Catatan: Temu Budaya, Dari Jalanan Untuk Keistimewaan

Seseorang menyapa saya, lalu kita berkenalan satu sama lain. Belakangan saya baru tahu, dia adalah Hengky, adik Alex, salah seorang teman saya. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, saya rasa Hengky mengalami banyak perubahan. Kalu bukan karena Alex yang kembali mengingatkan, rasanya sulit untuk mengenalinya lagi (haha, how stupid I was). Hmm, mungkin lebih tepatnya Hengky is growing up, tumbuh menjadi berbeda. Dia pun mengatakan hal yang sama. Beberapa kali dia mengamati saya sambil berkata, “Kamu kelihatan beda.” Yes, of course I do, kata saya dalam hati.

Saya kenal Alex, kemudian Henky, sudah sejak beberapa tahun lalu. Selain Hengky, Alex juga memiliki seorang adik laki-laki bernama Robert, dan seorang kakak laki-laki bernama Hendri. Mereka adalah musisi jalanan yang suka “ngamen” di sekitar Alun-alun Kidul (Alkid).

Penasaran, saya bertanya pada Alex: “Kamu nggak ke Alkid lagi, Lex?” Alex menjawab, “Udah jarang, Alkid rame banget sekarang. Pusing lihatnya.” Alex kemudian bercerita tentang bisnis yang sekarang sedang dia jalani. “Bisnis play-station dan sepeda tandem,” katanya. Saya selalu kagum setiap bertemu Alex. Saya pun merasa nyaman berada di antara saudara-saudaranya yang lain. Walaupun hingga saat ini musisi dan anak jalanan masih sering dianggap sebelah mata oleh kebanyakan orang Indonesia, namun nyatanya, bukan hal itu yang saya rasakan ketika bersama Alex dan saudara-saudaranya. Mereka, sama seperti kita, punya cita-cita dan terus berusaha. Keberadaan Alkid Musicmen, band yang terdiri dari Alex, Hengky, Robert, dan salah seorang temannya, adalah bukti keberadaan dan kerjakeras mereka.

Alkid Musicmen, (Alex yang pake topi :D)

Temu Budaya

Sehari sebelumnya, saya dihubungi oleh Mas Gama, salah seorang teman yang bekerja di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) DIY, sebuah LSM yang banyak bekerja bersama orang-orang yang dimarjinalkan, seperti anak dan remaja jalanan, LGBT, Pekerja Seksual, dll. Mas Gama memberitahu saya bahwa akan ada pentas komunitas jalanan di halaman gedung DPRD Yogyakarta. Pentas bertajuk “Temu Budaya, Dari Jalanan Untuk Keistimewaan” diadakan pada hari Minggu, 24 Februari, 2013. Acara ini bertujuan untuk menampilkan potensi besar di balik anggapan “penyakit masyarakat” yang menempel pada mereka.

Sambil membawa kamera, saya berangkat ke sana. Sempat bertanya, apakah saya akan bertemu dengan Alex? Sudah lama sekali saya tidak tahu kabarnya, mungkin 2 atau 3 tahun belakangan ini saya tak pernah bertemu dengannya. Sempat pesimis juga karena saya tahu Alex adalah orang yang lumayan sibuk (Alex sering kerja di luar daerah). Tapi toh ternyata, tanpa disangka-sangka langkah kaki ini membawa saya berjuma dengan Alex. Bersama Alkid Musicmen, Alex dkk turut memeriahkan acara. Mereka tampil membawakan 6 lagu, diantaranya: “Jogjakarta”, “Darah Juang”, “Bongkar (Iwan Fals)”, “Hey Cantik (Shaggy Dog)”, “Bebas Merdeka”, dan satu lagu ciptaan mereka sendiri berjudul “Semua Belum Berakhir’.

Semangat Alex sebagai musisi jalanan, mungkin sama seperti semangat anggota komunitas jalanan lainnya yang hadir pada acara malam itu. Mereka menyuarakan untuk STOP terhadap diskriminasi dan stigma kepada komunitas jalanan. Sama seperti kita, masyarakat umum yang memiliki kesempatan untuk sekolah dan bekerja, yang mereka lakukan di jalanan juga untuk mempertahankan kehidupan.

Dalam sebuah sesi, Mas Agus, salah seorang yang hadir dari komunitas jalanan, menuturkan bahwa sebagai orang yang hidup di jalanan, dia dan kawan-kawang sering diperlakukan sewenang-wenang. Mereka sering ditangkap dan dipukul oleh Satpol PP. Kata Mas Agus dari kursi rodanya, tak ada orang yang terlahir ingin jadi pengamen atau pengemis, karena itulah seharusnya tidak ada lagi diskriminasi terhadap komunitas jalanan.

Malam itu, usai pemabacaan orasi, hujan deras mengguyur kota Yogyakarta. Saya pamit pulang duluan, berjalan di antara rintik hujan, melewati jalanan-jalanan yang basah dan berlubang. Di tengah dinginnya malam, tentu ada harapan agar perjuangan komunitas jalanan bisa membuahkan hasil. Sebuah perjuangan yang terasa masih panjang, namun bukan berarti tak mungkin dikabulkan.

Best, Denty.

By | 2018-05-28T08:12:06+00:00 March 1st, 2013|Travel|3 Comments

3 Comments

  1. gingerbreadandtea March 8, 2013 at 6:32 pm - Reply

    yang nganter anak pkbi tuh.. ak sih cuma ngikut doang 😛

  2. rambutkriwil March 8, 2013 at 6:32 pm - Reply

    eeeee pleaseee yaaa…. siapa tuh yg nganterin jordan ke terminal? cuwitt cuwwittt mesra beneeerr :p

  3. gingerbreadandtea March 8, 2013 at 6:32 pm - Reply

    yang kayak gini nih demenannya jordan.. jadi inget ke terminal jombor trus ngobrol2 sama anjal sana.. trus nyanyi2 bareng.. trus si jordan ngamen di bis.. *tepok jidat* emang km cocok den sama jordan..jodoh..

Leave A Comment