “Sekarang masuk rumah sakit. Sudah ditangani dokter. Kamu tidak perlu khawatir.”

Air mata saya perlahan mulai mengalir membasahi pipi. Saya teringat bagaimana dulu keluarga saya berbondong-bondong mengantar ke bandara. Dengan berbagai petuah “jangan lupa makan tepat waktu”, “jangan lupa minum banyak air putih”, “jangan lupa berdoa”, “jangan lupa memberi kabar” dsb dsb dsb… Kepergiaan saya adalah sebuah kegembiraan dan kekhawatiran yang menjadi satu. Namun kini, bagai bocah cilik yang merengek ingin pulang, yang muncul di pikiran saya adalah bagaimana caranya agar bisa segera kembali ke tanah air. Apa arti semua program ini bila nun jauh di Jakarta sana, ayah terbaring sakit.

Nduk,” kata ibu menenangkan, “program di Inggris, harus jalan terus…”

Ibu memang ibu nomor satu. Dalam berbagai kondisi dan situasi selalu bisa memompakan semangat pada kami anak-anak-nya. Pesan ibu sungguh sebuah oase dalam kesedihan yang datang tiba-tiba.

Ibu lalu menyambungkan telpon ke ayah saya. “Pie kabare, Nduk?” tanya ayah dalam bahasa Jawa. Suaranya begitu lemah, jauh berbeda dengan suara penuh ketegasan yang biasa saya dengar.

“Baik pah, papah gimana?” Sekuat tenaga saya berjuang agar tidak menunjukan lara yang meliputi.

“Ini masih sakit, tapi pasti nanti bisa cepat sembuh… Kamu baik-baik di sana ya.”

“Iya pah, cepat sembuh pah… Sebentar lagi programku selesai, aku segera pulang.”

Tidak lama, telpon dimatikan. Kekalutan menyelimuti hati dan pikiran. Namun seperti pesan ibu, program harus terus berjalan. Tidak boleh berhenti hanya sampai di sini. Dari negri Britania Raya, saya menyadari bahwa kegembiraan dan kesedihan adalah anugrah yang hanya perlu dilalui. Dari waktu ke waktu yang terus berganti, saya hanya bisa berdoa, semoga lekas sembuh, pah… 🙁

Foto Platform 3/4, London, UK by. Longina Narastika