Kaki-Kaki Buntung Tak Bertuan

Lihatlah, lihat: kaki-kaki berserakan di jalan-jalan. Tanpa badan, tanpa kepala. Lihatlah, lihat: kaki-kaki berkejaran di jalan-jalan. Menghindari hujan, menghindari basah dan kuyup.

Kaki saya berjalan lunglai. Menerabas keramaian lampu merah, bergelinding di tengah aspal yang sedang hiruk pikuk dengan jam kerja yang hampir usai.

Di pojokan sana, tukang bakso ramai dengan kaki-kaki kelaparan. Di pojok satunya lagi, tukang seragam laris manis dengan kaki para ibu yang melangkah berat beriringan dengan rengek kaki anak menghendaki baju baru untuk tahun ajaran baru.

Saya tetap berjalan, tanpa badan, tanpa kepala.

Kalau-pun saya punya badan, mungkin tubuh saya kini sama lunglainya dengan kaki. Merunduk rendah-rendah, serendah-rendahnya hingga saya bisa cium lutut saya yang berbunyi kopong dengan perut kosong. Kalau-pun saya punya kepala, mungkin kepala saya kini sedang bergoyang-goyang oleng seperti daun-daun kelapa nyinyir di tepi pantail.

Untunglah untung, tak ada badan, tak ada kepala. Setidaknya hanya kaki yang lunglai, itupun cukup. Janganlah lagi ada derita selain di kedua belah kaki yang berjalan tertatih, bertasbih, setiap pagi -dan (kadang!) bertambah sedih di sore hari.

Hari semakin gelap ketika saya sampai di gang kecil dekat pekarangan. Lampu kuning di ujung sana sudah menyala menandakan kewaspadaan. Siapa saja bisa tewas di gang ini. Anak-anak hingga tua renta. Tertabrak jeruji kereta ataupun pembunuhan berencana. Gang ini selalu ramai di pagi hari, saat semua-semua-nya mengejar matahari dan berangsur sepi saat gelap mulai sergap. Waspadalah, siapa saja bisa renggut kaki anda, juga nyawa anda.

Kaki lunglai saya menginjak kerikil, ini masih bagus. Kadang malah paku atau beling. Kadang berdarah-darah karena tak pernah saya berkenalan dengan sandal, sepatu, ataupun sepatu sandal. Cukuplah saya menyeker seperti kaki-kaki ayam yang kepalanya selalu terpenggal di tukang jagal dekat pasar.

Saya buka pekarangan saya. Hanya ini yang saya dapat hasil menjumpai mereka dalam ruang-ruang kelas. Hasilnya tak seberapa, tak perlulah dibandingkan dengan pengabdian berpuluhan tahun kerja. Toh mereka, istri dan anak-anak saya tak pernah menuntut lebih. Berapa beruntungnya saya!

Kaki istri saya menyapa kedatangan saya dengan menyodorkan segelas teh jahe.

Saya hirup aroma-nya. Aroma teh jahe… Aroma istri saya.. dan Ah, aroma anak-anak saya…

Berangsur-angsur saya rasakan kelopak-kelopak tubuh menyatu di atas kaki saya. Paha, pinggul, pinggang, dada, dan terakhir kepala. Saya mulai mendengar suara-suara. Sapaan renyah anak-anak, juga istri saya. Saya mulai mengecap, sejumput teh di ujung lidah saya, teh yang sama seperti yang saya hirup tadi. Lalu secara perlahan, kedua mata saya terbelah terbuka.

IniLah yang saya jumpai: keluarga saya yang utuh. Istri dengan senyum mengembang, juga anak-anak dengan tawa panjang. Yang saya temui di sini bukan kaki-kaki buntung tak bertuan -tanpa badan, tanpa kepala- yang terus-terusan berdetak-detak di jalan-jalan raya sepanjang hari ada.
“Thanks God, untuk hari ini!” kata saya sebelum terlelap.

DPN, 2010

By | 2018-05-28T08:12:06+00:00 February 26th, 2013|Travel|0 Comments

Leave A Comment