Berkat Suci dari Monkey Forest

 

Apa sih menariknya melihat monyet di tengah hutan?

Pikiran itu melintas dalam benak saya ketika Novi, mengajak mengunjungi Monkey Forest pada hari terakhir kami di Ubud (Senin, 25/3). Pengalaman menelusuri hutan menuju ke sebuah pura dan pemakaman tua dengan jalur setapak yang di kiri-kanan-nya terdapat banyak monyet sudah pernah saya alami beberapa tahun lalu. Karena sudah pernah mengalami, sebenarnya saya jadi kurang semangat untuk kembali ke sana.

Namun Novi terus membujuk saya. Novi adalah salah seorang teman saya yang bekerja part-time sebagai baby-sitter untuk dua orang anak dari Brooklyn New York bernama Leo dan Caleb. Leo berusia 7 tahun, sedangkan Caleb berusia 5 tahun.

Kebetulan mereka berserta kedua orang tuanya sedang berlibur di Bali. Waktu liburan yang bersamaan dengan keberadaan kami di Ubud membuat mereka mengatur pertemuan dengan kami. Monkey Forest menjadi tempat pertemuan itu. Setelah menimbang-nimbang, walaupun pernah ke sebuah tempat yang sama, bukankah pengalaman dan cerita bisa jadi berbeda? Maka akhirnya saya setuju untuk bertemu dengan Leo dan Caleb di Monkey Forest.

Pukul 09.45 kami sudah sampai di lokasi. 15 menit lebih awal dari jadwal pertemuan yang sudah disepakati. Sambil menunggu kedatangan mereka, kami duduk di depan gerbang masuk Monkey Forest menikmati pemandangan hutan monyet yang masih segar dan sepi di pagi hari. Saya lalu bercerita pada Novi bahwa beberapa tahun yang lalu saya pernah ke sini bersama keluarga.

Novi bersama Leo, Caleb, dan Ziad

Salah seorang teman mengatakan bahwa monyet-monyet di tempat ini nakal. Mereka suka mengambil barang yang dibawa/dipakai turis yang datang. Kebetulan waktu itu ibu saya memakai kaca mata hitam. Ketika kunjungan sudah hampir usai, salah satu monyet berlari ke arah ibu saya, lalu dari arah belakang dia mengambil kaca-mata hitam yang dipakai ibu.

Ibu saya berteriak. Lalu petugas setempat pun memukul-mukulkan dahan pohon, menyuruh monyet tersebut mengembalikan kaca-mata milik ibu. Bukannya mengembalikan, monyet tersebut malah tertawa ngekek, memakai kaca-mata di kepalanya, lalu menghilang di balik hutan yang lebat. Sial. Sebuah pengalaman yang lucu namun menyebalkan bagi kami sekeluarga.

Digigit Monyet

Pukul 10 tepat, Leo dan Caleb datang bersama kedua orang tuanya, Caron dan Dave, serta sepupu mereka yang bernama Ziad, seorang paman yang bernama Dough, dan bibinya. Mereka adalah keluarga yang sangat baik dan ramah. Namun sayang hanya Leo, Caleb, Ziad, dan Daough, yang ikut masuk ke dalam monkey forest.

Sambil pamitan pergi, Dave berkata, “I had enough time with these two boys. Enough. Very enough, even too much. So, I leave them with Novi.” Tentu saja sebuah gurauan yang membuat saya tertawa.

Selama satu jam kami berjalan-jalan di Monkey Forest.

Belajar dari pengalaman, saya tidak ingin monyet itu mengambil barang-barang saya. Maka sudah sejak awal saya memasukkan semua benda-benda, seperti kaca-mata, tempat minum, kunci, dl,  dalam tas, lalu menyelempangkannya pada bahu saya.

Dalam perjalanan pulang, Leo dan Caleb bertengkar. Bukan pertengkarang serius. Ini hanya pertengkaran ala anak-anak, namun membuat saya berpikir, pantas saja Dave berkata: I had enough time with these two boys. LOL. Pertengkaran bocah-bocah ini pasti membuat orang tua mereka kewalahan. Hahaha.

Ketika sudah selesai berjalan-jalan, Dough membeli minuman mineral untuk Leo dan Caleb. Sambil menikmati air mineral, kami menunggu Dave datang menjemput. Saat Dave sudah datang dan anak-anak mulai masuk ke dalam mobil, saya melihat seekor monyet jalan perlahan ingin meraih air mineral milik Dough. Sejurus kemudian, saya mengulurkan tangan, mengambil botol minum tersebut. Saya ingin menyelamatkan botol minum itu karena saya tidak ingin Leo dan Caleb kehausan karena air minumnya dicuri monyet.

Monyet yang marah meloncat ke tangan saya, mencakar dan menggigitnya.

Novi yang melihat kejadian itu langsung memukul monyet dengan botol air mineral. Tindakannya membuat monyet itu terlepas dari tangan saya dan terjungkal ke belakang. Sukur! Novi, Dave, dan Dough panik melihat luka di tangan saya. Saya pastikan pada mereka kalau kondisi saya baik-baik saja karena lukanya tidak parah.

Ah, apa saya bilang!

Selalu ada cerita dalam setiap perjalanan. Digigit monyet bisa dibilang sebuah pengalaman sial untuk mengakhiri perjalanan di Ubud, Bali. Namun saya lebih suka memaknai-nya sebagai berkat dari tempat suci bernama:  Padangtegal Mandala Wisata Wanara Wana Sacred Monkey Forest Sanctuary.  Berkat dari monyet yang setia menjaga pura suci.

By | 2018-05-28T08:12:05+00:00 March 27th, 2013|Indonesia, Travel|0 Comments

Leave A Comment