Berbicara dengan orang asing menjadi hal yang paling ditakuti. Safina, Jordan, Gulam, dan V, teman-teman UK, mengatakan, “Ini bukan Indonesia. Kalian tidak perlu beramah-tamah dengan orang asing. Lagipula, itu berbahaya.” Kata ‘berbahaya’ diulang hingga tiga kali. Menancap tepat dikepala. Kemanapun melangkah, dimanapun berada, jangan pernah coba-coba berbicara dengan orang asing.

Sebagai pendatang baru di Luton Town, saya harus waspada. Banyak imigran datang ke Luton dengan beragam budaya. Sebut saja Pakistan, Bangladesh, Karibia, Afrika, dan masih banyak orang dari negara antah berantah lainnya. Bersama warga kulit putih British dan Irish, mereka membentuk nadi kehidupan Luton.

Keberagaman Luton menjadi hal yang patut dirayakan sekaligus diwaspadai. Loyalitas komunitas membuat mereka sering berkonflik satu dengan lainnya. Belum lagi keisengan anak muda: mencoret-coret tembok, menendang tempat sampah, merusak pagar, parkir di tempat tak semestinya, dsb. Itulah mengapa, hampir setiap sudut kota dipasangi kamera pengintai. Gerak-gerik warga diawasi. Siapa melanggar, surat tilang langsung melayang. Denda ratusan pounds langsung menanti. Sebuah sistem yang patut diacungi jempol sekaligus membawa trauma tersendiri, salah-salah saya korban berikutnya yang ditilang karena dianggap melanggar aturan. Hmfh.

Pada pagi hari, seperti biasa, jalan-jalan di Luton masih sepi. Toko-toko baru sebagian yang sudah buka. Orang-orang berpakaian rapi melintas dengan berjalan kaki atau bersepeda. Bersama Tika, kami menyusuri area pusat kota. Di ujung sana, ada Caribbean Food paling enak sedunia, kata saya. Tentu paling enak, karena saya tidak pernah mencicipi makanan seperti itu di tempat lainnya. Tika tertarik, sudah rindu makan nasi katanya. Lalu Tika membeli satu paket Caribbean Food terdiri dari nasi-sayur-dan-lauk untuk disantap. Sementara Tika menikmati menu sarapannya, saya duduk di memandang Luton yang masih sepi.

Tidak lama kemudian seorang bapak paruh baya duduk di sebelah saya. “Sulit sekali mencari pekerjaan…” katanya tiba-tiba dalam bahasa Inggris, mencurahkan isi hatinya. “Sudah tiga hari saya berkeliling, namun tidak ada hasilnya…” lanjutnya lagi.

Teringat akan kata-kata teman-teman saya untuk tidak berbicara dengan orang asing, saya hanya diam. Terbayang sudah gambar-gambar menyeramkan di kepala. Jangan-jangan laki-laki ini ingin menawari narkoba. Jangan-jangan dia ingin merampok saya. Jangan-jangan dia….. Lelaki itu kemudian menoleh ke arah saya, “Dari mana asalmu?”

“Indonesia,” jawab saya singkat.

“Suka dengan Luton?”

Saya berkelana memandang sekeliling. Saya hanya menemukan wajah Luton yang pucat. Orang-orang tidak saling menyapa. Tidak ada canda tawa. Tidak ada gembira. Ah, sayang sekali…. Pada titik ini, saya merasa tanah air jauh-jauh lebih baik. Namun, tidak layak saya membandingkan Negri asal saya dengan suasana di tempat ini. Ada sesuatu yang belum terungkap. Dan tugas saya adalah, menemukannya.

“Apa yang paling kamu suka dari Luton?” lelaki itu mendesak saya.

Well…” saya menarik napas panjang, menghirup kesejukan kota Luton. “Sejauh ini, mungkin udaranya…” kata saya melanjutkan.

Pria itu tersenyum. “Udara!… Hahaha. I am sure, your country much more better than England.”

Kemudian dia berdiri. “Maaf sudah mengganggumu…” katanya sambil berlalu pergi.

Detik itu juga saya merasa tidak seharusnya saya bersikap acuh-tak-acuh pada orang asing atau memandang Luton sebelah mata. Apa yang terlihat di permukaan bukanlah sebuah kenyataan. Kebenarannya adalah, Luton memiliki keramahan-tamahan yang ditawarkan. Ada persaudaraan yang ingin dibangun. Tinggal bagaimana kita dapat menangkapnya. Luton membutuhkan canda tawa. Luton membutuhkan orang-orang yang saling menyapa. Namun siapa yang bisa memulai kalau bukan diri sendiri?