Ternyata Eyang Kung-Kung-ku pernah belajar foto. “Kapan, yang?” tanyaku enggak percaya sehabis sungkeman di hari lebaran kemarin.

“Ya jaman dulu. Pas Eyang masih jadi pegawai negri. Walau tidak berprestasi, gini-gini eyang pengalamannya banyak lohh..” jawabnya sambil nyengir sehingga gigi ompongnya kelihatan.

Iya dehh.. percaya!! Tapi kok yo aku sampe gak ngerti gitu loh!!

Menurut eyang, jaman susah dulu, dikantornya ada satu kamera. Apa mereknya, eyang kung-kung lupa. Eyang punya teman yang bisa motret, nah temennya eyang ini yang pertama kali mengenalkan dan mengajari eyang cara memotret.

“Kalo motret benda diam, mudah! Kalo bergerak, seperti kuda yang lewat, itu baru susah!”

Beberapa kali, eyang kung-kung pernah mengundang temannya main ke rumah. Undangan ini bersifat permohonan tolong untuk mendokumentasikan keluarga eyang. Lucunya, yang didokumentasikan bukan hanya keluarga kecil (istri dan anak-anak), tapi juga keluarga besar (tetangga sekampung!)

Sambil membuka-buka album foto hitam-putih miliknya, eyang menjelaskan siapa saja yang ada di gambar. Eyang kungkungku ternyata ganteng loh:D dan eyang utiku, ternyata cantik juga:D mereka pasangan serasi dehh..

Lucunya, pas bagian foto sekampung, kita bisa lihat perbedaan status alias pengkastaan dari alas kaki. Dari pakaian juga sih, tpai dari alas kaki yang paling kelihatan. Mereka yang termasuk orang berada mengenakan sepatu, yang lainnya cekeran. Eyangku termasuk manusia-manusia bersepatu. Hahhaha. Di kampung, Eyangku merupakan satu-satunya orang yang menjadi pegawai negri. Hebat euy..

“Kalau teman eyang datang untuk memotret, orang-orang pasti berdatangan ke rumah. Mereka berpakaian rapih, lalu berdiri berjejeran minta difoto.”

Dari pakaian, kita juga bisa lihat status seseorang. Makanya eyang utiku dn teman-teman perempuanya memilih pake kebaya. Alasannya sih biar kelihatan luwes dn njawani. Dalam kesehariannya, eyang uti tidak selalu berkebaya. Biasanya berpakaian baju terusan dengan lengan dan rok menggelembung. Hanya saat berpergian dan acara khusus saja eyang memakai kebaya. Kesimpulannya, kebaya adalah pakaian paling ‘pantas’ atau sopan untuk perempuan saat itu. Makanya, di hampir semua fotonya, eyang terlihat berkebaya.

Kata eyang uti, sebelum foto, eyang selalu mancak (berdandan!) juga. Bahkan enggak lupa pake parfum. Hhahahaa. Padahal, mana kecium pake parfum apa enggak?!! Namanya juga wong ndeso..he he.

Dengan berdandan dan berpakaian pantas, eyangku sedang membuat sebuah image (pencitraan diri). Semua fotonya terlihat ‘niat’. Anak-anak eyangku, yang berjumlah 6 orang (mamaku, bude, pakde, tante, dan om) semuanya memakai baju seragam -hasil jahitan eyang utiku sendiri- eyang kung-kung pake baju dinas pegawai negrinya dan sepatu hitam, dan eyang utiku tentu saja pake kebaya dengan rambut disanggul dan sampir (selendang kecil) menghiasi bahunya. Kalau diamati, tempat fotonya padahal enggak spesial-spesial amat loh. Hanya di depan pintu, di dekat sumur, di halaman rumah, di teras, atau di lapangan kampung. Tapi kelihatan banget kalau mereka ‘berniat’ foto.

Niatnya memang mendokumentasikan -merekam peristiwa-. Tapi dibalik itu sebetulnya ada niat lain, yaitu untuk menciptakan sebuah image, sebuah profile, akan keberadaan keluarga ini (keluarga yang dipimpin oleh seorang pegawai negri dengan isteri njawani dan anak-anak penurut dengan pakaian kompaknya itu).