Kangkung-kangkung Liar

Indramayu masih pagi saat saya menelusuri perkampungan di sana, hari itu. Pintu sebagian rumah penduduk masih terkunci dan rumput-rumput pun masih basah sisa gerimis semalam. Kawan saya menyapa seorang ibu yang tengah mencabuti kangkung (baca: awalnya saya kira rumput liar) yang tumbuh di sela-sela tanaman mentimun.

“Loh, kok dibawa pulang bu? Kenapa tidak dibuang?” tanya saya heran.

“Ini untuk dimasak, mbak.” jawab si ibu sambil menunjukan segenggam kangkung petikannya.
“Emang sehari-hari ibu masak kangkung-kangkung liar itu ya?” tanya saya lagi ingin tahu.
Ibu itu menggeleng sambil tersenyum, “Tidak juga, paling kalau sedang tidak punya uang untuk belanja saja. Apa-apa bisa dimakan.”

Sesampainya di rumah, anak kedua dan ketiga si ibu langsung bergelayut manja di pelukannya. “Anak saya ada 4 saya merawat mereka sendirian. Bapak anak-anak sudah tidak ada.”

Nyess. Satu lagi sentuhan kecil mengetuk hati saya. Apapun yang kita miliki memang patut disyukuri dan dicintai sebagaimana mestinya.

By | 2018-05-28T08:12:06+00:00 February 27th, 2013|Travel|1 Comment

One Comment

  1. agustinriosteris October 10, 2013 at 6:56 am - Reply

    okey, akhirnya gw baca pengalaman favorit lu 🙂

Leave A Comment